Dunia di Tanganku

8 01 2011

Zuhud Terhadap Dunia dan Kehinaannya

I.  Pendahuluan

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, Robb yang telah memberikan nikmat-nikmat yang agung kepada umatnya yang dikasihi-Nya. Di antara nikmat itu adalah diutusnya Muhamad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Nabi dan Rosul yang terakhir sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan bersamanya pula ia membawa agama islam yang sempurna. Tidak ada satu celah/sisi dalam kehidupan ini, yang bisa menghantarkan  manusia sampai kepada Robbnya Yang Maha Perkasa kecuali telah beliau sampaikan, tunjukkan dan jelaskan dengan sejelas-jelasnya kepada umatnya.

Allah Ta’ala berfirman :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.(المائدة :3)

Imam Malik Rohimahulloh berkata[1] :

[ ومن أحدث في هذه الأمة شيئاً لم يكن عليه سلفها فقد زعم أن رسول الله( خان الدين لأن الله تعالى يقول :

( الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ ) فما لم يكن يومئذ ديناً لا يكون اليوم ديناً] .

ولأن الله سبحانه وتعالى أخبر بأن الشريعة قد كملت قبل وفاة النبي ( فلا يتصور أن يجيء إنسان ويخترع فيها شيئاً لأن الزيادة عليها تعتبر استدراكاً على الله سبحانه وتعالى وتوحي بأن الشريعة ناقصة وهذا يخالف ما جاء في كتاب الله .

Dari firman Allah dan penegasan imam Malik di atas kita dapat mengambil suatu faedah berkaitan makalah kita ini, bahwa pembahasan tentang zuhud  yang itu merupakan termasuk ibadah dalam islam, pasti telah diajarkan dan dicontohkan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umatnya dengan sempurna.

II.  Anjuran -Anjuran Zuhud

v  Dari Ayat-Ayat Al-Qur an :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ. .(لقمان :33)

يأيها الناس إن وعد الله حق فلا تغرنكم الحَيوة الدنيا ولا يغرنكم بالله الغرورُ.الفاطر: 5)

v  Dari Hadist-Hadist Nabawiyah :

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ ُحِبُّوكَ.[2]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ.[3]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :إن مما أخاف عليكم من بعدي ما يُفْتحُ عليكم من زَهرَةِ الدنيا و زينتها.[4]

  1. Kehinaan Dunia

v  Dari Ayat-Ayat Al-Qur an :

  1. I.            زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآَبِ. .(آل عمران :14)

وما هذه الحَيَوةُ الدنيا إلا لهوولعبٌ وإن الدار الأخرةَ لَهِى الحيوان لو كانُوا يعلمون.العنكبوت: 64)

v  Dari Hadist-Hadist Nabawiyah :

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَاللَّهِ مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هَذِهِ

وَأَشَارَ يَحْيَى بِالسَّبَّابَةِ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِعُ.[5]

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :لَوْ كَانَتْ الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللَّهِ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ.[6]

  1. Permasalahan Tentang Zuhud
    1. i.      Pandangan Manusia Tentang Zuhud

Dalam pengertian banyak orang, zuhud adalah menghindari hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka tidak mengerti, mana perkara-perkara duniawi yang tercela, yang harus ditinggalkan, dan mana yang boleh didekati. Sehingga iblis berkesempatan mempermainkan mereka. Lahirlah anggapan bahwa seseorang tidak akan selamat akhiratnya, kecuali jika meninggalkan dunia seisinya. Kalau perlu menyendiri di suatu tempat terpencil, khusus untuk melakukan peribadatan kepada Allah. Meskipun dengan meninggalkan keluarga, orang tua dan bahkan sholat berjama’ah serta sholat jum’at. Sebagian orang menganggap, inilah zuhud yang hakiki. Persepsi semacam ini muncul lantaran kedangkalan terhadap agama.

Orang awam yang jenuh dengan gemerlap dunia, atau muak melihat kepalsuan serta tipu muslihat dunia dan ingin mendapatkan ketentraman rohani, mungkin akan mudah terperangkap dalam pengertian zuhud di atas. Ia akan lahap untuk mendengarkan secara salah ayat-ayat, hadis-hadis serta ceramah-ceramah yang berisi celaan terhadap dunia. Asal berbau dunia semuanya buruk dan negatif. Akhirnya akan berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan dunia, meninggalkan pekerjaan dan bermalas malasan dengan dalih ibadah.[7]

Di pihak yang lain ada sebagian orang yang beranggapan bahwa zuhud sangat sulit dan menyusahkan  atau malah tidak akan bisa diamalkan pada zaman yang serba modern ini. Karena manusia pasti akan sangat memerlukan dunia di dalam setiap sisi-sisi kehidupannya, dan tidak mungkin baginya  untuk mampu berlepas diri dari dunia itu.

 

 

 

 

 

  1. ii.         Sikap – sikap Radikalisme Dalam Menyikapi Dunia Yang Tidak Sesuai Sunnah Rosululloh[8]

Dalam pembahasan ini tidak semua penyimpangan dalam perkara zuhud kami bahas karena terbatasnya ilmu dan tempat, melainkan kami cukupkan pada 3 hal yang kami pandang perlu untuk disebutkan secara ringkas di sini. Yaitu, penyucian jiwa dan penyiksaan diri, penyucian jiwa dan zuhud, penyucian jiwa dan mengasingkan diri, serta penyucian jiwa dan kerahiban.

Pertama, penyucian jiwa dan penyiksaan diri. Di antaranya adalah kata-kata Sya’rani saat membahas sebagian guru sufi yang selalu melakukan mujahadah,”Aku mengarungi kehidupan dengan memaksakan kesulitan pada permulaanku. Tidak kutinggalkan satu kesusahan kecuali kutunggangi. Pakaianku adalah jubah bulu domba. Kain kumal ada di kepalaku. Aku berjalan telanjang kaki di atas duri dan sejenisnya. Makananku sayur-sayuran kering dan lembaran kubis dari tepian sungai. Berkali-kali aku berpura-pura bisu dan gila supaya manusia menjauh dariku, agar mereka tidak menyibukkanku dari Robbku.”

Kedua, penyucian jiwa dan zuhud. Sebagian orang berkeyakinan bahwa dunia dunia dan akhirat akan selalu bermusuhan selamanya. Mengusahakan salah satunya berarti menyia-nyiakan yang satunya lagi. Maka siapa yang menghendaki akhirat harus mengabaikan dunianya. Dan dasar-dasar penyucian jiwa adalah kemiskinan, kelaparan, dan hidup sengsara. Sya’rani mengatakan bahwa seseorang yang benar-benar ingin menyucikan jwanya dengan zuhud terhadap dunia, dia harus bangga dengan kemiskinan jika menghadapinya.

Sikap-sikap radikal dalam memandang dunia terutama mengenai harta pada sebagian orang juga sangat berlebihan. Seperti perkataan mereka,”Barangsiapa mencari rizki, ia telah condong kepada dunia.” Mereka juga berkata,”Janganlah engkau sibuk dengan rezeki yang dijamin oleh kerja yang diperintahkan,namun sibuklah dengan sesuatu yang kelak engkau akan dimintai pertnggungjawaban tentang sesuatu tersebut. Tinggalkan berlebih-lebihan karena kelak perhitungannya amat lama.”

Ketiga, penyucian jiwa dan mengasingkan diri. Ibnul Jauzi berkata,”Orang awam terkadang mendengar celaan terhadap dunia dalam Al Qur an dan hadist-hadist lalu dia berpendapat bahwa untuk memperoleh keselamatan ialah dengan meninggalkan dunia.Dia tidak masalah duniawi yang tercela. Kemudian iblis membisikkan kepadanya,”Engkau tidak akan selamat di akhirat kecuali dengan meninggalkan dunia.” Maka ia pun mengasingkan diri ke gunung-gunung, menjauhi sholat jum’at, sholat jama’ah majlis ilmu. Dan ia akhirnya malah menjadi seperti binatang liar. Ia berkhayal bahwa inilah zuhud yang sebenar-benarnya. Bagaimana tidak ia telah mendengar si fulan yang berkelana dan si fulan lain yang beribadah di gunung.

Keempat, penyucian jiwa dan kerahiban. Kerahiban adalah berlebihan dalam ibadah, memutuskan hubungan denngan manusia dan meninggalkan dunia berikut kelezatannya, berupa istri dan lainnya. Sebagian orang sufi berkata,” Barang siapa menikah, maka dia telah memasukkan dunia ke dalam rumahnya, … maka waspadalah dari pernikahan!” Diantara mereka mengatakan bahwa untuk mencapai derajat siddiqiin ia harus meningglkan istrinya dan anak-anaknya seolah-olah mereka itu janda dan yatim.

Itulah gambaran sekilas penyimpangan-penyimpangan yang keluar dari sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam usaha penyucian jiwa dengan meninggalkan dunia secara salah.Berikutnya akan kita bahas secara ringkas pula tentang zuhud yang benar sesuai petunjuk Rosullullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  1. Makna Zuhud

Sebenarnya apa dan bagaimana zuhud itu ?

v  Zuhud secara bahasa memiliki banyak arti di antaranya[9] :

  • Zuhud adalah lawan dari ingin/suka/gemar.
  • Zuhud berarti remeh/hina.
  • Zuhud berarti menunjukkan sesuatu yang sedikit.
  • Zuhud terhadap sesuatu perkara artinya benci/enggan dengan perkara itu.

v  Zuhud menurut istilah , yaitu[10]:

  • Berpalingnya keinginan terhadap sesuatu kepada sesuatu yang lebih baik darinya.

v  Perkataan – Perkataan Ahli Ilmu Tentang Zuhud[11] :

  • Ibnu Taimiyah mengatakan :”Zuhud yang disyariatkan adalah meninggalkan keinginan terhadap sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat, yaitu berlebih-lebihan dalam sesuatu yang mubah.
  • Ibnu Jala’ berkata :”Zuhud adalah melihat dunia dengan pandangan yang fana, maka anggaplah ia kecil di matamu, sehingga engkau akan mudah meninggalkannya.
  • Al-Junaid berkata :”Zuhud adalah kosongnya hati terhadap apa yang ada di tangan.
  • Imam Ahmad berkata :”Zuhud adalah kosongnya hati dari dunia. Bukan kosongnya tangan dari dunia.”
  • Sufyan Tsauri mengatakan :”Zuhud terhadap dunia adalah pendek angan-angan, bukan dengan makan makanan keras dan bukan memakai jubah.”
  • Abdul Wahid bin Zaid berkata :”Zuhud yaitu zuhud terhadap dinar dan dirham.
  1. Tingkatan – Tingkatan Zuhud[12]

Ada 3 tingkatan dalam zuhud, yaitu:

1)      Seseorang yang zuhud terhadap dunia tetapi sebenarnya ia menginginkannya. Hatinya condong kepadanya. Jiwanya masih berhasrat terhadapnya.Namun ia berusaha, bermujahadah untuk mencegahnya. Inilah seorang mutazahhid(orang yang berusaha zuhud)

2)      Seseorang meninggalkan dunia dalam rangka taat kepada Allah karena ia mlihatnya sebagai sesuatu yang hina, jika dibandingkan dengan apa yang hendak dicapainya. Ia sadar mengetahui kezuhudannya itu. Keadaannya seperti orang yang meninggalkan sekeping dirham untuk mendapatkan dua dirham.

3)      Seseorang yang zuhud terhadap dunia dalam rangka taat kepada Allah dan dia berzuhud dalam kezuhudannya. Artinya ia melihat dirinya tidak meninggalkansesuatupun. Keadaannya seperti orang yang membuang sampah, lalu mengambil mutiara.perumpamaan lainnya, seperti seseorang yang ingin memasuki istana raja tetapi dihadang oleh seekor anjing di depan pintu gerbang. Lalu ia melemparkan sepotong roti untuk mengelabui anjing itu, akhirnya ia pun bisa masuk menghadap sang raja.

 

 

  1. Sikap Zuhud Yang Sesuai Syar’i

Setelah kami menyebutkan model-moel zuhud yang menyimpang dari syariat, maka kami akan menjelaskan sedikit tentang sikap zuhud yang sesuai dengan pengamalan dan pemahaman salafus sholih.

  1. Keseimbangan Antara Akhirat dan Dunia

Ada sebuah ayat Al Quran yang bias menjadi landasan berpijak kita dalam memahami bagaimana kita menyikapi dunia dan akhirat secara benar.Apakah benar pandangan yang mengatakan bahwa kita harus menyeimbangkan dunia dan akhirat ? Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآَخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ. القصص : 77)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas dengan perkataannya,”Gunakan semua yang telah Allah anugerahkan kepadamu yang berupa hrta yang mulia dan nikmat yang besar. Dalam rangka untuk melakukan ketaatan dan bertaqorrub kepada Robbmu dengan bermacam-macam amal-amal sholih yang bisa membawamu mendapatkan pahala di akhirat. Namun janganlah kamu melupakan hak-hakmu dalam kehidupanmu di dunia dari perkara-perkara yang dihalalkan Allah. Seperti, makan, minum, pakaian, tempat tinggal dan menikah. Karena Allah punya hak, dirimu pun memiliki hak, ahli keluargamu juga memiliki hak dan istrimu memiliki hak, oleh sebab itu berikan setip mereka yang memiliki hak itu haknya dengan tepat.[13]

Syeikh as-Sa’di berkata,” Engkau telah memperoleh sarana yang dapat membawamu menuju akhirat,yang orang lain selain dirimu tidak memiliki harta sebagaimana dirimu. Maka carilah akhirat dengan hartamu, bersedekahlah dan janganlah engkau terlena hanya untuk mengikuti syahwat dan kelezatan dunia semata. Allah tidak memerintakan agar dirimu menyedekahkan semua harta milikmu, sehingga engkau menjadi faqir dan miskin. Tetapi belanjakan hartamu itu untuk kepentingan akhiratmu, serta bersenang-senanglah dalam urusan kehidupan duniamu, namun jangan sampai merugikan dan menyengsarakan kehidupan akhiratmu nanti.[14]

Dari penjelasan kedua ahli tafsir di atas bisa kita simpulkan :

  1. Perintah Allah agar kita agar lebih mengutamakan kehidupan akhirat.
  2. Perintah Allah supaya kita berusaha mencari rizki di dunia.
  3. Menggunakan rizki yang sudah diperoleh untuk mencari kebahagiaan di akhirat.
  4. Dalam menjalani kehidupan, Allah tidak menyuruh agar kita seimbang antara kepentingan dunia dan akhirat. Misal, kita menyediakan waktu 12 jam untuk dunia dan 12 jam untuk  akhirat. Karena usaha untuk mencari kebahagiaan di negeri akhirat harus lebih diutamakan, sambil tetap mencari rizki di dunia sebagai sarana menuju ke sana.

Jadi tidak mungkin dalam satu hati bersemayam di dalamnya cinta dunia dan cinta kepada Allah, ini ibarat air dan udara di dalam kuali. Jika air dimasukkan ke dalamnya, maka udara akan keluar. Keduanya tidak akan berkumpul.[15]

 

 

 

  1. Sikap Para Anbiya’ dan Para Sahabat Dalam Menyikapi Zuhud Terhadap Dunia

Nabi Sulaiman dan Daud adalah orang-orang yang paling zuhud di zamannya, bersamaan itu pula mereka juga memiliki harta kekayaan, kerajaan dan para wanita. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling zuhud dari seluruh manusia yang ada, namun ia memiliki 9 istri. Ali bin Abi Tholib, Abdur Rohman Auf, Zubair dan Utsman adalah termasuk para ahli zuhud, tetapi harta kekayaan pun ada di tangan mereka. Dan juga Hasan bin Ali juga termasuk seorang ahli zuhud, padahal beliau adalah orang yang kaya dan sangat mencintai wanita serta orang yang sering menikah.

Salah satu penjelasan terbaik tentang makna zuhud, yaitu sebagaimana perkataan Hasan al Basri,”Bukanlah zuhud di dunia itu dengan mengharamkan perkara yang halal dan menyia-nyiakan harta. Tetapi engkau merasa lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah dibanding apa yang ada di tanganmu dan engkau lebih suka mengharap pahala dari musibah yang menimpamu sekiranya ia tetap terjadi.”[16]

  1. Pujian Terhadap Harta[17]

Harta ibarat ular yang didalam tubuhnya ada racun dan obat penawar. Obat penawarnya bermanfaat dan sengatannya ada racun. Siapa yang tahu manfaat dan sengatannya, memungkinkan baginya mewaspadai keburukannya, namun dia juga tahu kebaikannya.

Manfaat harta ada 2 bagian :

  1. Manfaat keduniaan

Tentang manfaat keduniaan, semua orang tentu sudah tahu, dan karenanya banyak orang yang binasa.

  1. Manfaat agama

Ada 3 macam, yaitu :

  1. Membelanjakan harta untuk kepentingan dirinya, seperti untuk haji,jihad, untuk menunjang dalam pelaksanaan ibadah, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal dll dari kebutuhan sehari-hari. Sebab bila hal itu tidak terpenuhi, maka hati tidak akan tenang dalam menjalankan ibadah.
  2. Memberikan harta kepada orang lain. Seperti sedekah,muru;ah[18], wiqoyah[19], sebagai upah yang dikeluarkan kepada orang lain karena dia memanfaatkan tenaganya.
  3. Harta yang dibelanjakan seseorang untuk sarana-sarana penunjang, seperti membangun masjid dan jembatan, bila hal itu diniatkan untuk kepentingan agama.
  4. Golongan Manusia Dalam Menyikapi Harta[20]
    1. Golongan orang yang berlebih-lebihan dalam memanfaatkan harta dan golongan orang yang terlalu kurang dalam menggunakan harta

Sikap berlebih-lebihan adalah ia melupakan yang lebih penting lantaran memperturutkan nafsu, mencari yang tidak penting.Sedangkan sikap terlalu kurang ialah ia tidak mau menafkahkan harta pada yang mesti atau mengurangi dari yang perlu.

 

  1. Golongan orang yang menjauhi sama sekali harta

Sikap ini sangat berlawanan dengan sikap yang dimiliki oleh  golongan yang pertama.I berpalin dari dunia dan harta sama sekali, tidak peduli bahkan benci. Mereka melupakan harta, karena mereka hanya mengingat semata-mata tujuan saja, yaitu amal ibadat untuk Allah, untuk kehidupan akhirat, lain tidak.

  1. Golongan yang bersikap pertengahan

Mereka adalah orang-orang yang membayar hak dunia dan akhirat. Diambilnya harta dunia sepuas-puasnya, berapun ia mendapatkannya, lalu ia gunakan untuk menyokong amalnya menuju akhirat. Karena ia berkeyakinan bahwa amal ibadat tidaklah hanya dengan bertafakur saja, tetapi juga dengan membantu dan menolong sesama hamba Allah, mendirikan masjid dan madrasah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dunia dan akhirat. Semuanya tidak akan tercapai tanpa dengan harta. Golongan inilah golongan yang sah dan terpuji.

Dan inilah model zuhud yang dicontohkan oleh Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallamdan para salafus sholih.

  1. Tanda – tanda Zuhud[21]

Ada anggapan bahwa siapa yang meninggalkan harta adalah orang zuhud.Padahal tidak begitu sebenarnya. Meninggalkan harta dan menampakkan kemelaratan, terlalu mudah dilakukan orang yang ingin dipuji sebagai orang zuhud. Berapa banyak pendeta yang berkutat didalam biara dan makan sedikit, yang ternyata mereka hanya ingin dipuji-puji.

Zuhud harus menghindari harta dan kedudukan secara bersama-sama, agar zuhud bisa menjadi sempurna di dalam jiwa. Untuk mengetahui ciri zuhud yang pertama adalah bentuknya. Ibnul Mubarok berkata,”Zuhud yang paling utama ialah menyembunyikan zuhud.”

  1. Hal-Hal Yang Dapat Meluruskan Zuhud[22]

Dalam masalah zuhud terhadap dunia,Ibnu Qoyyim memaparkan zuhud dapat diluruskan dengan 3 hal, yaitu :

Pertama, seseorang mengerti bahwa dunia ini hanya bayangan dan khayalan yang akan berlalu. Dunia hanyalah sebagaimana firman Allah Ta’ala :

اعلموا أنما الحياة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر في الأموال والأولاد كمثل غيث أعجب الكفار نباته ثم يهيج فتراه مصفرا ثم يكون حطاما.(الحديد :20)

Dan dalam firman-firman-Nya yang lain  Allah menamakan kehidupan dunia sebagai kesenangan yang menipu. Allah melarang kita agar tidak tertipu dengan dunia, dan Dia menceritakan akibat yang jelek bagi orang-orang yang tertipu, serta Allah juga memperingatkan kita tentang kebinasaan mereka.

Kedua, Seorang hamba juga harus mengetahui bahwa di setelah dunia ada negeri yang lebih agung dan mulia kedudukannya. Itulah negeri yang abadi. Sedangkan perbandingannya seperti dalam sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam :

ما الدنيا في الآخرة إلا كما يجعل أحدكم إصبعه في اليم فلينظر بم يرجع.[23]

Ketiga, pemahamannya bahwa sikap zuhud dia kepada dunia tidak akan menghalanginya untuk memperoleh dunia yang telah ditakdirkan baginya. Dan semangatnya untuk mendapatkan dunia tidak menyebabkan ia mampu meraihnya, apabila hal itu tidak ditakdirkan untuknya.

X.  Hubungan Perilaku Zuhud Dengan Tazkiyatun Nufus

Setelah panjang lebar kami uraikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan zuhud, sekarang saatnya kita membahas apa sebenarnya kaitan antara zuhud dengan tazkiyatun nufus.

DR. Anas Ahmad Karzon menjelaskan dalam kitabnya bahwa di hati manusia terdapat penyakit-penyakit jiwa yang merusak penyucian jiwa, atau dengan kata lain jiwa tidak akan bersih  dengan sempurna sebelum penyakit-penyakit yang menghinggapi hati tersebut disembuhkan terlebih dahulu. Di antara penyakit-penyakit itu yaitu, syahwat cinta diri dan kedudukan, syahwat cinta harta, syahwat perut, syahwat kemaluan.

Sedangkan orang yang ingin berusaha untuk menyucikan hatinya ia harus menempuh jalan zuhud yang sebenarnya seperti zuhudnya para anbiya’ dan salafus sholih. Bila ingin apa yang menjadi cita-citanya tercapai.

 

  1. Aplikasi Zuhud Pada Zaman Sekarang

Seorang muslim yang ingin mencapai penyucian jiwa yang sempurna dia mau tidak mau harus mengikuti jalan yang telah diajarkan Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Sedangkan di antara jalan-jalan itu adalah dengan zuhud terhadap nafsu-nafsu keduniaan. Tetapi zuhud di sini haruslah zuhud yang syar’i bukan zuhud yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pemahaman menyimpang dari tuntunan islam.

Zuhud bisa kita aplikasikan dalam kehidupan kita dengan usaha yang sungguh-sungguh, tanpa harus meninggalkan kepentingan dunia secara total. Seperti,berlebih-lebihan dalam hal menyiksa diri dengan meninggalkan makan berhari-hari,tidak mencari rizki dengan bekerja,uzlah dan menyepi di tempat-tempat yang jauh dari manusia, meninggalkan pernikahan, meninggalkan sholat jama’ah dan jum’at, menghinakan dirinya dengan sengaja di hadapan masyarakat serta sikap-sikap berlebih-lebihan lainnya dalam memahami dunia.

Jadi misalnya, seorang pegawai negeri, karyawan pabrik atau pedagang bisa mengaplikasikan zuhud dalam kesehariannya dengan terus melakukan aktivitasnya, tanpa harus dia meninggalkan pekerjaan, harta dan keluarganya.Seorang pegawai negeri, bisa memulai berzuhud dari hal kecil di dalam pekerjaannya untuk tidak menerima pemberian uang yang tidak jelas dari mana sumbernya. Seorang karyawan pabrik merasa ridho dengan kemiskinan yang ia alami sambil terus bertawakal kepada Allah, sebab menyadari dengan benar bahwa dunia ini hanyalah kenikmatan yang sementara, sedangkan akhiratlah negeri abadi yang harus menjadi cita-cita hidupnya yang sejati.Seorang pedagang selalu melaksanakan ibadah tepat pada waktunya,misalnya sholat. Tanpa sedikitpun merasa telah rugi besar, sebab waktunya yang seharusnya bisa ia manfaatkan untuk berdagang dan melayani pembeli untuk meraih keuntungan yang banyak, ia pakai untuk sholat.

Bahkan setiap muslim bisa mengaplikasikan zuhud dalam kesehariannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qoyyim, bahwa zuhud wajib bagi setiap orang muslim. Yaitu bersikap zuhud dalam perkara yang haram, dengan meninggalkannya.[24]

Demikianlah sebagian contoh pengamalan zuhud di dalam kehidupan manusia zaman sekarang. Kuncinya adalah bila seseorang yang ingin berusaha sungguh-sungguh menyucikan jiwanya dengan zuhud,ia harus memiliki ilmu dan pengetahuan yang benar tentang zuhud. Jika hal itu sudah ada pada dirinya, niscaya jalan yang akan ia tempuh akan lebih mudah, karena zuhud yang ia akan lakukan mempunyai pijakan yang kokoh dalam agama.

  1. Kesimpulan

1)    Agama islam adalah suatu agama yang sudah paripurna. Sempurna dari segala sisi bidang kehidupan dunia dan akhirat manusia.

2)    Zuhud yang sesuai syar’i sebagai salah satu bentuk ibadah kepada Allah Ta’ala telah dicontohkan oleh Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabatnya.

3)    Allah dan Rosul-Nya sangat menekankan kepada umatnya agar mempunyai sikap zuhud kepada dunia dalam menjalani kehidupannya.

4)    Dunia adalah suatu negeri yang fana, rendah dan hina dalam pandangan Allah dan Rosul-nya. Dan akhiratlah negeri agung, mulia dan abadi.

5)    Pentingnya seseorang memiliki ilmu dalam melakukan segala amal ibadah, agar tidak terjebak dan terjerumus pada pengamalan-pengamalan ibadah yang menurutnya benar, tetapi syari’at memandangnya sebagai suatu penyimpangan yang besar. Karena tazkiyatun nafs merupakan salah satu dakwah Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.[25] Allah berfirman :

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ.(البقرة : 151 )

6)    Makna zuhud terhadap dunia yang benar bukanlah meninggalkan dan mengosongkan dari dunia secara total. Tetapi zuhud adalah menjadikan hati kosong secara total dari hal-hal keduniaan. Dan tidak menjadikan dunia bercokol dalam hatinya, meskipun harta kekayaan berada di tangannya.Bukanlah zuhud itu mengosongkan tangan dari dunia, sedangkan ia bersemayam dalam hati.[26]

7)    Manusia terbagi menjadi 3 golongan dalam menyikapi harta kekayaan.

8)    Tanda zuhud yang paling utama adalah menyembunyikan zuhud.

9)    Zuhud adalah salah satu jalan yang harus ditempuh seseorang ketika ia ingin menyucikan jiwanya secara sempurna.

10)Zuhud dapat dicapai dengan mujahadah(sungguh-sungguh). Allah Ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ.(العنكبوت:69)

Syeikh Salim bin Ied al Hilali berkata : “Inilah jihad dalam artian umum di dalam agama Allah dalam mencari keridhaan-Nya, di antaranya adalah jihad an-nufuus(berjuang melawan hawa nafsu) dan berjaga-jaga di wilayah perbatasan agar tidak terjerumus ke dalam perangkap setan dalam keadaan manusia lengah.”[27]

11) Islam adalah suatu agama yang mudah dan tidak menyusahkan pemeluknya. Maka seorang muslim jika dia benar-benar mau mengaplikasikan zuhud dalam kehidupannya di era modern sekarang, dengan bantuan  Allah niscaya ia tentu bisa melakukannya.

Rosulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنْ الدُّلْجَةِ.[28]

Artinya :” Islam adalah agama yang mudah,Islam pasti akan mengalahkan siapa saja yang bersikap ekstrim dalam beragama, berbuatlah pertengahan dalam beramal, beramallah sesuai dengan kemampuanmu, bergembiralah dengan pahala yang kau peroleh, dan mintalah pertolongan kepada Allah dalam beribadah di awal siang dan akhir malam.

 

 

 

 

 

  1. Daftar Pustaka

Al Hilali, Salim, Tazkiyatun Nufus Para Nabi, Terj. Beni Sarbeni,Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, 2010, Cet. II.

Ashim, Abu,”Zuhud Yang Banyak Disalah Pahami”, Majalah as-Sunnah, Edisi 01/TahunIX/1426 H/2005M.

Dhahir, Ihsan Ilahi, Darah HItam Tasawuf, Jakarta: Darul Falah, 1429 H/2008 M, Cet. V.

Farid, Ahmad,Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu ulama Salaf, Beirut Libanon: Dar al- Qolam.

Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003,Cet. IV.

Jauzi, Ibnul, Talbis Iblis, Maktabah Tsaqofah.

Karzon, Anas Ahmad, Tazkiyatun Nafs, terj. Emil Threeska, Jakarta Timur: Akbarmedia, 2010, Cet. I.

Muslim, Isma’il, “Zuhud Sunni Zuhud Sufi”, Majalah as-Sunnah,  Edisi 01/Tahun IX/1426 H/2005 M.

Qoyyim, Ibnu Madarijus Salikin, Beirut,:Dar al-Jiil, Cet. I.

Qudamah, Ibnu, Minhajul Qoshidin, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar, 2010, Cet. 16.

Taimiyah, Ibnu, Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Darus Sunnah, 2008, Cet. I.

Maktabah Syamilah


[1] Qowaid wa Asas fi as-Sunnah wa al-Bid’ah, hal 2, maktabah syamilah

[2] HR. Ibnu Majah , no. 4092,  dan at-Tabrani, Mu’jamul Kabir, no. 5972, maktabah syamilah

[3] HR. Muslim, no. 5256, maktabah syamilah

[4] HR. Ahmad, no. 111173, maktabah syamilah

[5] HR. Muslim, no. 510,  maktabah syamilah

[6] Hr. at-Tirmidzi, no. 2242 dan Ibnu Majah, no. 4100, maktabah syamilah

[7]Abu Ashim,”Zuhud Yang Banyak Disalah Pahami”, Majalah as-Sunnah, Edisi 01/TahunIX/1426 H/2005M, hal. 19.

 

[8]Ibnul Jauzi, Talbis Iblis, Maktabah Tsaqofah, lihat pula Anas Ahmad Karzon,Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Akbarmedia, 1431 H/2010 M, Cet. I, hal. 303-328, lihat pula: Dhahir, Ihsan Ilahi, Darah HItam Tasawuf, Jakarta: Darul Falah, 1429 H/2008 M, Cet. V, hal. 33-34, dan lihat pula Isma’il Muslim, “Zuhud Sunni Zuhud Sufi”, Majalah as-Sunnah,  Edisi 01/Tahun IX/1426 H/2005 M, hal. 26.

[9] Ibnu Mandzur, Lisanul Arob, maktabah syamilah

[10] Ahmad Farid, Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu  ‘ulama Salaf, Beirut Libanon: Dar al-Qolam, hal. 63.

[11] Anas Ahmad Karzon, Tazkiyatun Nafs, terj. Emil Threeska, Jakarta Timur: Akbarmedia, 2010, Cet. I,  hal. 311, lihat pula Ibnu Taimiyah, Tazkiyatun Nafs, Jakarta Timur: Darus Sunnah, 2008, Cet. I, hal. 365 dan lihat pula Ibnu Qoyyim, Madarijus Salikin, Beirut,:Dar al-Jiil, Cet. I, hal. 11-12.

[12] Ahmad Farid, Tazkiyah an-Nufus wa Tarbiyatuha, hal 68.

[13] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur anul ‘Adzim, maktabah syamilah

[14] as-Sa’di, Tafsir al-Kariim ar-Rohman, maktabah syamilah

[15] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, Terj. Kathur Suhardi, Jakarta Timur:Pustaka Al-Kautsar, 2010, Cet. 16, hal. 416

[16] Ibnu Qoyyim, Madarijus Salikin, hal 14

[17] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, hal. 244-246

[18] Memberikan harta kepada orang yang sebenarnya sudah berharta dan orang-orang terpandang sebagai hadiah atau saat berkunjung.

[19] Menjaga kehormatandengan mengeluarkan harta untuk menyanggah, membantah, orang-orang yang ingin merusak agama.

[20]Hamka, Tasauf Modern, Jakarta: Pustaka Panjimas, 2003,Cet. IV, hal. 209 – 211.

[21] Ibnu Qudamah, Minhajul Qoshidin, hal. 415-416

[22] Ibnu Qoyyim, Thoriiqul Hijrotain, Maktabah Syamilah

[23] Sudah terdahulu takhrijnya.

[24] Ibnu Qoyyim, Thoriqul Hijrotain, hal. 381, maktabah syamilah

[25] Salim bin Ied al Hilali, Tazkiyatun Nufus Para Nabi, Terj. Beni Sarbeni,  Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2010, Cet. II, hal.33.

[26] Ibnu Qoyyim, Thoriqul Hijrotain, hal. 381, maktabah syamilah

 

[27] Salim bin Ied al Hilali, Tazkiyatun Nufus Para Nabi, hal. 62

[28] HR. Bukhori, no. 38, maktabah syamilah

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: