PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH 4

12 02 2011

III.    PENGERTIAN IBADAH

3.1 Ibadah secara etimologi

Ibadah berasal dari kata  عبَد – يعبُدُ عِبَادةً عُبُودِيَّةًartinya menyembah, beribadah. Asal dari ibadah adalah ketundukan, kerendahan diri dan ketaatan[1]. Kesemua pengertian itu mempunyai makna yang berdekatan. Seseorang yang tunduk, patuh merendahkan diri di hadapan yang disembah disebut abid (orang yang beribadah). Budak disebut عَبْدٌ karena dia harus tunduk dan patuh serta merendahkan diri terhadap majikannya.[2]

Menurut Yusuf Qordhowi, apabila kita kembali pada Al Qur an dan struktur serta pemakaian bahasa Arab, kata الْعِبَادُ yang diambil dari kata الْعِبَادَةُ yang kebanyakan ditujukan kepada Allah. Sedangkan kata الْعَبِيْدُ yang kebanyakan ditujukan kepada selain Allah, karena kata tersebut diambil dari الْعُبُوْدِيَّةُ yang berarti budak.[3]

3.2 Ibadah menurut Ibnu Taimiyah Rohimahulloh[4]

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya al Ubudiyah mengatakan bahwa Ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal–amal batin dan lahir. Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, silaturrohim, menepati janji, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad melawan orang kafir dan orang munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin,  dan musafir,  berdoa, dzikir, mencintai Allah dan Rosul-Nya, Khosyah, inabah, ikhlas,  sabar terhadap ketentuan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridho  kepada takdir-Nya, tawakkal, harap dan takut dengan siksa-Nya serta yang semisal dengan itu semua yang berupa ibadah kepada Allah.

Karena ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhoi Allah. Dan itulah sebab mengapa Allah menciptakan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون. الذاريات : 56

Ibadah hanya kepada Allah adalah tujuan Allah mengutus para Rosul. Sebagaimana Allah mengutus Nuh ‘Alaihis Salam, Allah berfirman :

اعبدوا اللهَ مَا لَكُمْ مِن إلهٍ غيره.

“Sembahlah Allah , sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainnya.”

(QS. Al-A’raaf : 59)

Menurut  imam Ibnu Katsir ibadah secara bahasa adalah (الذلة) kehinaan. Sedangkan menurut istilah syar’i adalah :

عبارة عما يجمع كمال المحبة والخضوع والخوف.

Himpunan dari semua rasa kecintaan, ketundukan dan ketakutan yang sempurna (kepada Allah).[5]

3.3 Ibadah menurut para ahli :

Selanjutnya para ahli dari berbagai disiplin ilmu mengemukakan pengertian ibadah dari segi terminologi dengan rumusan yang bervariasi sesuai dengan bidangnya. Di antara pengertian-pengertian tersebut yaitu[6] :

1.    Ibadah menurut ulama tauhid dan hadist adalah :

تَوْحِيْدُ اللهِ وَتَعْظِيْمُهُ غَايَةَ التَّعْظِيْمِ مَعَ التَّذَلُّلِ وَالْخُضُوْعِ

Mengesakan dan mengagungkan Allah sepenuhnya serta menghinakan diri dan tunduk kepada-Nya.

2.    Para ahli bidang akhlak mendefinisikan ibadah sebagai berikut :

الْعَمَلُ بِالطَّاعَاتِ الْبَدَنِيَّةِ وَالْقِيَامِ بِالشَّرَائِعِ.

Mengerjakan segala bentuk ketaatan badaniyyah dan menunaikan semua syari’at

3.    Menurut ahli fiqh ibadah adalah :

مَا أُدَّيْتَ اِبْتِغَاءً لِوَجْهِ اللهِ وَطَلَبًا لِثَوَابِهِ فِيْ الْآخِرَةِ.

Segala bentuk ketaatan yang  engkau laksanakan yang bertujuan untuk meraih ridho Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.

Dari pengertian-pengertian di atas dapat kita tarik pengertian umum dari ibadah adalah :

الْعِبَادَةُ هِيَ اِسْمٌ جَامِعٌ لِمَا يُحِبُّهُ اللهُ وَ يَرْضَاهُ قَوْلاً كَانَ أَوْ فِعْلاً,جَلِيًا أَوْ خَفِيًّ تَعْظِيْمًا لَهُ وَطَلَبًا لِثَوَابِهِ.

Ibadah itu suatu nama yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridhoi oleh Allah , baik berupa perkataan atau perbuatan secara terang-terangan ataupun tersembunyi yang bertujuan untuk mengagungkan Allah dan mengharapkan pahalanya.

IV.    HAKEKAT IBADAH

Dalam syari’at Islam ibadah mempunyai dua unsur, yaitu ketundukan dan kecintaan yang paling dalam kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di samping itu ibadah juga mengandung unsur kehinaan, yaitu kehinaan yang paling rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.[7]

Seseorang yang mengaku dirinya tunduk kepada orang lain sedang di dalam jiwanya tersembunyi rasa benci kepada orang itu, dia tidak bisa disebut sebagai seorang ‘abid. Demikian pula sesorang yang cinta kepada sesuatu namun dia tidak tunduk kepada orang yang dia cintai tersebut, maka dia tidak bisa dinamakan sebagai abid.[8] Kecintaan yang sempurna adalah cinta yang ditujukan kepada Allah. Allah berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ.

“Katakanlah:”Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu,saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rosul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (at Taubah : 24)

Rosululloh bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintai daripada anak, orang tuanya dan seluruh manusia.”[9]

Dengan melihat hakekat dan pengertian ibadah Yusuf Qordhowi mengemukakan bahwa ibadah merupakan kewajiban dari Allah dan disampaikan kepada para Rosul-Nya dalam bentuk perintah dan larangan.[10]

V.    RUANG LINGKUP IBADAH[11]

Untuk mengetahui ruang lingkup ibadah terlepasa dari pemahaman terhadap pengertian itu sendiri. Dalam hal ini penulis mengambil pengertian ibadah yang dikemukakan oleh Ibnu Taimiyah, untuk dilihat apa saja ruang lingkup ibadah itu.

Ruang lingkup ibadah yang dikemukakan Ibnu Taimiyah cabangnya sangat luas. Bahkan semua ajaran agama termasuk dalam ibadah. Bila diklasifikasikan dapat menjadi beberapa kelompok, yaitu :

  1. Kewajiban-kewajiban atau rukun-rukun syari’at seperti sholat,puasa, zakat dan haji.
  2. Yang berhubungan dengan kewajiban-kewajiban di atas dalam bentuk ibadah-ibadah sunat, seperti dzikir, membaca Al Qur an, doa dan istighfar.
  3. Semua bentuk hubungan sosial yang baik serta pemenuhan hak-hak manusia, seperti berbakti pada orang tua, silaturahmi, berbuat baik kepada fakir miskin.
  4. Akhlak insaniyyah (kemanusiaan), seperti benar dalam berbicara dan menepati janji.
  5. Akhlak robbaniyyah(ketuhanan), sepeerti mencintai Allah dan Rosul-Nya, takut dan ikhlas kepada-Nya.

Lebih khusus lagi ibadah dapat diklasifikasikan menjadi ibadah umum dan khusus. Ibadah umum ruang lingkupnya sangat luas, yaitu mencakup segala amal kebajikan yang dilakukan dengan niat ikhlas dan sulit untuk mengemukakan sistematikanya. Tetapi ibadah khusus ditentukan oleh nash atau syari’at mengenai bentuk dan caranya yang secara garis besar sistematikanya sebagai berikut :thoharoh, sholat, penyelenggaraan jenazah, zakat, puasa, haji dan umroh, I’tikaf, sumpah dan kafarat, nazar, qurban dan aqiqah.

VI.    SYARAT DITERIMANYA IBADAH


Syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu:

1.    Ikhlas,Ikhlas merupakan ruh dan inti agama.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ.

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan ) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah : 5)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Robbnya,maka hendaklah ia mengerjakan amal sholih dan janganlah ia mempersektukan Robbnya dengan sesuatu pun.” (QS. Al Kahfi : 110)

Ibnu Katsir berkata:”Inilah dua rukun diterimanya amal. Amal itu harus murni ditujukan kepada Allah dan benar sesuai syari’at Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.”[12]

2.    Mengikuti Sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa sallam

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.الملك :2

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk:2)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh:”Yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya:”Wahai Abu ‘Ali, apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”Beliau menjawab:”Sesungguhnya amal apabila dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, maka tidak akan diterima hingga ia dilakukan dengan ikhlas dan benar.

Yang dilakukan dengan ikhlas ialah hanya ditujukan untuk Allah Ta’ala, sedangkan yang benar ialah sesuai dengan sunnah.”[13]

Rosululloh  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.[14]

Ibnu Rojab berkata:”Hadist ini adalah hadist yang sangat agung mengenai pokok-pokok Islam, dan hadist ini merupakan tolak ukur dari amalan-amalan lahiriyah sebagaimana hadist, (إنما الأعمال بالنيات)menjadi tolak ukur dari amalan-amalan batin. Jika suatu amalan tidak diniatkan untuk mencari wajah Allah Ta’ala, maka pelakunya tidak akan memperoleh pahala. Demikian pula semua amalan yang bukan termasuk dari perintah Allah dan Rosul-Nya, pasti amal yang ia lakukan akan tertolak. Dan setiap perkara yang diada-adakan dalam agama yang tidak ada izin Allah dan Rosul-Nya, maka perkara itu bukanlah menjadi bagian dari agama ini.[15]

Beliau Rohimaholloh melanjutkan perkataannya,”Hadist ini secara tersurat (manthuq) menunjukkan bahwa setiap amalan yang bukan merupakan tuntunan dari syari’at, amalan itu akan tertolak. Sedangkan secara tersirat (mafhum), setiap amalan yang termasuk dari tuntunan syariat, amalan tersebut tidak tertolak.[16]

Dalam sabda beliau,” [17]ليس عليه أمرناadalah sebuah isyarat bahwa semua amal yang dilakukan seseorang, hendaknya berada di bawah ketetapan hukum-hukum syari’at. Jadi ketetapan hukum-hukum syari’at merupakan hakim (penentu) amalan, apakah amal itu diperintahkan atau tidak.[18]


[1] Ibnu Mandzur,  Lisanul Arab, juz 3, hal. 273, Maktabah Syamilah.

[2] Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, hal. 1

[3] Ibid

[4] Ibnu Taimiyah, al Ubudiyah, hal. 44, Maktabah Syamilah

[5] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur an al Adzim, juz 1, hal 134, Maktabah Syamilah

[6] Rahman Ritonga dan Zainuddin,Fiqh Ibadah, hal. 2-4

[7] Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, hal. 4

[8] Ibid

[9] HR. Bukhori, Bab Hubb ar Rosul Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam min al Iman, no. 13, juz 1, hal 23, Maktabah Syamilah

[10] Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, hal. 5

[osul

[11] Ibid, hal. 6-7

[12] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur an al ‘Adzim, juz 5, hal. 5, Maktabah Syamilah

[13] Ibnu Taimiyah, al Majmu’ Fatawa, juz III, hal. 124, Maktabah Syamilah

[14] HR. Muslim, Bab Naqd al-Ahkam al-Bathilah wa Rodd al-Muhdatsah al-Umuur, no. 3243, juz 9, hal. 119, Maktabah Syamilah

[15] Ibnu Rojab, Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, hal. 59, Maktabah Syamilah

[16] Ibid

[17] Yang bukan ajaran kami

[18] Ibnu Rojab,hal. 50

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: