PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH 6

14 02 2011

VIII.    Contoh-contoh Ibadah Yang Tidak Ada Tuntunannya Dalam Sunnah Rosululloh

Pada bab ini kami sebutkan sebagian kecil contoh-contoh ibadah yang masih banyak diamalkan oleh kebanyakan kaum muslimin di Indonesia. Mereka beranggapan bahawa amal-amal ibadah tersebut adalah suatu ibadah yang termasuk dalam tuntunan syari’at Islam, tetapi bila kita gali dan teliti lebih jauh ternyata apa yang mereka amalakan telah menyelisihi jalan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang lurus. Sengaja bantahan/koreksi terhadap amalan-amalan menyimpang tersebut, tidak kami ungkap secara luas karena keterbatasan ilmu dan tempat pemaparan dalam makalah kami ini. Penulis hanya akan mengambil 4 contoh praktek ibadah yang sangat populer di masyarakat luas, yang sampai detik ini masih saja menimbulkan pro dan kontra di kalangan kaum muslimin sendiri, untuk kemudian kita analisa menurut kacamata syari’at yang murni dari Allah dan Rosul-Nya serta petunjuk para ulama ahlussunnah yang selalu berpegang kepada Al Qur an dan as Sunnah, bukan atas dasar nafsu semata.

Sebab Rosululloh telah memberikan solusi kepada umatnya, suatu cara agar kita tidak tersesat dalam menjalani hidup ini, dengan sabdanya :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

“Aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan pernah sesat selama senantiasa berpegang teguh dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.”[1]

8.1 Dzikir Berjama’ah Setelah Sholat Wajib Dengan Suara Keras

Kebanyakan kaum muslimin di negeri kita masih banyak yang melakukan praktek ibadah tersebut, dengan alasan bahwa semacam itu adalah baik dan juga diperbolehkan oleh imam asy Syafi’i. Bahkan mengatakan apa yang mereka lakukan adalah termasuk ciri khas dari pengikut madzhab Syafi’i. Tetapi mari kita tinjau ulang benarkah praktek yang mereka lakukan tersebut memiliki landasan yang kuat dalam syaria’t dan sesuai dengan ajaran dari imam asy Syafi’i. Kita harus ingat bahwa hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya dalil yang memerintahkannya.

i. Sikap para sahabat Nabi

Dari Abu  Musa al Asy’ariy ia berkata :

كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُمْ إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ

“Kami pernah bepergian bersama Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika melewati jalan yang mendaki kami bertakbir dengan keras, lalu Nabi bersabda:”Wahai sekalian manusia sayangi diri kalian, karena kalian tidaklah menyeru dzat yang tuli dan jauh, Dia sesungguhnya bersama kamu, Dia adalah dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sucilah nama-Nya dan tinggi kedudukan-Nya.[2]

Amalan semisal yang mereka lakukan ini, sudah terjadi sejak zaman sahabat. Dan dengan sikap tegas untuk memberantas kemungkaran para sahabat tidak tinggal diam saja, tetapi berusaha untuk melenyapkannya sesuai kemampuan mereka. Di antara atsar yang menunjukkan kedalaman ilmu dan ketegasan sahabat ketika menghadapi bid’ah yang terjadi adalah sebuah atsar dari Amr bin Salamah Rodhiyallohu ‘Anhu.

عمرو بن سلمة الهمداني قَالَ : كُنَّا نَجْلِسُ عَلَى بَابِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَبْلَ صَلاَةِ الْغَدَاةِ ، فَإِذَا خَرَجَ مَشَيْنَا مَعَهُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَجَاءَنَا أَبُو مُوسَى الأَشْعَرِىُّ فَقَالَ : أَخَرَجَ إِلَيْكُمْ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بَعْدُ؟ قُلْنَا : لاَ ، فَجَلَسَ مَعَنَا حَتَّى خَرَجَ ، فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ جَمِيعاً ، فَقَالَ لَهُ أَبُو مُوسَى : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ إِنِّى رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ آنِفاً أَمْراً أَنْكَرْتُهُ ، وَلَمْ أَرَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ إِلاَّ خَيْراً. قَالَ : فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ : إِنْ عِشْتَ فَسَتَرَاهُ – قَالَ – رَأَيْتُ فِى الْمَسْجِدِ قَوْماً حِلَقاً جُلُوساً يَنْتَظِرُونَ الصَّلاَةَ ، فِى كُلِّ حَلْقَةٍ رَجُلٌ ، وَفِى أَيْدِيهِمْ حَصًى فَيَقُولُ : كَبِّرُوا مِائَةً ، فَيُكَبِّرُونَ مِائَةً ، فَيَقُولُ : هَلِّلُوا مِائَةً ، فَيُهَلِّلُونَ مِائَةً ، وَيَقُولُ : سَبِّحُوا مِائَةً فَيُسَبِّحُونَ مِائَةً. قَالَ : فَمَاذَا قُلْتَ لَهُمْ؟ قَالَ : مَا قُلْتُ لَهُمْ شَيْئاً انْتِظَارَ رَأْيِكَ أَوِ انْتِظَارَ أَمْرِكَ. قَالَ : أَفَلاَ أَمَرْتَهُمْ أَنْ يَعُدُّوا سَيِّئَاتِهِمْ وَضَمِنْتَ لَهُمْ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِهِمْ.

ثُمَّ مَضَى وَمَضَيْنَا مَعَهُ حَتَّى أَتَى حَلْقَةً مِنْ تِلْكَ الْحِلَقِ ، فَوَقَفَ عَلَيْهِمْ فَقَالَ : مَا هَذَا الَّذِى أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟ قَالُوا : يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَصًى نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ : فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لاَ يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَىْءٌ ، وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- مُتَوَافِرُونَ وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِى نَفْسِى فِى يَدِهِ إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِىَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ، أَوْ مُفْتَتِحِى بَابِ ضَلاَلَةٍ. قَالُوا : وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ مَا أَرَدْنَا إِلاَّ الْخَيْرَ. قَالَ : وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- حَدَّثَنَا أَنَّ قَوْماً يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ ، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِى لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ. ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ ، فَقَالَ عَمْرُو بْنُ سَلِمَةَ : رَأَيْنَا عَامَّةَ أُولَئِكَ الْحِلَقِ يُطَاعِنُونَا يَوْمَ النَّهْرَوَانِ مَعَ الْخَوَارِجِ.

انظر التعليق في الكتاب ويستفاد منه أن العبرة ليست بكثرة العبادة وإنما بكونها على السنة بعيدة عن البدعة وقد أشار إلى هذا ابن مسعود رضي الله عنه بقوله أيضا : اقتصاد في سنة خير من اجتهاد في بدعة . ومنها : أن البدعة الصغيرة بريد إلى البدعة الكبيرة.

Amr bin Abi Salamah berkata:”Kami duduk-duduk di pintu rumah Abdullah bin Mas’ud, sebelum sholat subuh ketika beliau keluar kami mengiringinya pergi ke masjid. Lalu tiba-tiba Abu Musa al Asy’ari mendatangi kami dan bertanya:”Apakah Abu Abdirrohman (Ibnu Mas’ud) sudah keluar(dari rumah)?”Kami menjawab :”Belum”. Lalu beliau duduk bersama kami. Kemudian keluarlah Ibnu Mas’ud, kami semua berdiri mengerumuni beliau.

Abu Musa berkata kepada Ibnu Mas’ud:”Wahai Abu Abdirrohman, tadi aku melihat suatu perkara yang aku ingkari, namun aku menganggap segala puji bagi Allah- hal itu adalah baik.” Kata Ibnu Mas’ud:”Apa itu?” Jawab Abu Musa:”Jika engkau berumur panjang, engkau akan mengetahui, aku tadi melihat sekelompok orang di masjid mereka duduk mebuat halaqoh menunggu sholat.

Setiap kelompok dipimpin oleh seseorang , sedang ditangan mereka ada kerikil, lalu si pemimpin tadi berkata:”Bertakbirlah seratus kali !” Maka mereka bertakbir seratus kali, “Bertahlillah seratus kali !” Maka mereka bertahlil seratus kali, “Bertasbihlah seratus kali !” Maka mereka bertasbih seratus kali. Ibnu Mas’ud bertanya:”Apa yang kamu katakan kepada mereka ? Abu Musa menjawab:”Aku tidak bilang apa-apa, aku menanti pendapatmu.” Kata Ibnu Mas’ud:”Tidakkah kamu katakan kepada mereka agar mereka menghitung kesalahan mereka dan kamu jamin  bahwa kebaikan mereka tidak akan disia-siakan.”

Lalu Ibnu Mas’ud pergi menuju masjid tersebut dan kami pun ikut, sampai ditempat itu. Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka (yang di masjid):”Benda apa yang kalian pergunakan ini ?” Mereka menjawab:”Kerikil wahai Abu Abdirrohman, kami bertakbir, bertahlil dan bertasbih dengannya.”

Ibnu Mas’ud menimpali:”Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, saya jamin kebaikan kalian tidak akan disia-siakan sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad, betapa cepat kebinasaan kalian. Mereka para sahabat Nabi, masih banyak bertebaran. Ini baju beliau(Nabi) belum rusak dan bejananya belum pecah. Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian berada dalam suatu agama yang lebih benar dibanding agama Muhammad, atau kalian pembuka pintu kesesatan.” Mereka menjawab:”Wahai Abu Abdirrohman kami tidak menginginkan kecuali kebaikan.”

Jawab Ibnu Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang mengawab Ibnu Mas’ud:”Betapa Banyak orang yang menginginkan kebaikan namun tidak memperolehnya.” Sesungguhnya Rosululloh menceritakan  kepada kami bahwa ada suatu kaum yang membaca Al Qur an tetapi tidak sampai tenggorokan. Demi Allah, saya tidak tahu barangkali kebanyakan mereka adalah kalian. Lalu Ibnu Mas’ud pergi. Amr bin Salam berkata:”Kami mendapati mayoritas anggota halaqoh tersebut memerangi kami pada perang Nahrawan bersama khowarij.”[3]

Syaikh al Albani berkata mengenai atsar di atas:”’Ibroh(diterimanya amal) bukan dengan melakukan banyak ibadah, tetapi dilihat bahwa ibadah tersebut sesuai dengan sunnah dan jauh dari bid’ah. Ibnu Mas’ud juga pernah berpesan:”Berbuat sedikit dalam sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh tetapi melakukan suatu amalan dalam bid’ah.” [4]

Atsar yang agung ini menyimpan lautan ilmu dan kaidah-kaidah emas yang berharga. Di antara kandungan atsar ini yaitu[5]:

  1. Bid’ahnya dzikir berjama’ah.
  2. Ibadah itu harus sesuai syari’at yang telah dicontohkan oleh Rosululloh, bukan berdasarkan hawa nafsu.
  3. Niat baik tidak bisa merubah kebatilan menjadi kebajikan.

ii. Pernyataan Para Ulama Madzhab Syafi’i

A. Imam asy Syafi’i

Beliau berkata dalam al Umm :

وَأَخْتَارُ للامام وَالْمَأْمُومِ أَنْ يَذْكُرَا اللَّهَ بَعْدَ الِانْصِرَافِ من الصَّلَاةِ وَيُخْفِيَانِ الذِّكْرَ إلَّا أَنْ يَكُونَ إمَامًا يَجِبُ أَنْ يُتَعَلَّمَ منه فَيَجْهَرَ حتى يَرَى أَنَّهُ قد تُعُلِّمَ منه ثُمَّ يُسِرُّ فإن اللَّهَ عز وجل يقول { وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِك وَلَا تُخَافِتْ بها } يعنى وَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ الدُّعَاءَ وَلَا تَجْهَرْ تَرْفَعْ وَلَا تُخَافِتْ حتى لَا تُسْمِعَ نَفْسَك

…Dan aku (imam Syafi’i) lebih memilih untuk para imam dan makmum agar berdzikir kepada Allah sesudah sholat(5 waktu) dengan cara merendahkan suara, kecuali jika imam tersebut harus mengajarkannya kepada makmum, maka ia (boleh) mengeraskannya sampai mereka mampu mengikutinya. Lalu (imam) kembali merendahkan suaranya (lagi). Allah berfirman :”Dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat, dan janganlah pula merendahkaannya.” (QS. Al-Isro’ : 110), yakni Allah Ta’ala lebih mengetahui doamu, maka jangan engkau angkat suaramu dan jangan pula kau rendahkan. Sehingga kamu sendiri tidak bisa mendengarnya[6]

B. Imam an Nawawi

Beliau berkata dalam kitabnya :

وفي رواية ان رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه و سلم وأنه قال بن عباس رضي الله عنهما كنت أعلم اذا انصرفوا بذلك اذا سمعته[7] …وغيرهم متفقون على عدم استحباب رفع الصوت بالذكر والتكبير وحمل الشافعي رحمه الله تعالى هذا الحديث على أنه جهر وقتا يسيرا حتى يعلمهم صفة الذكر لا أنهم جهروا دائما قال فاختار للإمام والمأموم أن يذكر الله تعالى بعد الفراغ من الصلاة ويخفيان ذلك الا أن يكون اماما يريد أن يتعلم منه فيجهر حتى يعلم أنه قد تعلم منه ثم يسر وحمل الحديث على هذا.

“Dalam sebuah riwayat,”Bahwa meninggikan suara pada waktu berdzikir ketika manusia telah selesai dari sholat fardhu, itu merupakan suatu hal yang biasa dilakukan di masa Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ibnu Abbas pernah mengatakan:”Dulu aku mengetahui selesainya (Nabi Muhammad dan Para sahabatnya) dari sholat fardhu bila aku mendengarnya(dzikir mereka dengan suara keras)…

Sedangkan (para ulama) yang lainnya, mereka semua sepakat, bahwa mengeraskan suara ketika dzikir dan takbir tidaklah disukai (goiru mustahab), dan asy Syafi’i memahami bahwa hadist tersebut maksudnya dilakukan dalam waktu yang singkat, sehingga imam bisa mengajari makmum lafadz dzikir. Bukan untuk melakukannya terus menerus. Ia(an Nawawi) berkata:”Imam Syafi’i lebih memilih, bagi imam dan makmum untuk menyembunyikan bacaan dzikir mereka setelah sholat fardhu, kecuali jika imam itu ingin agar makmum belajar (lafadz dzikir) darinya, maka dia mengeraskan bacaan dzikirnya, sampai dia melihat para makmum untuk berdzikir (sendiri-sendiri) lalu ia merendahkan (bacaan dzikirnya lagi).[8]

C. Syaikh Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al-Malibari asy-Syafi’

Beliau di dalam Fathul Mu’in setelah membawakan pernyataan imam Syafi’i sebelum ini secara lengkap dari kitab al Umm, maka ia mengatakan:

( فائدة ) قال شيخنا أما المبالغة في الجهر بهما في المسجد بحيث يحصل تشويش على مصل فينبغي حرمتها.

“Faidah:Syaikh kami (Ibnu Hajar al Hatsami) mengatakan:”Adapun bersuara kerasa pada keduanya (berdzir dan berdoa) di dalam masjid, sehingga mengganggu orang yang sedang sholat, maka sepatutnya perkara itu diharamkan.”[9]

Berkata Abu Hamid al Ghazali asy Syafi’i dalam Ihya’ Ulumuddin ketika menerangkan adab-adab dalam berdoa, ia menyebutkan[10]:

الرابع خفض الصوت بين المخافتة والجهر لما روى أن أبا موسى الأشعري قال قدمنا مع رسول الله فلما دنونا من المدينة كبر وكبر الناس ورفعوا أصواتهم فقال النبي صلى الله عليه وسلم يا أيها الناس إن الذي تدعون ليس بأصم ولا غائب إن الذي تدعون بينكم وبين أعناق ركابكم.

وقالت عائشة رضي الله عنه في قوله عز وجل ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها حديث عائشة في قوله تعالى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها أي بدعائك متفق عليه أي بدعائك.

وقد أثنى الله عز وجل على نبيه زكرياء عليه السلام حيث قال إذ نادى ربه نداء خفيا.

وقال عز وجل ادعوا ربكم تضرعا وخفية.

“Yang keempat:Dengan merendahkan suara antara diam diam dan keras (seperti seseorang yang berbisik), sebagaimana Abu Musa al-As’ariy meriwayatkan:Kami (pernah) datang bersama Rosululloh, tatkala mendekati kota Madinah ia bertakbir kemudian orang-orang pun bertakbir sambil mengeraskan suara mereka. Sejurus kemudian Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersada:Wahai manusia, sesungguhnya Dzat yang kalian seru bukanlah Dzat yang tuli dan jauh. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru berada di antara kalian dan leher-leher tunggangan kalian.[11]

‘Aisyah pernah berkata ketika menafsirkan firman Allah:

ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya.” (QS. Al Isra’ : 110) Maksud(dari kata) “dalam shalatmu” adalah “dalam doamu” (kepada Allah).”

Allah juga telah memuji Nabi-Nya Zakariya dengan firman-Nya :

إذ نادى ربه نداء خفيا

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Robbnya dengan suara yang lemah lembut.” (QS. Maryam : 3)

Allah juga berfirman:

ادعوا ربكم تضرعا وخفية

“Berdoalah kepada Robb kalian dengan merendahkan diri dan suara yang lembut.” (QS. Al A’rof : 55)

Berkata Ibnu Hajar al-Asqolaniy asy Syafi’i dalam Fathul Bari :

قوله أربعوا بفتح الموحدة أي ارفقوا قال الطبري فيه كراهية رفع الصوت بالدعاء والذكر وبه قال عامة السلف من الصحابة والتابعين

“Maksud dari sabda beliau di dalam hadist:”(اِرْبَعُوا) adalah:”Kasihanilah (dirimu sendiri).” Imam ath-Thabari mengatakan:”Di dalam hadist ini terdapat makruhnya mengeraskan suara ketika berdzikir dan berdoa. Pendapat ini juga merupakan pendapat mayoritas para Salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in.”[12]

Setelah kita membaca dengan cermat pernyataan-pernyataan kedua imam besar madzhab Syafi’i di atas masihkah tersisa dalam hati seorang yang mengaku muslim dan sekaligus sebagai pengikut madzhab Syafi’i, untuk terus mempertahankan cara dzikir yang diwarisi dari para gurunya, tetapi  jelas-jelas perkara itu menyalahi petunjuk Rosul, sahabat dan para imam kaum muslimin.

8.2      Tahlilan


Apa itu tahlilan ?

Tahlilan adalah acara yang berkaitan dengan peristiwa kematian seseorang lalu keluarga mayit bersama masyarakat sekitarnya mengadakan pembacaan Al Qur an dan dzikir-dzikir tertentuberikut doa-doa yang ditujukan untuk si mayit di alam kubur. Ritual ini dilakukan secara berjama’ah dan dengan suara keras. Biasanya acara ini berlangsung tiga atau tujuh hari berturut-turut setelah hari kematian. Kemudian diakhiri dengan hidangan makanan yang lebih dari ala kadarnya. Dan acara ini juga diselenggarakan lagi pada hari ke-40 dan ke-100 atau dilakukan setiap tahun.[13]

Orang-orang yang melakukannya menganggap apa yang mereka amalkan ini adalah termasuk bagian dari ibadah dalam Islam. Diantara alasan-alasan yang mereka pakai sebagai landasan dari ibadah tersebut, yaitu :

  1. Acara ini adalah ibadah, karena ada pembacaan Al Qur an, dzikir-dzikir dan doa.
  2. Menenangkan hati keluarga si mayit.
  3. Mengingat kematian.
  4. Saling kunjung mengunjungi.
  5. Termasuk amalan ibadah pengikut madzhab Syafi’i.

Syari’at Islam dengan tegas telah mengharamkan acara tahlilan ini, bahkan para imam besar dalam madzhab Syafi’i juga membenci bahkan mengharamkannya. Hal ini bisa kita temukan dalam kitab-kitab tulisan mereka.

i. Sikap para sahabat Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam :

Pertama :

عن جرير بن عبد الله البجلي قال : كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعه الطعام بعد دفنه من النياحة

Dari Jarir bin Abdillah al Bajali berkata:”Kami(para sahabat Nabi) bahwa berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga mayit dan membuat makanan setelah si mayit di kubur merupakan niyahah(meratapi mayat).”[14]

Kedua :

وَرُوِيَ أَنَّ جَرِيرًا وَفَدَ عَلَى عُمَرَ ، فَقَالَ : هَلْ يُنَاحُ عَلَى مَيِّتِكُمْ ؟ قَالَ : لَا .

قَالَ : فَهَلْ يَجْتَمِعُونَ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ ، وَيَجْعَلُونَ الطَّعَامَ ؟ قَالَ : نَعَمْ .

قَالَ : ذَاكَ النَّوْحُ .

Dan telah diriwayatkan bahwasanya Jarir pernah bertamu kepada Umar, lalu Umar  bertanya:”Apakah mayit kalian diratapi ?”

Jarir menjawab:”Tidak.”

Lalu Umar bertanya lagi:”Apakah orang-orang berkumpul di keluarga mayit dan membuat makanan ?”

Jarir menjawab:”Ya.”

Maka Umar berkata:”Yang demikian adalah ratapan.”[15]

Sedangkan niyahah (meratapi) adalah salah satu perbuatan jahiliyah yang Kita dilarang untuk melakukannya. Rosululloh bersabda:

أربع في أمتي من أمر الجاهلية لا يتركونهن الفخر في الأحساب والطعن في الأنساب والاستسقاء بالنجوم والنياحة

“Empat hal yang tidak ditinggalkan oleh umatku yang termasuk perkara-perkara jahiliyah,berbangga-bangga dengan keturunan, mencela nasab, mengatakan turunnya hujan dengan sebab munculnya bintang, dan niyahah (meratapi).”[16]

Ummi ‘Athiyah berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَانَا عَنِ النِّيَاحَةِ.

“Sungguh Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari Niyahah.”[17]

ii. Sikap para ulama madzhab Syafi’i :

a. Imam asy Syafi’i

Beliau pernah menyatakan :

وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لم يَكُنْ لهم بُكَاءٌ فإن ذلك يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مع ما مَضَى فيه من الْأَثَرِ

“Dan aku membenci al ma’tam, yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), walaupun di tempat itu tidak ada tangisan, sebab acara kumpul-kumpul tersebut bisa membangkitkan lagi kesedihan mereka dan membebani  (keluarga mayit) serta bertentangan dengan atsar yang telah berlalu (atsar dari Jarir di atas).”[18]

b. Imam an Nawawi seorang ulama besar madzhab Syafi’i berkata:

وأما اصلاح اهل الميت طعاما وجمع الناس عليه فلم ينقل فيه شئ وهو بدعة غير مستحبة

”Adapun hidangan yang dibuat keluarga mayit dan berkumpulnya manusia untuk hidangan itu, maka hal seperti itu tidaklah dinukil sedikit pun keterangannya(dalil), tidak disunahkan dan itu adalah bid’ah.”[19]

I

Imam an Nawawi berkata dalam kitabnya yang lain :

قال الشافعي وأصحابنا رحمهم الله : يكره الجلوس للتعزية (1) قالوا : يعني بالجلوس أن يجتمع أهل الميت في بيت ليقصدهم من أراد التعزية ، بل ينبغي أن يتصرفوا في حوائجهم ولا فرق بين الرجال والنساء في كراهة الجلوس لها ، صرح به المحاملي ، ونقله عن نص الشافعي رضي الله عنه ، وهذه كراهة تنزيه إذا لم يكن معها محدث آخر ،فإن ضم إليها أمر آخر من البدع المحرمة كما هو الغالب منها في العادة ، كان ذلك حراما من قبائح المحرمات ، فإنه محدث.

وثبت في الحديث الصحيح : ” إن كل محدث بدعة وكل بدعة ضلالة “.

“Asy Syafi’i dan sahabat-sahabat kami rohimahumulloh berkata:”Dibencinya duduk-duduk pada saat ta’ziyah. Mereka berkata:”Yakni duduk-duduk untuk berkumpulnya keluarga ahli mayit dalam satu rumah, agar orang-orang yang berkeinginan berta’ziyah dapat mengunjungi mereka tetapi orang-orang yang berta’ziyah ini hendaknya segera pergi untuk memenuhi keperluan mereka sendiri (setelah berta’ziyah). Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita mengenai dimakruhkannya duduk-duduk acara itu (ta’ziyah). Al-Mahamili menegaskan tentang hal itu dan ia menukil pernyataan dari asy Syafi’i. Ini adalah suatu larangan yang amat keras, jika bersama acara itu (ta’ziyah) tidak ada perkara yang muhdats (bid’ah) yang lain. Apabila bergabung bersama acara itu perkara lain yang termasuk dalam suatu perbuatan bid’ah yang diharamkan, sebagaimana yang biasa terjadi dalam tradisi, maka perbuatan itu adalah haram, termasuk dari seburuk-buruknya perkara haram. Karena sesungguhnya itu adalah muhdats. Dan telah dijelaskan dalam hadist shohih bahwa “Sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.”[20]

c. Abu Bakar bin Muhammad Syathho ad-Dimyathi

Beliau berkata di dalam kitabnya Hasyiyah I’anah ath-Tholibin :

1- ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

2- ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم

3- ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام

1 –Berkumpulnya manusia dan menyelenggarakan jamuan makanan di keluarga ahli mayit, adalah termasuk bid’ah yang mungkar. Bagi siapa yang melarangnya akan diberi ganjaran oleh waliyul amr. Semoga Allah menguatkan pondasi-pondasi agama dan mengokohkan Islam dan kaum muslimin melalui mereka (waliyul amr)“[21]

2 –Dan dibenci menyeleggarakan jamuan makan pada hari pertama, ketiga sesudah seminggu. Dan memindahkan makanan ke kuburan secara musiman (seperti peringatan khaul)“[22]

3 –Dan di antara bid’ah yang mungkar dan dibenci ialah perkara yang dilakukan manusia, ketika menyampaikan duka cita, berkumpul pada hari ke-40, bahkan semua perkara itu adalah haram.“[23]

d.     Syaikh Romli

Beliau berkata dalam Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin:

ومن البدع المنكرة المكروه فعلها . كما في الروضة ما يفعله الناس مما يسمى بالكفارة , ومن صنع طعام للاجتماع عليه قبل الموت أو بعده , ومن الذبح على القبر , بل ذلك كله حرام

“Dan di antara bid’ah yang mungkar  dan dibenci yang diamalkan. Sebagaimana yang diterangkan di kitab ar Roudhoh (imam Nawawi), yaitu apa yang dilakukan manusia berupa menghidangkan makanan dalam acara kumpul-kumpul di rumah ahli mayit baik sebelum atau sesudah kematian, serta penyembelihan di pekuburan, semua perkara itu adalah haram.[24] Coba kita perhatikan perkataan-perkatan para sahabat dan para imam kaum muslimin di atas yang merupkan imam yang sangat dikenal di negeri kita, yang mayoritas muslimnya mengaku bermadzhab Syafi’i.

Hanya sekedar berkumpul-kumpul duduk-duduk dan keluarga mayit menyediakan makanan kepada orang yang datang saja sudah dianggap hal yang dibenci oleh para ulama dan para sahabat pun sudah menggolongkan itu termasuk bagian dati meratap. Lalu bagaimna jika mereka melihat pada masa ini, di mana kemungkaran demi kemungkaran, bid’ah demi bid’ah lebih banyak terjadi dengan adanya acara tahlilan lalu ditambah lagi dengan ketentuan acaranya harus pada hari tertentu, bacaannya pun tertentu dan lain-lain, maka sudah jelas akan lebih besar lagi kecaman yang akan mereka katakan (jika mereka hidup di zaman ini), meskipun orang-orang yang hidup di zaman ini mengaku dan mengklaim bahwa mereka juga mengikuti madzhab Syafi’i. Alangkah jauhnya perbedaan anata mereka dengan imam asy Syafi’i dan para ulama yang mengikutinya.[25]

Seseorang terkadang telah mengetahui dan memahami dengan jelas dalil-dalil yang mengharamkan tahlilan, tetapi para pelaku tahlilan yang belum mendapat hidayah ini akan membantah dan memunculkan banyak alasan untuk tetap bersikukuh dangan amalan mereka itu.

8.3 Yasinan

Ini adalah salah satu amalan yang disukai oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia. Setiap malam jum’at bisanya mereka akan berkumpul di masjid/rumah untuk membaca surat yasin yang sering dibaca bersama tahlil. Padahal hadist-hadist yang berbicara tentang yasin sebagian besarnya adalah lemah bahkan palsu/maudhu’. Dan apakah para Salaf as-Sholih pernah mengamalkannya dalam perjalanan dakwah mereka ?

Hadist-hadist tersebut adalah sebagai berikut :

– Hadist pertama

من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له

“Barangsiapa yang membaca surat yasin pada malam hari, maka dia akan diampuni dosanya di pagi harinya.”

Ibnul Jauzi mengomentari bahwa hadist ini batil tidak ada asalnya.[26]

– Hadist kedua

من قرأ { يس } مرة فكأنما قرأ القرآن عشر مرات .

“Barangsiapa membaca surat Yaasin satu kali seakan-akan ia telah membaca Al Qur an sebanyak 10 kali.”[27]

Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU

– Hadist ketiga

إِنَّ لِكُلِّ شَيْئٍ قَلْبًا وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس , مَنْ قَرَأَهَا فَكَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ عَشَرَمَرَّاتٍ.

“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu mempunyai hati dan hati (inti) Al Qur an itu ialah Yaasin. Barangsiapa yang membacanya, maka Allah akan memberikan pahala bagi bacaannya seperti pahala membaca Al Qur an sepuluh kali.”[28]

Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU

+  Hadist ini diriwayatkan oleh at Tirmidzi (4/46), dan ad Darimi (II/456), dari jalan Humaid bin Abdurrahman, dari al Hasan bin Sholih, dari Harun Abu Muhammad, dari Muqotil bin Hayyan (yang benar Muqotil bin Sulaiman) dari Qotadah secara marfu’.

+  Dalam hadist ini terdapat dua rowi yang LEMAH:

1.  Harun Abu Muhammad.

Berkata at-Tirmidzi:”Harun Abu Muhammad majhul (tidak dikenal)

2.  Muqotil bin Hayyan

Ibnu Abi Hatim berkata dalam al ‘Ilal (II/55-56):”Aku bertanya kepada ayahku tentang hadist ini. Beliau menjawab:’Muqotil yang disebutkan dalam sanad hadist ini adalah Muqotil bin Sulaiman, aku mendapati hadist ini di awal kitab yang disusun oleh Muqotil bin Sulaiman. Hadist ini adalah hadist yang batil, tidak ada asalnya.’”

Periksa: Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’ (Jilid I, hal. 312-313)

– Hadist keempat

من قرأ { يس } كل ليلة غفر له .

“Barangsiapa membaca surat Yaasin setiap malam, niscaya dosanya diampuni.”[29]

Keterangan: HADIST INI LEMAH

Dalam membahas yasinan tidaklah lengkap kalau tidak menyertakan hadist-hadist yang dipakai sebagian muslimin untuk mengamalkannya, dengan hal-hal yang berkaitan dengan pahala bagi mayit.

– Hadist pertama

من زار قبر والديه كل جمعة فقرأ عندهما أو عنده { يس } غفر له بعدد كل آية أو حرف .

“Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya setiap jum’at dan membacakan surat Yaasin di sisi kubur keduanya atau salah satunya, maka akan diampuni (dosa)nya sebanyak ayat atau huruf yang dibacanya.”[30]

Keterangan: HADIST INI (مَوْضُوْعٌ) PALSU

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy (I/286), dan Abu Nu’aim dalam Akhbaru Ashbahan (II/344-345) dan Abdul Ghoniy al Maqdisi dalam  Sunannya (II/91) dari jalan Abu Mas’ud Yazid bin Khalid. Teah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Ziyad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Salim ath Thoif dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari ‘Aisyah dari Abu Bakar secara marfu’.

– Hadist kedua

من قرأ { يس } ابتغاء وجه الله غفر الله له ما تقدم من ذنبه فاقرءوها عند موتاكم .

“Barangsiapa membaca surat Yaasin bertujuan mencari wajah Allah, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Maka bacakanlah surat itu pada orang yang mati di antara kalian.”[31]

Keterangan: HADIST INI LEMAH

*      KESIMPULAN

Pemaparan singkat di atas sudah cukup jelas bagi kita untuk mengatakan bahwa hadist-hadist yang menerangkan keutamaan surat Yaasin adalah berderajat lemah bahkan palsu. Padahal pada prinsip ibadah menurut Ahlussunnah wal Jama’ah yang ke-6 pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa para ulama melarang hadist dho’if dan maudhu’ sebagai landasan untuk beramal.

8.4 Bid’ah Maulid Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam

Maulid Nabi adalah perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad yang diadakan pada tanggal 12 robi’ul awwal oleh sebagian besar kaum muslimin. Meraka akan mengadakan berbagai acara untuk menyambut hari besar tersebut. Namun apakah amalan yang mereka lakukan itu ada tuntunannya dalam Islam ? Bagaimanakah sebenarnya sikap para ulama ahlussunnah  terhadap perayaan tersebut ? Namun dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas permasalahan-permasalahan di atas dengan ringkas saja, para pembaca bisa mendapatkan penjelasannya yang lebih lus dalam buku-buku yang dijadikan referensi penulis.

Dari penjelasan terdahulu sudah kita singgung bahwa suatu amalan ibadah di dalam agama Islam, haruslah memiliki dua landasan utama. Yakni ikhlas dan mengikuti petunjuk Rosululloh. Apabila para pelaku dan penggemar maulidan mengaku melakukan maulid dengan dasar ikhlas semata-mata karena Allah, maka tinggal syarat kedua yaitu apakah amalan mereka itu pernah ditunjukkan oleh Rosululloh sudah terpenuhi.

Jawabannya adalah apabila amal itu suatu kebaikan yang disyari’atkan tentunya Nabilah orang pertama yang akan menyeleggarakan cara tersebut. Seandainya cara itu suatu kebaikan dalam agama tentu Abu Bakar dan Umar akan bersegera untuk mengadakannya. Karena sebagai dua orang sahabat yang terdekat dan utama mereka berdua juga mertua Rosululloh. Seandainya maulidan adalah suatu hal yang disyari’atkan pasti para istri beliau, para ahli bait serta para sahabat yang dikenal dengan kecintaaan mereka yang sangat luar biasa terhadap Rosulnya pasti akan menjadi orang-orang pertama yang akan memulai peringatan kelahiran Nabi mereka yang sangat mereka agungkan dan muliakan.

Tapi kenyataannya tidak ada satupun riwayat dari mereka semua yang menyebutkan bahwa mereka memperingati, mengadakan atau merayakan hari kelahiran beliau. Bisakah anda menuduh bahwa mereka sengaja membuat umat lupa terhadap hari kelahiran beliau ? Buktinya para ulama sendiri berselisih pendapat tentang tanggal pasti kelahiran beliau.[32]

i. Sikap para ulama tentang perayaan maulid Nabi

Sikap Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Beliau berkata:

وَأَمَّا اتِّخَاذُ مَوْسِمٍ غَيْرِ الْمَوَاسِمِ الشَّرْعِيَّةِ كَبَعْضِ لَيَالِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ الَّتِي يُقَالُ : إنَّهَا لَيْلَةُ الْمَوْلِدِ أَوْ بَعْضِ لَيَالِيِ رَجَبٍ فَإِنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الَّتِي لَمْ يَسْتَحِبَّهَا السَّلَفُ وَلَمْ يَفْعَلُوهَا وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ .

“Adapun perbuatan mengadakan perayaan tahunan yang tidak pernah ditetapkan di dalam ajaran Islam seperti yang biasa diarayakan pada sebagian malam pada bulan Rabi’ul Awwal, yang disebutkan bahwa itu adalah malam maulidan, atau yang biasa dikerjakan di sebagian malam di bulan Rajab …semua itu termasuk dari perbuatan bid’ah yang tidak disukai oleh para Salaf dan mereka tidak pernah melakukannya, wallohu a’lam.[33]

Sikap imam Syatibi

Beliau berkata dalam al I’tishom:

ومنها : التزام الكيفيات والهيئات المعينة ، كالذكر بهيئة الاجتماع على صوت واحد ، واتخاذ يوم ولادة النبي صلى الله عليه وسلم عيداً ، وما أشبه ذلك .

“Dan di antara hal yang masuk ke dalam perkara bid’ah ini adalah mengadakan kaifiyat (cara), hai-at (keadaan) tertentu di dalam beribadah, seperti mengadakan dzikir dengan cara berkumpul sambil dikomandoi oleh seseorang, atau mengadakan perayaan pada hari kelahiran Nabi (maulidan) atau yang semisal dengan itu.”[34]

Sikap para ulama Lajnah Daa-imah

Para ulama kerajaan Saudi Arabia yang terkumpul dalam  Lajnah Daa-imah, yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, wakil syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi dan para anggotanya : Syaikh Abdullah bin Qu’ud dan Syaikh Abdullah bin Ghudyan. Mereka pernah ditanya dalam pertanyaan no 8340 demikian:

لدينا ميدان عام يقام فيه احتفال المولد النبوي، هل تجوز صلاة العيد أو صلاة الاستسقاء فيه؟

“Di tempat kami tinggal ada sebuah lapangan umum, yang biasa dipakai untuk maulid Nabi, apakah diperbolehkan untuk diselenggarakan sholat ‘id dan sholat istisqo’ di situ ?”

Kemudian mereka menjawabnya:

تجوز صلاة الاستسقاء وصلاة العيدين فيه، وإذا تيسرت الصلاة في غيره كان أولى، مع العلم بأن الاحتفال بالموالد بدعة يجب تركها؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم لم يفعله، ولا خلفاؤه الراشدون ولا بقية الصحابة رضي الله عنهم، ولا أتباعهم بإحسان في القرون الثلاثة المفضلة، ولأنه من وسائل الغلو والشرك بصاحب المولد.

Diperbolehkan untuk menyelenggarakan sholat istisqo’ dan sholat ‘id di tempat tersebut, namun apabila dirasa lebih mudah untuk melaksanakan sholat tadi di tempat yang lain, maka itu lebih utama. Sebagaimana dikertahui perayaan maulid Nabi merupakan perkara yang bid’ah dan wajib untuk ditinggalkan. (Alasan pertama) Karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah merayakannya, juga para khulafaur Rosyidin serta para sahabat yang lain. Demikian pula para ulama Tabi’in yang hidup pada kurun waktu yang utama, (kedua) Karena perayaan maulid Nabi dan maulid-maulid yang lainnya itu merupakan sarana yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perbuatan Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap seseorang dan juga dapat menjerumuskan de dalam perbuatan syirik.[35]

Salah satu alasan yang sering mereka gembar-gemborkan sebagai pembenar amalan mereka ini adalah orang pertama yang melakukan dan menyebarkan perayaan maulid Nabi adalah Shalahuddin al Ayyubi, seorang raja yang berhasil menguasai Baitul Maqdis dari tangan kaum salibis, pada waktu perang salib.

Tetapi di dalam buku Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tulisan Ibnu Saini bin Muhammad bin Musa., beliau memaparkan serangkaian data-data yang bersumber dari kitab-kitab tulisan para ulama yang terpercaya, yang ternyata menunjukkan bahwa orang yang melakukan dan menyebarkan maulid Nabi adalah para penguasa kerajaan ‘Ubaidiyah(yang dikenal dengan kerajaan Fathimiyah) yang beragama Syi’ah Rofidhoh Bathiniyyah Isma’iliyyah, yang telah dihukumi kafir murtad dari Islam oleh sejumlah ulama seperti, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi dan ulama lainnya.[36]

Di antara alasan-alasan para ulama melarang perayaan maulidan sebagai berikut[37] :

  1. Kesepakatan para ulama Salaf untuk tidak merayakan maulidan dan untuk meninggalkannya.
  2. Maulidan adalah sarana yang dapat menjerumuskan seseorang kepada perbuatan syirik akbar.
  3. Maulidan adalah perbuatan bid’ah, maka masuk ke dalam larangan agama.
  4. Maulidan termasuk perbuatan menyerupai orang-orang kafir.
  5. Banyaknya kemungkaran yang terjadi dalam acara perayaan maulidan.
  6. Maulidan adalah salah satu hal yang menyebabkan seseorang melalaikan kewajiban agama.
  7. Maulidan termasuk perbuatan mubazir.
  8. Maulidan hanyalah membuang waktu percuma.

[1] HR. Malik, al Muwattho’, no. 3338, Bab an Nahya ‘an al Qoul bi al Qodar, juz 5, hal. 1321, Maktabah Syamilah.

[2] HR. Bukhori, Bab at Takbir ‘inda al Harbi, no. 2991, juz 4, hal. 57, Maktabah Syamilah

[3] Ad Darimi, Sunan ad Darimi, juz 1,  hal 79, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, dan lihat pula Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi an Nawari, Al Musnad al Jami’, juz 28, hal. 379, Maktabah Syamilah

[4] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah as Shohihah, juz 5, hal 11, Maktabah Syamilah

[5] Abu Ubaidah al Atsari, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon,  Edisi I, tahun IV, 2005, hal. 15-17.

[6] Muhammad bin Idris asy Syafi’i, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II, juz 2, hal. 288

[7] HR. Bukhori, Bab adz Dzikru Ba’da Sholah, no. 841, juz 1, hal. 168, Maktabah Syamilah

[8] An Nawawi, Syarh an Nawawi ‘Ala Shohih Muslim, juz 5, hal 84, Maktabah Syamilah

[9] Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz al Malibari, Fathul Mu’in, juz 1, hal. 186, Maktabah Syamilah

[10] Abu Hamid al ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Kitab al Adzkar wa ad-Da’awaat, juz 2, hal. 95, Maktabah Syamilah

[11] HR. Abu Daud, bab Fii al Istighfar, no. 1528, juz 1, hal. 561, Maktabah Syamilah

[12] Ibnu Hajar, Fathul Bari, Qouluhu bab Maa Yukrohu min Rof’i as-Shout  fii at-Takbir, no. 2830, juz 6, hal 135, Maktabah Syamilah

[13] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII, hal. 83.

[14] HR. Ahmad, no. 6611, juz 14, hal. 149, Maktabah Syamilah

[15] Ibnu Qudamah, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani, juz 2, hal. 413, Maktabah Syamilah

[16] HR. Muslim, Bab at Tasydiid  fii an Niyahah, no. 29, juz 2, hal. 644, Maktabah Syamilah

[17] HR. Abu Daud, Bab Fii an Nauh, no. 3127, juz 3, hal. 193, Maktabah Syamilah

[18] Asy Syafi’i, al Umm, Bab al Qiyam lil Janaazah, juz 1, hal. 279

[19] Imam an Nawawi, al Majmu’ Syarah Muhadzdzab, Bab at Ta’ziyah wa al Buka’ ‘alal Mayyit, juz 5, hal. 320, Maktabah Syamilah

[20]An Nawawi, al Adzkar an Nawawiyah, hal. 149-150, Maktabah Syamilah.

[21]Ad Dimyathi, Hasyiyah I’anah ath Tholibin, juz 2, hal. 165, Maktabah Syamilah.

[22] Ibid, hal. 166

[23]Ibid, hal. 165-166

[24]Ahmad bin Salamah al Qulyubiy, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin a -Mahalliy ‘alaa Minhaj ath Tholibin, juz  1, hal. 414, Maktabah Syamilah

[25] Najmi bin Umar Bakkar, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010, hal 30-31

[26] Ibnul Jauzi, al Maudhu’aat, hal. 247, Maktabah Syamilah

[27]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5786, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III, hal. 835

[28] Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 169, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2, Jilid I, hal. 312

[29]Muhammad Nashiruddin al Albani, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, no. 5788, hal. 835

[30]Muhammad Nashiruddin al Albani, Silsilah al Ahadiits ad Dho’ifah wal Maudhu’, no. 50, hal. 126

[31]Ibid, no. 5785, hal. 834

[32] Abu Ihsan al Atsari, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, hal. 102

[33] Ahmad bin Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H, Juz 25, hal. 298

[34] Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995 M/ 1416 H, Cet. IV, hal. 53

[35] Ahmad bin ‘Abdurrozaq ad Duwaisy, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I, hal. 329

[36] Ibnu Saini, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I, hal. 25-53

[37] Ibid, hal. 113-122

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: