PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH (THE LAST)

14 02 2011

IX.    SEBAGIAN KERANCUAN BID’AH DAN JAWABANNYA

Orang-orang yang belum diberi hidayah Allah untuk meningglkan amalan-amalan bid’ah yang selama hidupnya ia lakukan, mereka akan memunculkan satu syubhat yang memang masih menutupi akal fikirnya. Mereka akan berkata:”Kok berdzikir saja dilarang, membaca Yaasin saja juga tidak boleh, bersama-sama membaca kalimat tauhid (tahlilan)  dilarang lagi, terus menyelenggarakan acara-acara ibadah semuanya dilarang. Jadi apa yang boleh ? Bukankah niat kami baik dan insya Allah ikhlas, apalagi itu semua adalah suatu bentuk perbuatan yang baik pula ? Bukankah masih banyak perbuatan maksiat lain yang lebih layak untuk dilarang ?

Sebagai jawaban atas sanggahan tersebut dan untuk mengakhiri tulisan yang sederhana ini penulis akan membawakan beberapa atsar , yang insya Allah bisa menjadi senjata kita dalam menangkis pertanyaan-pertanyaan di atas dan sebagai bantahan-bantahan seputar bid’ah.

& Jawaban Pertama:

Sa’id bin Musayyib[1] pernah melihat seorang pria yang melakukan sholat qobliyah subuh lebih dari 2 rokaat (padahal yang disunnahkan hanya 2 rokaat saja) dan orang itu ruku’ dan sujud dengan sangat lama. Melihat kejadian itu Sa’id bin Musayyib melarang dia dari melakukan perbuatan itu. Setelah orang itu mendengar nasehat dari Sa’id, pria tadi malah membantah nasehat beliau.

Pria itu menyanggah:”Wahai Abu Muhammad (panggilan Sa’id) apakah Allah akan mengadzabku lantaran aku melaksanakan sholat ini?! Sa’id bin Musayyib menjawab:”

لاَ وَلَكِنْ يُعَذِّبُكَ عَلَى خِلاَفِ السُّنَّةِ

“Tidak, (Allah tidak akan mengadzab dirimu karena sholat yang kamu lakuakan) tetapi Allah akan mengadzabmu karena kamu telah menyelisihi Sunnah (Rosululloh).”[2]

& Jawaban Kedua:

عن نافع : أن رجلا عطس إلى جنب ابن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال ابن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه و سلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال.

Dari Nafi’[3] Bahwa adaseorang laki-laki bersin di samping Ibnu Umar, orang itu lalu berkata:” الحمد لله والسلام على رسول الله(Segala puji bagi Allah dan salam kepada Rosululloh). Mendengar ucapan itu (yang telah menambah doa dari dirinya sendiri) maka Ibnu Umar berkata kepada orang itu:”Apa yang kamu katakan tadi الحمد لله والسلام على رسول الله , bukan seperti itu Rosululloh mengajarkan kepada kami, tetapi beliau mengajarkan kapada kami (ketika bersin), untuk berdoa الحمد لله على كل حال (Segala puji hanya bagi Allah dalam segala keadaan).”[4]

& Jawaban Ketiga:

عن بن جريج أن طاوسا أخبره أنه سأل بن عباس عن الركعتين بعد العصر فنهاه عنهما قال طاوس فقلت له ما أدعهما فقال ابن عباس : « نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الصلاة بعد العصر » وقال الله تعالى : وما كان لمؤمن ولا مؤمنة إذا قضى الله ورسوله أمرا أن يكون لهم الخيرة من أمرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضلالا مبينا. وما أدري تعذب عليها أم تؤجر

Dari Hisyam bin Hujair, ia berkata:”Bahwasanya Thawus biasa melaksanakan sholat dua roka’at setelah sholat ashar, maka Ibnu Abbas berkata kepada Thowus:” Tinggalkan perbuatan yang kamu lakukan (tadi)!” Thowus menimpali Ibnu Abbas dengan perkataannya:”Aku tidak akan meninggalkannya.” Ibnu Abbas berkata lagi:”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk sholar setelah sholat ashar.Dan Allah Ta’ala berfirman:”Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.”(QS. Surat Al Ahzab : 36) Dan aku tidak mengetahui apakah (orang yang melakukan sholat setelah sholat ashar akan diadzab atau akan diberi pahala.”[5]

+ Faidah dari atsar-atsar di atas:

Dari ketiga atsar di atas kiat bias mengambil suatu faidah yang sangat besar, yakni kita sebagai seorang muslim hanya diperintah agar selalu mengikuti tuntunan dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam saja. Tanpa harus membuat sesuatu yang baru dalam ibadah walaupun menurut pandangan kita, tambahan itu hanya sedikit atau baik. Lalu bagaimana apabila tambahan yang diada-adakan itu berupa perayaan besar yang tidak ada contoh dari Rosululloh ?

Intinya para ulama Ahlus Sunnah tidak pernah melarang kaum muslimin untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai macam bentuk amalan, jika amalan itu memiliki landasan syar’I dan dicontohkan oleh Rosululloh. Tetapi mereka melarang kaum muslimin beribadah apabila bentuk ibadah itu termasuk ke dalam ibadah yang bid’ah.

–  Jawaban keempat:

<>  Bid’ah Lebih dicintai Iblis daripada maksiat

Sufyan ats tsauri berkata:

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية والمعصية يتاب منها والبدعة لا يتاب منها

“Bid’ah lebih dicintai Iblis daripada maksiat. Sebab maksiat ada harapan untuk bertaubat, sedangkan bid’ah tidak ada harapan bertaubat darinya.”[6]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al Fatawa (10/9) berkata:”Maksud ungkapan: Sedangkan bid’ah tidak ada harapan untuk bertaubat darinya, ialah karena pelaku pelaku bid’ah yang membuat suatu amalan agama yang tidak disyari’atkan Allah dan Rosul-Nya, amalan buruk yang ia lakukan itu sudah dihiasi seakan-akan baik dalam pandangannya. Sehingga ia tidak akan bertaubat selama memandang bahwa amalannya itu adalah baik. Sebab taubat yang dilakukan oleh seseorang adalah berawal dari pengetahuannya, bahwa apa yang ia perbuat merupakan suatu perbuatan yang buruk, yang memnjadikannya harus bertaubat dari amalan tersebut. Atau ia bertaubat karena meninggalkan suatu amalan yang baik, berupa amalan wajib atau sunnah. Sepanjang orang itu menilai apa yang ia amalkan itu baik padahal sebenarnya itu buruk, maka sulit untuk diharapkan untuk ia bertaubat.

Namun taubat dari para pelaku bid’ah sangat dimungkinkan dan bisa saja terjadi, jika Allah memberikan hidayah dan bimbingan-Nya, sehingga menjadi jelas dan terang kebenaran bagi dirinya. Sebagaimana hidayah Allah yang diberikan kepada orang-orang kafir, munafiq dan juga kelompok-kelompok para ahli bid’ah dan kesesatan.”[7]

Juga dalam Majmu’ al Fatawa (20/103) beliau juga berkata:”Sesungguhnya pelaku bid’ah lebih jelek daripada pelaku maksiat menurut sunnah dan ijma’…Sebab pelaku maksiat dosa mereka adalah melakukan sebagian dari larangan Allah, seperti mencuri,berzina, minum minuman keras atau memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Sedangkan pelaku maksiat dosa mereka adalah meninggalkan perintah Allah berupa kewajiban untuk mengikuti sunnah Rosululloh dan jama’ah kaum mukminin.”[8]

Sebagian ahli bid’ah pernah mendatangi syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dengan maksud ingin menghiasi dan memperindah amalan bid’ah yang mereka telah lakukan. Beliau mengisahkan dialog yang terjadi antara beliau dan mereka dalam Majmu’ al Fatawa (11/472-474). Beliau berkata:“Sebagian mereka berujar:”Kami telah menjadikan manusia bertaubat.” Saya bertanya:”Dari perbuatan apa kalian membuat mereka bertaubat?” Mereka berkata:”Dari merampok, mencuri dan yang sejenisnya.”

Saya berkata:”Kondisi mereka yang bertaubat itu sebelum bertaubat jauh lebih baik dibanding kondisi mereka setelah bertaubat;sebab mereka sebelumnya adalah orang-rang fasik yang meyakini bahwa perbuatan mereka itu adalah haram dan mereka mengharap rahmat Allah serta bertaubat kepada-Nya, atau minimal mereka memiliki niat untuk bertaubat. Sekarang setelah kalian membuat mereka bertaubat, mereka menjadi tersesat lagi musyrik yang keluar dari syari’at Islam. Mereka mencintai apa yang Allah benci dan membenci apa yang Allah cintai. Saya lalu menjelaskan bahwa bid’ah yang selama ini mereka danorang-orang lain perbuat lebih buruk daripada maksiat.”

Beliau melanjutkan perkataannya:”Adapun maksiat sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori di dalam kitab Shohihnya,

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّ رَجُلًا كَانَ يُدْعَى حِمَارًا وَكَانَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَكَانَ يُضْحِكُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ كُلَّمَا أُتِيَ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَلَدَهُ الْحَدَّ فَلَعَنَهُ رَجُلٌ مَرَّةً . وَقَالَ : لَعَنَهُ اللَّهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْعَنْهُ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Dari Umar bin Khotthob bahwasanya ada seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan himar, yang sering meminum miuman keras. Ia suka sekali membuat Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa. Setiap kali ia didatangkan ke hadapan Nabi, beliau selalu mencambuknya. Setiap ia dicambuk ada seseorang yang selalu melaknat dirinya.

Orang itu berkata:”Laknat Allah (kepada Himar) betapa sering ia selalu di hadapkan kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa sallam.” Serta merta Nabi menimpali perkataan tersebut:”Janganlah engkau melaknatnya, sebab ia adalah seorang yang mencintai Allah dan Rosul-Nya.”[9]

Saya berkata (Ibnu Taimiyah):”Laki-laki ini adalah orang yang sering minum minuman keras, tetapi karena I’tiqodnya benar dan mencintai Allah dan Rosul-Nya. Rosululloh mempersaksikannya dengan hal itu dan melarang ia dilaknat. Adapun para pelaku bid’ah, sebagaimana yang disebutkan oleh Bukhori dan Muslim dalam kitab mereka, dari Ali bin Abi Tholib dan Abu Sa’id al Khudhriy:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُقَسِّمُ فَجَاءَهُ رَجُلٌ نَاتِئَ الْجَبِينِ كَثَّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقَ الرَّأْسِ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ وَقَالَ مَا قَالَ . فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ ضئضئ هَذَا قَوْمٌ يَحْقِرُ أَحَدَكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ وَقِرَاءَتَهُ مَعَ قِرَاءَتِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ ؛ لَئِنْ أَدْرَكْتهمْ لَأَقْتُلَنهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah membagikan harta, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang dahinya cekung ke dalam dan lebat jenggotnya, gundul kepalanya dan di antara kedua matanya ada bekas sujud, ia berkata dengan suatu perkataan.

Maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Dari keturunan laki-laki itu akan keluar suatu kaum yang apabila kalian melihat sholat, puasa dan bacaan Al Qur an mereka, niscaya kalian akan menganggap kecil amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Al Qur an tidak melewawti kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari Islam secepat panah lepas dari busurnya; Sungguh seandainya aku menemui mereka, pasti akan aku bunuh mereka sebagaimana dibunuhnya kaum ‘Ad.”[10]

Aku berkata (ibnu Taimiyah):”Mereka dengan amalan yang telah banyak meeka lakukan seperti sholat, puasa, baca Al Qur an dan gaya hidup mereka yang penuh dengan ibadah dan dalam kondisi yang zuhud. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam tetap memerintahkan agar mereka dibunuh. Dan akhirnya pada masa Ali bin Abi Tholib, ia bersama para sahabat Nabi membunuh mereka karena telah keluar dari sunnah dan syari’at Rosululloh.”[11]

X.    PENUTUP

Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk berilmu sebelum berbuat, karena ilmu adalah landasan kita dalam beramal,  tanpa ilmu amal yang kita lakukan bisa sia-sia dan tak bernilai di sisi Allah.

Syaikh Al Fauzan berkata:”Wajib bagi seorang muslim untuk mengenal seluruh perkara agamanya, dari sisi aqidah, dan syari’at; ia harus belajar perkara-perkara yang menyangkut aqidah dan apa yang menjadi kosekuensinya, lawannya, apa yang yang bisa menyempurnakannya, dan apa yang dapat mengikis aqidah seseorang, sampai aqidahnya benar dan selamat. Dan seorang muslim wajib pula untuk mempelajari hukum-hukum agamanya yang bersifat praktis, sehingga ia mampu melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepadanya dan meninggalkan apa yang dilarang Allah darinya dengan landasan pengetahuan. Allah berfirman :

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhab (Yang haq) melainkan Allah dan mohomlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad : 19)

Jadi Allah memulai ilmu sebelum berbicara dan berbuat. Maka wajib bagi kita untuk berilmu dan beramal; Ilmu yang tidak disertai dengan amal belumlah mencukupi, bahakan hal itu menjadikan pemiliknya dimurkai, sedangkan amal tanpa ilmu akan menjadi sia-sia; karena amal itu dalam kesesatan.”[12]

Imam Bukhori menulis dalam kitab shohihnya Bab Al ‘Ilmu Qobla al Qoul wal ‘Amal (Berilmu sebelum beramal dan berkata) lalu beliau menukil pula ayat 19 sura Muhammad di atas.[13]

Ibnu Hajar berkata:”Ibnul Munir berkata ilmu adalah syarat sahnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan benar kecuali dengan adanya ilmu. Karena ilmu harus ada lebih dahulu daripada perkataan dan perbuatan. Dengan adanya ilmu maka ia menjadi pembenar dari perkataan dan perbuatan.”[14]

Al ‘Aini berkata:”Istighfar (yakni pada ayat 19 Surat Muhammad) adalah sebuah isyarat untuk perkataan dan perbuatan.”[15]

Salah satu penyebab dari merebaknya dan menjamurnya bid’ah di dunia Islam yang palin utama adalah karena umat Islam mayoritasnya tenggelam dalam kebodohan. Mereka sudah tidak memahami lagi tentang perintah-perintah dan larangan–larangan Allah dan Rosul-Nya. Sehingga mereka menjadikan tolak ukur kebenaran dalam agama adalah hawa nafsu mereka. Wabah kebodohan ini akhrnya menjadikan kebanyakan manusia tidak mengetahui siapa orang yang sebenarnya, ia jadikan tempat bertanya untuk menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Akhirnya fenomena ini dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengaku ulama atau yang dianggap ulama oleh masyarakat di sekitarnya, untuk mengekalkan kebid’ahan yang menguntungkan diri mereka.

Hal ini senada dengan sebuah pengkabaran dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dari para hambanya dengan secara tiba-tiba. Tetapi Dia mengambil ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga apabila tidak tersisa seorang yang ‘alim, maka manusia menjadikan orang lain menjadi pemimpin yang jahil, lalu pemimpin itu ditanya dan ia berfatwa tanpa ilmu. Maka ia sesat dan menyesatkan.”[16]

XI.    KESIMPULAN

1.    Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata.

2.    Agama Islam telah sempurna dan paripurna tidak perlu ada sedikitpun penambahan dan pengurangan dari aspek apapun. Karena Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatu, baik berupa perintah atau larangan atau berita dan lain-lain.

3.    Kebanyakan masyarakat umum tidak memahami makna ibadah dengan benar. Mereka beranggapan bahwa  bentuk ibadah ialah seperti sholat, puasa, zakat, haji, berdzikir, membaca Al- Qur an dan bentuk ibadah lainnya yang lingkupnya sempit.

4.    Sunnah memiliki arti yang beragam, baik sunnah dalam terminogi Al Qur an, hadist-hadist Nabawiyah dan pemahaman para Salafus sholih.

5.    Istilah Ahlus Sunnah wal Jama’ah sudah dikenal dikalangan Salaf (generasi awal umat ini) dan para ulama sesudahnya. Istilah Ahlus Sunnah merupakan istilah yang mutlak sebagai lawan kata Ahlul Bid’ah.[17]

6.    Termasuk dari makna ibadah yang lengkap yaitu ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal – amal batin dan lahir.

7.    Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar yaitu,: hub (cinta ), khauf (takut ) roja’ ( harapan ).

8.    Ibadah bila diklasifikasikan menjadi dua ibadah umum dan khusus

9.    Syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu : Ikhlas hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan sunnah Rosullulloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.

10.    Ada 6 prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menyikapi ibadah, yaitu :

a)      Beribadah dengan benar-benar mengikuti sunnah rosululloh dan menjauhi taklid buta

b)      Pada asalnya hukum ibadah adalah terlarang.

c)      Kalau seandainya suatu amalan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya.

d)      Ibadah adalah tauqifiyyah

e)      Bersikap pertengahan dalam beribadah

f)       Beribadah dengan berlandaskan sumber yang jelas dan pasti dari Rosululloh

11.  Penyebab munculnya bid’ah di antaranya adalah[18], kebodohan terhadap syari’at, berbaik sangka terhadap akal, dan mengikuti hawa nafsu, dan munculnya hadist dho’if dan maudhu’.

12.  Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, para sahabat beliau, para ulama Ahlus Sunnah sangat menentang amalan bid’ah yang dilakukan manusia dari zaman ke zaman. Termasuk para ulama madzhab Syafi’i.

13.  Bid’ah adalah penyebab mundurnya umat Islam dan jauhnya rahmat Allah. Sebab bid’ah merupakan suatu hal yang dibenci oleh Allah dan Rosul-Nya.

14.  Yang dilarang dan diingkari oleh para ulama bukanlah pada dzikir, doa,baca Al Qur an nya, karena tidak diragukan amalan-amalan itu adalah sangat dianjurkan dalam Islam. Tetapi yang dilarang adalah kaifiyyah/cara pelaksanaan dan waktu pelaksanaannya yang tidak pernah dicontohkan oleh Rosululloh dan para sahabat beliau.

15.  Ketika membantah ahlul bid’ah seharusnya kita menghiasi bantahan tersebut dengan ilmu dan dalil-dalil[19]

XII.     DAFTAR PUSTAKA


Al Qur an terjemahan DEPAG

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Al Masaa-il, Jakarta; Darus Sunnah, Cet. V, Jilid 3.

——-, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V.

——-, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V.

Abu Ihsan, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.

Abu Ubaidah, “Gema Dzikir Bersama”, Majalah al Furqon,  Edisi I, tahun IV, 2005.

Ad Duwaisy, Ahmad bin ‘Abdurrozaq, Fatawa Lajnah Daa-imah, Riyadh;Dar al ‘Ashimah, 1996 M/1416 H, Juz 8, Cet. I.

Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Dho’if al Jami’ ash Shoghir, Beirut;Maktabah al Islami, 1990 M/1410 H, Cet. III.

——-, Shifat Sholat Nabi, Maktabah al-Ma’arif;Riyadh, 2004 M/ 1424 H.

——-, Silsilah al Ahadiits ad-Dho’ifah wal Maudhu’, Riyadh;Maktabah al Ma’arif, 2000 M/1420 H, Cet. 2.

Al Aql, Nashir bin Abdul Karim, Mafhum Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar al-Wathon;Riyadh.

Al Halabi, Ali bin Hasan, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz Dzahabi, 2009, Cet II.

Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Dar ath Thoyyibah;Riyadh, 2005 M/1426 H, juz I, Cet. IX.

Ath Thohhan,  Mahmud, Taisir Mustholah al Hadist.

Az Zawi, Dhohir Ahmad, Tartib al Qomus al Muhith,Dar al’Alam al Kutub;Riyadh, 1996 M/1417 H.

Ihsan, Abu, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.

Jauzi, Ibnul, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah.

Jawaz, Yazid bin Abdul Qodir, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’i, Cet. VII.

Pusat Pembinaan dan PEngembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka;Jakarta, 1999, cet X, edisi kedua.

Ritonga, Rahman dan Zainuddin, Fiqh Ibadah,Gaya Media Pratama;Jakarta, 2002, cet. II.

Saini,Ibnu, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I.

Syafi’i, Muhammad bin Idris, al Umm, al Manshuroh; Dar al Wafa’, 2005 M/1426 H, Cet. II.

Syatibi, al I’tishom, al Mamlakah al ‘arobiyyah as Su’udiyyah;Dar Ibn ‘Affan, 1995/ 1416 H M, Cet. IV.

Taimiyyah, Ahmad,  Majmu’ Fatawa, 1997 M/1418 H.

Tuwaijiri, Abdullah bin Abdul Aziz, Ritual Bid’ah Dalam Setahun, Terj. Munirul Abidin, Jakarta;Darul Falah, 2009, Cet. VI.

Umar Bakkar, Najmi, Tahlilan Menurut Para Sahabat Nabi Imam Syafi’i, Ulama Asy Syafi’iyyah, dan yang lainnya, Depok;Jadid Pustaka, 2010.

Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I

——-, adh Dhiya’ al Lami’ min Khutob al Jami’, Riyadh;Riasah al ‘Ammah li Idarotil Buhuts al ‘ilmiyyah wal Ifata’ wadda’wah wal Irsyad,1980 M/1400 H, juz 1, Cet. II

Zaen, Abdullah, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta

Maktabah Syamilah :

‘Abidin, Ibnu, Hasyiyah Rodd al-Mukhtar ‘Ala ad Dar al Mukhtar Syarhu tanwiir al-Abshor

Al Munajjid, Muhammad Sholih, Fatawa al Islam Su’al wa Jawab

Ad Darimi, Sunan ad-Darimi

——-, Hasyiyah I’anah ath-Tholibin

Ahmad, Musnad Ahmad

Al ‘Aini, Badaruddin, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori

Al Albani, Muhammad Nashiruddin, Silsilah as Shohihah

——-, Dho’if al Jami’ ash Shoghir

——-, Irwa-ul Gholil

Al Baghdadi, al Khotib, al Faqih wal Mutafaqqih

Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan

Al ghazali, Abu Hamid, Ihya’ Ulumuddin

Al Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain

Al-Haitami, Ibnu Hajar, Tuhfah al-Muhtaj fi Syarhi al-Minhaj

al Malibari, Zainuddin bin ‘Abdul ‘Aziz, Fathul Mu’in

Al Qulyubiy, Ahmad bin Salamah, Hasyiyah Qulyubiy ‘alaa Syarh Jalaluddiin al-Mahalliy ‘alaa Minhaj ath-Tholibin

An Nawari, Abu al Fadhl as Sayyid abu al Mu’athi, Al Musnad al Jami’

An Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab

——-, Syarh an Nawawi ‘alaa Muslim

——-, al Adzkar an Nawawiyah

Ar Ru’ainiy, Al Khattob, Mawahib al-Jaliil li Syarhi Mukhtashor al-Kholil

As Sudais, Abdur Rohman, Durus Syaikh Abdur Roman as-Sudais

As Syatibi, I’tishom

At Thobroni, al Mu’jam al-Kabir

At Tirmidzi, Sunan at Tirmidzi

Ath Thobari, Shorihus Sunnah

Baghowi, Syarh as Sunnah lil Imam Baghowi

Baihaqi, as Sunan al Kubro lil Baihaqi

Bin Baz, Abdul Aziz bin Abdullah, Durus Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Bukhori, Shohih Bukhori

Daud, Abu, Sunan Abu Daud

Hajar, Ibnu, Fathul Bari

Jauzi, Ibnul, al Maudhu’aat

Katsir, Ibnu, Tafsir Al Qur an Al Adzim

Majah, Ibnu, Sunan Ibnu Majah

Malik, al-Muwatho’Riwayah Yahya al-Laitsi

Mandhur, Ibnu, Lisan al-Arob

Muslim, Shohih Muslim

Qudamah, Ibnu, al Mughni fii Fiqhi al Imam Ahmad bin Hambal asy Syaibani

Rojab, Ibnu, Jami’ al ‘Ulum wal Hikam

Syafi’i, ar Risalah

——-,Musnad asy Syafi’i

Taimiyah, Ibnu, Majmu’ al Fatawa

——- , al Ubudiyah


[1] Seorang imam yang alim, ulama  Madinah dan pemimpin para tabi’in di zamannya. Lahir dua tahun setelah pengangkatan Umar sabagai khalifah. Beliau banyak mendengar hadist dari kalangan para sahabat, seperti Umar, Utsman, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, ‘Aisyah, Abu Huroiroh,Ibnu Abbas dan lain-lainnya. Lihat adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala’, Beirut;Muassasah ar Risalah, 2001 M/1422 H, juz 4, Cet. XI, hal. 217-218

[2] Baihaqi, as Sunan al Kubro, Bab Man Lam Yusholli Ba’dal Fajri Illa Rok’atainil Fajri Tsumma Baadaro Bil Fardhi, juz 2, hal 466, lihat pula Muhammad Nashiruddin al Albani, Irwa-ul Gholil, juz 2, hal. 236, Maktabah Syamilah

[3] Budak Ibnu Umar yang telah beliau merdekakan.

[4] HR. at Tirmidzi, no. 2738, Bab Maa Yaqulu al ‘Athisu Idza ‘Athosa, juz 5, hal. 81, dihasankan oleh Syaikh al Albani

[5]Al Hakim, Mustadrok ‘Alaa Shohihain, no. 373, Kitabul ‘Ilmi, juz 1, hal. 192, lihat pula al Khotib al Baghdadi, al Faqih wal Mutafaqqih, Bab Ta’dhim as Sunnah wal Hatstsu ‘Alaa at Tamassuk biha wa at Tasliim lahaa wal Inqidadh ilaihaa, juz 1, hal 430, dan lihat pula asy Syafi’i, ar Risalah, Tahqiq Ahmad Syakir, hal. 420 dengan sanad yang lainnya, Maktabah Syamilah

[6]Al Lalika-i, Syarh Ushul I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 149, lihat pula Ibnul Jauzi, Talbisul Iblis, Maktabah ats Tsaqofah ad Diniyyah

[7] Ibnu Taimiyah, Majmu’  al Fatawa, juz 10, hal. 9, Maktabah Syamilah

[8] Ibid, juz 20, hal. 103-104

[9] HR. Bukhori, Bab Maa Yukrohu min La’ni Syaribil Khomr wa Innahu Laisa bi Khorijin minal Millah, no. 6780, juz 8, hal. 158, Maktabah Syamilah

[10] HR. Bukhori, Bab al Arwah Junudun Mujanndah, no. 3344, juz 4, hal. 137 dan HR. Muslim, no. 1064, juz 2, hal. 741, Maktabah Syamilah

[11] Ibnu Taimiyah, Majmu’ al  Fatawa, juz 11, hal, 472-474, Maktabah Syamilah

[12] Al Fauzan, al Muntaqo min Fatawa al Fauzan, juz 22, hal. 22, Maktabah Syamilah

[13] Bukhori, Shohih Bukhori, juz 1, hal. 24, Maktabah Syamilah

[14] Ibnu Hajar, Fathul Bari, juz 1, hal. 160, Maktabah Syamilah

[15] Badaruddin al ‘Aini, ‘Umdatul Qori Syarh Shohih al Bukhori, juz 2, hal. 476, Maktabah Syamilah.

[16] HR. Bukhori, Bab Kaifa Yuqbadhu al Ilmu, no. 100, juz 1, hal. 32, Maktabah Syamilah

[17] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 43

[18] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V, hal. 81-82 dan hal. 70.

[19] Abdullah Zaen, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta.

WALLAHU A’LAM BISSHOWAB

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: