PRINSIP AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH DALAM IBADAH (REVISI)

9 02 2011

Tulisan ini adalah sebuah makalah yang ditulis sebagai tugas akhir kuliah pada semester 7 mata kuliah reading course. Dan akan kami muat secara bagian perbagian. Kami harap tulisan ini bisa memberikan secercah pemahaman bagi para pembaca Amiin.

Oleh : David Tugas Setyawan

 

PRINSIP[1] AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH Dalam Ibadah

  1. PENDAHULUAN

Setiap muslim dan muslimah harus mengetahui hakekat ibadah yang sebenarnya agar amalan yang dikerjakannya diberikan ganjaran kebaikan oleh Allah Azza wa Jalla. Dan karena untuk beribadah kepada Allah lah jin dan manusia diciptakan di muka bumi ini. Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembak-Ku(56) Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.”(QS. Adz-Dzariyat : 56-57)

Allah memberitahukan  bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya;karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barang siapa yang menolak beribadah  kepada Allah, ia adalah sombong. Barang siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyariatkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ ( pelaku bid’ah ). Dan barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyariatkan-Nya maka ia adalah mukmin muwahhid ( yang mengesakan Allah ).[2]

1.1       Sebuah Pengantar Tentang Kesempurnaan Islam

  1. Pengkabaran Allah Azza wa Jalla tentang kesempurnaan Islam

Allah Azza wa Jalla berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(Al Maidah : 3)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, berkata:“Hal ini merupakan nikmat Allah Azza wa Jalla yang terbesar yang dianugerahkan kepada umat ini, karena Allah telah menyempurnakan agama mereka. Sehingga mereka tidak memerlukan agama selain agama mereka, juga tidak perlu kepada Nabi selain Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena itulah Allah menjadikan beliau sebagai penutup para Nabi, dan mengutus dirinya kepada manusia dan jin. Tidak ada yang halal kecuali apa yang dihalalkan oleh Rosululloh,tidak ada yang haram kecuali apa yang diharamkannya, dan tidak ada agama selain apa yang beliau syari’atkan. Dan semua yang Rosululloh kabarkan adalah benar, jujur, tidak ada sedikit pun kedustaan dan penyimpangan di dalamnya.” Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا

“Telah sempurnalah kalimat Robb mu sebagai kalimat yang benar dan adil”(Al An’am: 115)

Artinya: benar dalam pemberitaan, adil dalam perintah dan larangan. Ketika Dia menyempurnakan bagi mereka agama mereka, sempurna pulalah nikmat bagi mereka.[3]

Dari Thoriq bin Syihab, dari Umar bin Khottob:

“Seorang laki-laki dari kaum Yahudi berkata kepada Umar,”Wahai amirul mu’minin ada sebuah ayat  dalam kitab kalian yang sering kalian baca, seandainya ayat tersebut turun kepada kami kaum Yahudi, niscaya sungguh akan kami jadikan hari turunnya ayat itu hari raya. Umar bertanya,”Ayat yang manakah itu ?” Laki-laki tadi menjawab,”

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا.

Umar berkata,”Sungguh kami telah mengetahui hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu ketika beliau berdiri di ‘Arofah pada hari jum’at.”[4]

  1. Pengkabaran Rosululloh tentang kesempurnaan Islam

Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عن المطلب بن حنطب ، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : « ما تركت شيئا مما أمركم الله به

إلا وقد أمرتكم به ، ولا شيئا مما نهاكم الله عنه إلا وقد نهيتكم عنه.

Dari Muthollib bin Hanthab:”Sesungguhnya Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Tidaklah aku tinggalkan sesuatu pun dari perintah-perintah Allah kepada kalian melainkan telah aku perintahkan kepadamu. Dan tidak ada sesuatu pun dari larangan-larangan Allah kepada kalian melainkan telah aku larang untuk mengerjakannya.”[5]

  1. Atsar Salaf as Sholih tentang kesempurnaan Islam

عن أبي ذر : قال : تركنا رسول الله صلى الله عليه و سلم وما طائر يقلب جناحيه في الهواء إلا وهو يذكرنا منه علما قال فقال صلى الله عليه و سلم : ( ما بقي شيء يقرب من الجنة ويباعد من النار إلا وقد بين لكم )

Dari Abu Dzar berkata:”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam telah meninggalkan kita(wafat)  dan tidak seekor burung pun yang mengepakkan kedua sayapnya, melainkan telah beliau terangkan ilmunya kepada kami.”

Berkata Abu Dzar:”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam telah bersabda,”Tidak tinggal sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan kalian ke neraka kecuali telah aku terangkan kepada kalian.”[6]

Maksud Abu Dzar di atas ialah sesungguhnya Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah menjelaskan kepada umatnya segala sesuatu, baik berupa perintah atau larangan atau berita dan lain-lain.[7]

1.2       Masalah

  1. Kaum Muslimin pada umumnya tidak memahami apa yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah wal Jam’ah  dan siapakah mereka sebnarnya.
  2. Kebanyakan masyarakat umum tidak memahami makna ibadah. Mereka beranggapan bahwa ibadah hanya sebatas amalan-amalan seprti : sholat, zakat, puasa, haji, berdzikir, baca Al Qur an dan ibadah-ibadah lainnya yang hanya berdimensi vertikal semata anatara hamba dengan sang Khalik saja.
  3. Kaidah yang salah dalam memahami ibadah.
  4. Pengamalan praktek ibadah yang tidak sesuai dengan petunjuk Rosulullah dan para sahabat.
  5. Banyak sekali ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dari islam tersebar di tengah – tengah masyarakat. Bahkan kita menemukan dari hari ke hari amalan-amalan tersebut semakin bertambah dan dikemas dengan model-model yang baru.
  6. Ada dua bentuk kesalahan manusia dalam memahami hakekat ibadah. Pertama, berlebihan dalam mewujudkan kecintaan. Kedua, orang mengira bahwa kecintaan itu menafikan rasa takut dan cemas kepada Allah.[8]
  7. Penggunaan hadist-hadist dho’if (lemah) dan maudhu’ (palsu) sebagai landasan dalam beribadah. Ini merupakan salah satu penyebab munculnya berbagai macam bentuk ibadah yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad.
  8. Maraknya penyebaran buku-buku agama Islam yang memberikan pemahaman yang salah dan menyimpang mengenai ibadah. Misalnya :

®  Amaliyah Sunnah yang dinilai Bid’ah, tulisan : Drs. KH. Sufyan Raji Abdullah, Lc. Terbitan Pustaka al Riyadh, cetakan perdana Mei 2006.

®  Bid’ahkah Yasinan dan Bacaan Al Qur an Untuk Orang Mati, tulisan : Drs. KH. Sufyan Raji Abdullah, Lc. Terbitan Pustaka al Riyadh, cetakan perdana April 2006.


[1] Asas (kebenaran yg menjadi pokok dasar berpikir, bertindak, dsb); dasar, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka;Jakarta, 1999, cet X, edisi kedua, hal. 788.

[2] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’i, Cet. VII, hal 185.

[3] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur an Al Adzim, juz 3, hal. 26, Maktabah Syamilah

[4] HR. Bukhori, Bab Hajjah al-Wada’, no. 4407, juz 5, hal. 177, Maktabah Syamilah

[5] Al Baihaqi, as-Sunan al Kubro lil Baihaqi, Bab Dalil ‘Ala Annahu Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam la yuqtada bihi fiima khussho bihi wa Yuqtada bihi fiima siwahu, no. 13221, juz 7, hal. 76, lihat pula asy Syafi’i, Musnad asy Syafi’i, no. 1153, hal. 233, Maktabah Syamilah

[6] At-Thobroni, al-Mu’jam al-Kabir, juz 3, hal. 155, Maktabah Syamilah

[7] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan;Jakarta, 2010, Cet. V, hal. 218

[8] Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, Gaya Media Pratama;Jakarta, 2002, cet. II, hal. 5





Be carefull four your faith my dear friends !!

11 01 2011
DAFTAR BUKU-BUKU SYIAH
YANG SUDAH DITERBITKAN DI INDONESIA
 
 Penerbit : Lentera

1.    Akhlak Keluarga Nabi, Musa Jawad Subhani
2.    Ar-Risalah, Syaikh Ja'far Subhani
3.    As-Sair Wa As-suluk, Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba'i Bahrul Ulum
4.    Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Khalil Al Musawi
5.    Bagaimana Menjadi Orang Bijaksana, Khalil al-Musawi
6.    Bagaimana Menyukseskan Pergaulan, Khalil al-Musawi
7.    Belajar Mudah Tasawuf, Fadlullah Haeri
8.    Belajar Mudah Ushuluddin, Syaikh Nazir Makarim Syirasi
9.    Berhubungan dengan Roh, Nasir Makarim Syirazi
10.  Ceramah-Ceramah (1), Murtadha Muthahhari
11.  Ceramah-Ceramah (2), Murtadha Muthahhari
12.  Dunia Wanita Dalam Islam, Syaikh Husain Fadlullah
13.  Etika Seksual dalam Islam, Murtadha Muthahhari
14.  Fathimah Az-Zahra, Ibrahim Amini
15.  Fiqih Imam Ja'far Shadiq [1], Muhammad Jawad Mughniyah
16.  Fiqih Imam Ja'far Shadiq Buku [2], Muh Jawad Mughniyah
17.  Fiqih Lima Mazhab, Muh Jawad Mughniyah
18.  Fitrah, Murthadha Muthahhari
19.  Gejolak Kaum Muda, Nasir Makarim Syirazi
20.  Hak-hak Wanita dalam Islam, Murtadha Muthahhari
21.  Imam Mahdi Figur Keadilan, Jaffar Al-Jufri (editor)
22.  Kebangkitan di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
23.  Keutamaan & Amalan Bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan,Sayid Mahdi
al-Handawi
24.  Keluarga yang Disucikan Allah, Alwi Husein, Lc
25.  Ketika Bumi Diganti Dengan Bumi Yang Lain, Jawadi Amuli
26.  Kiat Memilih Jodoh, Ibrahim Amini
27.  Manusia Sempurna, Murtadha Muthahhari
28.  Mengungkap Rahasia Mimpi, Imam Ja'far Shadiq
29.  Mengendalikan Naluri, Husain Mazhahiri
30.  Menumpas Penyakit Hati, Mujtaba Musawi Lari
31.  Metodologi Dakwah dalam Al-Qur'an, Husain Fadhlullah
32.  Monoteisme, Muhammad Taqi Misbah
33.  Meruntuhkan Hawa Nafsu Membangun Rohani, Husain Mazhahiri
34.  Memahami Esensi AL-Qur'an, S.M.H. Thabatabai
35.  Menelusuri Makna Jihad, Husain Mazhahiri
36.  Melawan Hegemoni Barat, M. Deden Ridwan (editor)
37.  Mengenal Diri, Ali Shomali
38.  Mengapa Kita Mesti Mencintai Keluarga Nabi Saw, Muhammad Kadzim Muhammad Jawad
39.  Nahjul Balaghah, Syarif Radhi (penyunting)
40.  Penulisan dan Penghimpunan Hadis, Rasul Ja'farian
41.  Perkawinan Mut'ah Dalam Perspektif Hadis dan Tinjauan Masa Kini, Ibnu Mustofa (editor)
42.  Perkawinan dan Seks dalam Islam, Sayyid Muhammad Ridhwi
43.  Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur'an (1), Murtadha Muthahhari
44.  Pelajaran-Pelajaran Penting Dalam Al-Qur'an (2), Murtadha Muthahhari
45.  Pintar Mendidik Anak, Husain Mazhahiri
46.  Rahasia Alam Arwah, Sayyid Hasan Abthahiy
47.  Suara Keadilan, George Jordac
48.  Yang Hangat dan Kontroversial dalam Fiqih, Ja'far Subhani
49.  Wanita dan Hijab, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Pustaka Hidayah

1.    14 Manusia Suci, WOFIS IRAN
2.    70 Salawat Pilihan, Al-Ustads Mahmud Samiy
3.    Agama Versus Agama, Ali Syari'ati
4.    Akhirat dan Akal, M Jawad Mughniyah
5.    Akibat Dosa, Ar-Rasuli Al-Mahalati
6.    Al-Quran dan Rahasia angka-angka, Abu Zahrah Al Najdiy
7.    Asuransi dan Riba, Murtadha Muthahhari
8.    Awal dan Sejarah Perkembangan Islam Syiah, S Husain M Jafri
9.    Belajar Mudah Ushuluddin, Dar al-Haqq
10.  Bimbingan Keluarga dan Wanita Islam, Husain Ali Turkamani
11.  Catatan dari Alam Ghaib, S Abd Husain Dastaghib
12.  Dari Saqifah Sampai Imamah, Sayyid Husain M. Jafri
13.  Dinamika Revolusi Islam Iran, M Riza Sihbudi
14.  Falsafah Akhlak, Murthadha Muthahhari
15.  Falsafah Kenabian, Murthada Muthahhari
16.  Gerakan Islam, A. Ezzati
17.  Humanisme Antara Islam dan Barat, Ali Syari'ati
18.  Imam Ali Bin Abi Thalib & Imam Hasan bin Ali Ali Muhammad Ali
19.  Imam Husain bin Ali & Imam Ali Zainal Abidin Ali Muhammad Ali
20.  Imam Muhammad Al Baqir & Imam Ja'far Ash-Shadiq Ali Muhammad Ali
21.  Imam Musa Al Kadzim & Imam Ali Ar-Ridha Ali Muhammad Ali
22.  Inilah Islam, SMH Thabataba'i
23.  Islam Agama Keadilan, Murtadha Muthahhari
24.  Islam Agama Protes, Ali Syari'ati
25.  Islam dan Tantangan Zaman, Murthadha Muthahhari
26.  Jejak-jejak Ruhani, Murtadha Muthahhari
27.  Kepemilikan dalam Islam, S.M.H. Behesti
28.  Keutamaan Fatimah dan Ketegaran Zainab, Sayyid Syarifuddin Al Musawi
29.  Keagungan Ayat Kursi, Muhammad Taqi Falsafi
30.  Kisah Sejuta Hikmah, Murtadha Muthahhari
31.  Kisah Sejuta Hikmah [1], Murthadha Muthahhari
32.  Kisah Sejuta Hikmah [2],Murthadha Muthahhari
33.  Memilih Takdir Allah, Syaikh Ja'far Subhani
34.  Menapak Jalan Spiritual, Muthahhari & Thabathaba'i
35.  Menguak Masa Depan Umat Manusia, Murtadha Muthahhari
36.  Menolak Isu Perubahan Al-Quran, Rasul Ja'farian
37.  Mengurai Tanda Kebesaran Tuhan, Imam Ja'far Shadiq
38.  Misteri Hari Pembalasan, Muhsin Qara'ati
39.  Muatan Cinta Ilahi, Syekh M Mahdi Al-syifiy
40.  Nubuwah Antara Doktrin dan Akal, M Jawad Mughniyah
41.  Pancaran Cahaya Shalat, Muhsin Qara'ati
42.  Pengantar Ushul Fiqh, Muthahhari & Baqir Shadr
43.  Perayaan Maulid, Khaul dan Hari Besar Islam, Sayyid Ja'far Murtadha al-Amili
44.  Perjalanan-Perjalanan Akhirat, Muhammad Jawad Mughniyah
45.  Psikologi Islam, Mujtaba Musavi Lari
46.  Prinsip-Prinsip Ijtihad Dalam Islam, Murtadha Muthahhari& M. Baqir Shadr
47.  Rasulullah SAW dan Fatimah Ali Muhammad Ali
48.  Rasulullah: Sejak Hijrah Hingga Wafat, Ali Syari'ati
49.  Reformasi Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
50.  Salman Al Farisi dan tuduhan Terhadapnya, Abdullah Al Sabitiy
51.  Sejarah dalam Perspektif Al-Quran, M Baqir As-Shadr
52.  Tafsir Surat-surat Pilihan [1], Murthadha Muthahhari
53.  Tafsir Surat-surat Pilihan [2], Murthadha Muthahhari
54.  Tawasul, Tabaruk, Ziarah Kubur, Karamah Wali, Syaikh Ja'far Subhani
55.  Tentang Dibenarkannya Syafa'at dalam Islam, Syaikh Ja'far Subhani
56.  Tujuan Hidup, M.T. Ja'fari
57.  Ummah dan Imamah, Ali Syari'ati
58.  Wanita Islam & Gaya Hidup Modern, Abdul Rasul Abdul Hasan al-Gaffar

Penerbit : MIZAN

1.    40 Hadis [1], Imam Khomeini
2.    40 Hadis [2], Imam Khomeini
3.    40 Hadis [3], Imam Khomeini
4.    40 Hadis [4], Imam Khomeini
5.    Akhlak Suci Nabi yang Ummi, Murtadha Muthahhari
6.    Allah dalam Kehidupan Manusia, Murtadha Muthahhari
7.    Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami-Istri, Ibrahim Amini
8.    Berhaji Mengikuti Jalur Para Nabi, O.Hasem
9.    Dialog Sunnah Syi'ah, A Syafruddin al-Musawi
10.  Eksistensi Palestina di Mata Teheran dan Washington, M Riza Sihbudi
11.  Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari
12.  Falsafatuna, Muhammad Baqir Ash-Shadr
13.  Filsafat Sains Menurut Al-Quran, Mahdi Gulsyani
14.  Gerakan Islam, A Ezzati
15.  Hijab Gaya Hidup Wanita Muslim, Murtadha Muthahhari
16.  Hikmah Islam, Sayyid M.H. Thabathaba'i
17.  Ideologi Kaum Intelektual, Ali Syari'ati
18.  Ilmu Hudhuri, Mehdi Ha'iri Yazdi
19.  Islam Aktual, Jalaluddin Rakhmat
20.  Islam Alternatif, Jalaluddin Rakhmat
21.  Islam dan Logika Kekuatan, Husain Fadhlullah
22.  Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, Ali Syari'ati
23.  Islam Dan Tantangan Zaman, Murtadha Muthahhari
24.  Islam, Dunia Arab, Iran, Barat Dan Timur tengah, M Riza Sihbudi
25.  Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah-Syi'ah, A Syafruddin Al Musawi
26.  Jilbab Menurut Al Qur'an & As Sunnah, Husain Shahab
27.  Kasyful Mahjub, Al-Hujwiri
28.  Keadilan Ilahi, Murtadha Muthahhari
29.  Kepemimpinan dalam Islam, AA Sachedina
30.  Kritik Islam Atas Marxisme dan Sesat Pikir Lainnya, Ali Syari'ati
31.  Lentera Ilahi Imam Ja'far Ash Shadiq
32.  Manusia dan Agama, Murtadha Muthahhari
33.  Masyarakat dan sejarah, Murtadha Muthahhari
34.  Mata Air Kecemerlangan, Hamid Algar
35.  Membangun Dialog Antar Peradaban, Muhammad Khatami
36.  Membangun Masa Depan Ummat, Ali Syari'ati
37.  Mengungkap Rahasia Al-Qur'an, SMH Thabathaba'i
38.  Menjangkau Masa Depan Islam, Murtadha Muthahhari
39.  Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer, Jalaluddin Rakhmat
40.  Menyegarkan Islam, Chibli Mallat (*0
41.  Menjelajah Dunia Modern, Seyyed Hossein Nasr
42.  Misteri Kehidupan Fatimah Az-Zahra, Hasyimi Rafsanjani
43.  Muhammad Kekasih Allah, Seyyed Hossein Nasr
44.  Muthahhari: Sang Mujahid Sang Mujtahid, Haidar Bagir
45.  Mutiara Nahjul Balaghah, Muhammad Al Baqir
46.  Pandangan Dunia Tauhid,. Murtadha Muthahhari
47.  Para Perintis Zaman Baru Islam,Ali Rahmena
48.  Penghimpun Kebahagian, M Mahdi Bin Ad al-Naraqi
49.  PersinggahanPara Malaikat, Ahmad Hadi
50.  Rahasia Basmalah Hamdalah, Imam Khomeini
51.  Renungan-renungan Sufistik, Jalaluddin Rakhmat
52.  Rubaiyat Ummar Khayyam, Peter Avery
53.  Ruh, Materi dan Kehidupan, Murtadha Muthahhari
54.  Spritualitas dan Seni Islam, Seyyed Hossein Nasr
55.  Syi'ah dan Politik di Indonesia, A. Rahman Zainuddin (editor)
56.  Sirah Muhammad, M. Hashem
57.  Tauhid Dan Syirik, Ja'far Subhani
58.  Tema-Tema Penting Filsafat, Murtadha Muthahhari
59.  Ulama Sufi & Pemimpin Ummat, Muhammad al-Baqir

Penerbit : YAPI JAKARTA

1.    Abdullah Bin Saba' dalam Polemik, Non Mentioned
2.    Abdullah Bin Saba' Benih Fitnah, M Hashem
3.    Al Mursil Ar Rasul Ar Risalah, Muhammad Baqir Shadr
4.    Cara Memahami Al Qur'an, S.M.H. Bahesti
5.    Hukum Perjudian dalam Islam, Sayyid Muhammad Shuhufi
6.    Harapan Wanita Masa Kini, Ali Shari'ati
7.    Hubungan Sosial Dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
8.    Imam Khomeini dan Jalan Menuju Integrasi dan Solidaritas Islam, Zubaidi Mastal
9.    Islam Dan Mazhab Ekonomi, Muhammad Baqir Shadr
10.  Kedudukan Ilmu dalam Islam, Sayyid Muh Suhufi
11.  Keluarga Muslim, Al Balaghah Foundation
12.  Kebangkitan Di Akhirat, Nasir Makarim Syirazi
13.  Keadilan Ilahi, Nasir Makarim Syirazi
14.  Kenabian, Nasir Makarim Syirazi
15.  Kota Berbenteng Tujuh, Fakhruddin Hijazi
16.  Makna Ibadah, Muhammad Baqir Shadr
17.  Menuju Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
18.  Mi'raj Nabi, Nasir Makarim Syrazi
19.  Nasehat-Nasehat Imam Ali, Non Mentioned
20.  Prinsip-Prinsip Ajaran Islam, SMH Bahesti
21.  Perjuangan Melawan Dusta, Bi'that Foundation
22.  Persaudaraan dan Persahabatan, Sayyid Muh Suhufi
23.  Perjanjian Ilahi Dalam Al-Qur'an, Abdul Karim Biazar
24.  Rasionalitas Islam, World Shi'a Muslim Org.
25.  Syahadah, Ali Shari'ati
26.  Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
27.  Sebuah Kajian Tentang Sejarah Hadis, Allamah Murthadha Al Askari
28.  Tauhid, Nasir Makarim Syirazi
29.  Wasiat Atau Musyawarah, Ali Shari'ati
30.  Wajah Muhammad, Ali Shari'ati

Penerbit : YAPI Bangil

1.    Akal dalam Al-Kafi, Husein al-Habsyi
2.    Ajaran- ajaran Al-Quran, Sayid T Burqi & Bahonar
3.    Bimbingan Sikap dan Perilaku Muslim, Al Majlisi Al-Qummi
4.    Hawa Nafsu, M Mahdi Al Shifiy
5.    Konsep Ulul Amri dalam Mazhab-mazhab Islam, Musthafa Al Yahfufi
6.    Kumpulan Khutbah Idul Adha, Husein al-Habsyi
7.    Kumpulan Khutbah Idul Fitri, Husein al-Habsyi
8.    Metode Alternatif Memahami Al-Quran, Bi Azar Syirazi
9.    Manusia Seutuhnya, Murtadha Muthahhari
10.  Polemik Sunnah-Syiah Sebuah Rekayasa, Izzudddin Ibrahim
11.  Pesan Terakhir Rasul, Non Mentioned
12.  Pengantar Menuju Logika, Murtadha Muthahhari
13.  Shalat Dalam Madzhab AhlulBait, Hidayatullah Husein Al-Habsyi

Penerbit : Rosdakarya

1.    Catatan Kang Jalal, Jalaluddin Rakhmat
2.    Derita Putri-Putri Nabi, M. Hasyim Assegaf
3.    Fatimah Az Zahra, Jalaluddin Rakhmat
4.    Khalifah Ali Bin Abi Thalib, Jalaluddin Rakhmat
5.    Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat
6.    Rintihan Suci Ahlul Bait Nabi, Jalaluddin Rakhmat
7.    Tafsir Al fatihah: Mukaddimah, Jalaluddin Rakhmat
8.    Tafsir Bil Ma'tsur, Jalaluddin Rakhmat
9.    Zainab Al-Qubra, Jalaluddin Rakhmat

Penerbit : Al-Hadi

1.    Al-Milal wan-Nihal, Ja'far Subhani
2.    Buku Panduan Menuju Alam Barzakh, Imam Khomeini
3.    Fiqh Praktis, Hasan Musawa

Penerbit : CV Firdaus

1.    Al-Quran Menjawab Dilema keadilan, Muhsin Qira'ati
2.    Imamah Dan Khalifah, Murtadha Muthahhari
3.    Keadilan Allah Qadha dan Qadhar, Mujtaba Musawi Lari
4.    Kemerdekaan Wanita dalam Keadilan Sosial Islam, Hashemi Rafsanjani
5.    Pendidikan Anak: Sejak Dini Hingga Masa Depan, Mahjubah Magazine
6.    Tafsir Al Mizan: Ayat-ayat Kepemimpinan, S.M.H. Thabathaba'i
7.    Tafsir Al-Mizan: Surat Al-Fatihah, S.M.H. Thabathaba'i
8.    Tafsir Al-Mizan: Ruh dan Alam Barzakh, S.M.H. Thabathaba'i
9.    Tauhid: Pandangan Dunia Alam Semesta, Muhsin Qara'ati
10.  Al-Qur'an Menjawab Dilema Keadilan, Muhsin Qara'ati

Penerbit : Pustaka Firdaus

1.    Saat Untuk Bicara, Sa'di Syirazi
2.    Tasawuf: Dulu dan Sekarang, Seyyed Hossein Nasr

Penerbit : Risalah Masa

1.    Akar Keimanan, Sayyid Ali Khamene'i
2.    Dasar-Dasar Filsafat Islam[2], Bahesty & Bahonar
3.    Hikmah Sejarah-Wahyu dan Kenabian [3], Bahesty & Bahonar
4.    Kebebasan berpikir dan Berpendapat dalam Islam, Murtadha Muthahhari
5.    Menghapus Jurang Pemisah Menjawab Buku al Khatib, Al Allamah As Shafi
6.    Pedoman Tafsir Modern, Ayatullah Baqir Shadr
7.    Kritik Terhadap Materialisme, Murtadha Muthahhari
8.    Prinsip-Prinsip Islam [1], Bahesty & Bahonar
9.    Syi'ah Asal-Usul dan Prinsip Dasarnya, Sayyid Muh. Kasyful Ghita
10.  Tauhid Pembebas Mustadh'afin, Sayyid Ali Khamene'i
11.  Tuntunan Puasa, Al-Balagha
12.  Wanita di Mata dan Hati Rasulullah, Ali Syari'ati
13.  Wali Faqih: Ulama Pewaris Kenabian,

Penerbit : Qonaah
1.    Pendekatan Sunnah Syi'ah, Salim Al-Bahansawiy

Penerbit : Bina Tauhid
1.    Memahami Al Qur'an, Murthadha Muthahhari

Penerbit : Mahdi
1.    Tafsir Al-Mizan: Mut’ah, S.M.H. Thabathabai

Penerbit : Ihsan
1.    Pandangan Islam Tentang Damai-Paksaan, Muhammad Ali Taskhiri

Penerbit : Al-Kautsar
1.    Agar Tidak Terjadi Fitnah, Husein Al Habsyi
2.    Dasar-Dassar Hukum Islam, Muhsin Labib
3.    Nabi Bermuka Manis Tidak Bermuka Masam, Husein Al Habsyi
4.    Sunnah Syi'ah Dalam Ukhuwah Islamiyah, Husain Al Habsyi
5.    60 Hadis Keutamaan Ahlul Bait, Jalaluddin Suyuti

Penerbit : Al-Baqir

1.    560 Hadis Dari Manusia Suci, Fathi Guven
2.    Asyura Dalam Perspektif Islam, Abdul Wahab Al-Kasyi
3.    Al Husein Merajut Shara Karbala, Muhsin Labib
4.    Badai Pembalasan, Muhsin Labib
5.    Darah Yang Mengalahkan Pedang, Muhsin Labib
6.    Dewi-Dewi Sahara, Muhsin Labib
7.    Membela Para Nabi, Ja'far Subhani
8.    Suksesi, M Baqir Shadr
9.    Tafsir Nur Tsaqalain, Ali Umar Al-Habsyi

Penerbit : Al-Bayan
1.    Bimbingan Islam Untuk Kehidupan Suami Istri, Ibrahim Amini
2.    Mengarungi Samudra Kebahagiaan, Said Ahtar Radhawi
3.    Teladan Suci Kelurga Nabi, Muhammad Ali Shabban

Penerbit : As-Sajjad
1.    Bersama Orang-orang yang Benar, Muh At Tijani
2.    Imamah, Ayatullah Nasir Makarim Syirazi
3.    Ishmah Keterpeliharaan Nabi Dari Dosa, Syaikh Ja'far Subhani
4.    Jihad Akbar, Imam Khomeini
5.    Kemelut Kepemimpinan, Ayatullah Muhammad Baqir Shadr
6.    Kasyful Asrar Khomeini, Dr. Ibrahim Ad-Dasuki Syata
7.    Menjawab Berbagai Tuduhan Terhadap Islam, Husin Alhabsyi
8.    Nabi Tersihir, Ali Umar
9.    Nikah Mut'ah Ja'far, Murtadha Al Amili
10.  Nikah Mut;ah Antara Halal dan Haram, Amir Muhammad Al-Quzwainy
11.  Surat-Surat Revolusi, AB Shirazi

Penerbit : Basrie Press
1.    Ali Bin Abi Thalib di Hadapan Kawan dan Lawan, Murtadha Muthahhari
2.    Manusia Dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
3.    Fiqh Lima Mazhab, Muhammad Jawad Mughniyah

Penerbit : Pintu Ilmu
1.    Siapa, Mengapa Ahlul Bayt, Jamia'ah Al-Ta'limat Al-Islamiyah Pakistan

Penerbit : Ulsa Press
1.    Mengenal Allah, Sayyid MR Musawi Lari
2.    Islam Dan Nasionalisme, Muhammad Naqawi
3.    Latar Belakang Persatuan Islam, Masih Muhajeri
4.    Tragedi Mekkah Dan Masa Depan Al-Haramain, Zafar Bangash
5.    Abu Dzar, Ali Syari'ati
6.    Aqidah Syi'ah Imamiyah, Syekh Muhammad Ridha Al Muzhaffar
7.    Syahadat Bangkit Bersaksi, Ali Syari’ati

Penerbit : Gua Hira
1.    Kepemimpinan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Grafiti
1.    Islam Syi'ah: Allamah M.H. Thabathaba'i
2.    Pengalaman Terakhir Syah, William Shawcross
3.    Tugas Cendikiawan Muslim, Ali Syaria’ti

Penerbit : Effar Offset
1.    Dialog Pembahasan Kembali Antara Sunnah & Syi'ah Sulaim Al-Basyari & Syaraduddien Al 'Amili

Penerbit : Shalahuddin Press
1.    Fatimah Citra Muslimah Sejati, Ali Syari'ati
2.    Gerbang Kebangkitan, Kalim Siddiqui
3.    Islam Konsep Akhlak Pergerakan, Murtadha Muthahhari
4.    Panji Syahadah, Ali Syari'ati.
5.    Peranan Cendekiawan Muslim, Ali Syari’ati

Penerbit : Ats-Tsaqalain
1.    Sunnah Syi’ah dalam Dialog, Husein Al Habsyi

Penerbit : Pustaka
1.    Kehidupan Yang Kekal, Morteza Muthahari

Penerbit : Darut Taqrib
1.    Rujuk Sunnah Syi'ah, M Hashem

Penerbit : Al-Muntazhar
1.    Fiqh Praktis Syi'ah Imam Khomeini, Araki, Gulfaigani, Khui
2.    Ringkasan Logika Muslim, Hasan Abu Ammar
3.    Saqifah Awal Perselisihan Umat, O Hashem
4.    Tauhid: Rasionalisme Dan Pemikiran dalam Islam, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Gramedia
1.    Biografi Politik Imam Khomeini, Riza Sihbudi

Penerbit : Toha Putra
1.    Keutamaan Keluarga Rasulullah, Abdullah Bin Nuh

Penerbit : Gerbang Ilmu
1.    Tafsir Al-Amtsal (Jilid 1), Nasir Makarim Syirazi

Penerbit : Al-Jawad
1.    Amalan Bulan Ramadhan Husein Al-Kaff
2.    Mi'raj Ruhani [1], Imam Khomeini
3.    Mi'raj Ruhani [2] Imam Khomeni
4.    Mereka Bertanya Ali Menjawab, M Ridha Al-Hakimi
5.    Pesan Sang Imam, Sandy Allison (penyusun)
6.    Puasa dan Zakat Fitrah Imam Khomeini & Imam Ali Khamene'i
Penerbit : Jami'ah al-Ta'limat al-Islamiyah
1.    Tuntutan Hukum Syari'at, Imam Abdul Qasim

Penerbit : Sinar Harapan
1.    Iran Pasca Revolusi, Syafiq Basri
2.    Perang Iran Perang Irak, Nasir Tamara
3.    Revolusi Iran, Nasir Tamara

Penerbit : Mulla Shadra
1.    Taman Para Malaikat, Husain Madhahiri
2.    Imam Mahdi Menurut Ahlul Sunnah Wal Jama'ah, Hasan Abu Ammar

Penerbit : Duta Ilmu
1.    Wasiat Imam Ali, Non Mentioned
2.    Menuju Pemerintah Ideal, Non Mentioned

Penerbit : Majlis Ta'lim Amben
1.    114 Hadis Tanaman, Al Syeikh Radhiyuddien

Penerbit : Grafikatama Jaya
1.    Tipologi Ali Syari’ati

Penerbit : Nirmala
1.    Menyingkap Rahasia Haji, Syeikh Jawadi Amuli

Penerbit : Hisab
1.    Abu Thalib dalam Polemik, Abu Bakar Hasan Ahmad

Penerbit : Ananda
1.    Tentang Sosiologi Islam, Ali Syari’ati

Penerbit : Iqra
1.    Islam dalam Perspektif Sosiologi Agama, Ali Shari’ati

Penerbit : Fitrah
1.    Tuhan dalam Pandangan Muslim, S Akhtar Rizvi

Penerbit : Lentera Antarnusa
1.    Sa’di Bustan, Sa’di

Penerbit : Pesona
1.    Membaca Ali Bersama Ali Bin Abi Thalib, Gh R Layeqi

Penerbit : Rajawali Press
1.    Tugas Cendekiawan Muslim, Ali Shari’ati

Penerbit : Bina Ilmu
1.    Demonstran Iran dan Jum'at Berdarah di Makkah, HM Baharun

Penerbit : Pustaka Pelita
1.    Akhirnya Kutemukan Kebenaran, Muh Al Tijani Al Samawi
2.    Cara Memperoleh Haji Mabrur, Husein Shahab
3.    Fathimah Az-Zahra: Ummu Abiha, Taufik Abu 'Alama
4.    Pesan Terakhir Nabi, Non Mentioned

Penerbit : Pustaka
1.    Etika Seksual dalam Islam, Morteza Muthahhari
2.    Filsafat Shadra, Fazlur Rahman
3.    Haji, Ali Syari'ati
4.    Islam dan Nestapa Manusia Modern, Seyyed Hosein Nasr
5.    Islam Tradisi Seyyed, Hosein Nasr
6.    Manusia Masa Kini Dan Problem Sosial, Muhammad Baqir Shadr
7.    Reaksi Sunni-Syi'ah, Hamid Enayat
8.    Surat-Surat Politik Imam Ali, Syarif Ar Radhi
9.    Sains dan Peradaban dalam Islam, Sayyed Hossein Nasr

Penerbit : Pustaka Jaya
1.    Membina Kerukunan Muslimin, Sayyid Murthadha al-Ridlawi

Penerbit : Islamic Center Al-Huda
1.    Jurnal Al Huda (1)
2.    Jurnal Al Huda (2)
3.    Syiah Ditolak, Syiah Dicari, O. Hashem
4.    Mutiara Akhlak Nabi, Syaikh Ja'far Hadi

Penerbit : Hudan Press
1.    Tafsir Surah Yasin, Husain Mazhahiri
2.    Do'a-Do;a Imam Ali Zainal Abidin

Penerbit : Yayasan Safinatun Najah
1.    Manakah Jalan Yang Lurus (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
2.    Manakah Jalan Yang Lurus (2), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
3.    Manakah Jalan Yang Lurus (3), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan
4.    Manakah Shalat Yang Benar (1), Al-Ustads Moh. Sulaiman Marzuqi Ridwan

Penerbit : Amanah Press
1.    Falsafah Pergerakan Islam, Murtadha Muthahhari

Penerbit : Yayasan Al-Salafiyyah
1.    Khadijah Al-Kubra Dalam Studi Kritis Komparatif, Drs. Ali S. Karaeng Putra

Penerbit : Kelompok Studi Topika
1.    Hud-Hud Rahmaniyyah, Dimitri Mahayana

Penerbit : Muthahhari Press/Muthahhari Papaerbacks
1.    Jurnal Al Hikmah (1)
2.    Jurnal Al Hikmah (2)
3.    Jurnal Al Hikmah (3)
4.    Jurnal Al Hikmah (4)
5.    Jurnal Al Hikmah (5)
6.    Jurnal Al Hikmah (6)
7.    Jurnal Al Hikmah (7)
8.    Jurnal Al Hikmah (8)
9.    Jurnal Al Hikmah (9)
10.  Jurnal Al Hikmah (10)
11.  Jurnal Al Hikmah (11)
12.  Jurnal Al Hikmah (12)
13.  Jurnal Al Hikmah (13)
14.  Jurnal Al Hikmah (14)
15.  Jurnal Al Hikmah (15)
16.  Jurnal Al Hikmah (16)
17.  Jurnal Al Hikmah (17)
18.  Shahifah Sajjadiyyah, Jalaluddin Rakhmat (penyunting)
19.  Manusia dan Takdirnya, Murtadha Muthahhari
20.  Abu Dzar, Ali Syariati
21.  Pemimpin Mustadha'afin, Ali Syariati

Penerbit : Serambi
1.    Jantung Al-Qur'an, Syeikh Fadlullah Haeri
2.    Pelita Al-Qur’an, Syeikh Fadlullah Haeri

Penerbit : Cahaya
1.    Membangun Surga Dalam Rumah Tangga, Huzain Mazhahiri

(Non Mentioned)
1.    Sekilas Pandang Tentang Pembantain di Masjid Haram, Non Mentioned
2.    Jumat Berdarah Pembantaian Kimia Rakyat Halajba 1988, Non Mentioned
3.    Al-Quran dalam Islam, MH Thabathabai
4.    Ajaran-Ajaran Asas Islam, Behesti
5.    Wacana Spiritual, Tabligh Islam Program
6.    Keutamaan Membaca Juz Amma, Taufik Yahya
7.    Keutamaan Membaca Surah Yasin, Waqiah, Al Mulk, Taufik Yahya
8.    Keutamaan Membaca Surah Al-Isra & Al-Kahfi, Taufik Yahya
9.    Bunga Rampai Keimanan, Taufik Yahya
10.  Bunga Rampai Kehidupan Sosial, Taufik Yahya
11.  Bunga Rampai Pendidikan, Husein Al-Habsyi
12.  Hikmah-Hikmah Sholawat ,Taufik Yahya
13.  Bunga Rampai Pernikahan, Taufik Yahya
14.  Hikmah-Hikmah Puasa, Taufik Yahya
15.  Hikmah-Hikmah Kematian, Taufik Yahya
16.  Wirid Harian, Non Mentioned
17.  Do'a Kumay,l Non Mentioned
18.  Do'a Harian, Non Mentioned
19.  Do'a Shobah, Non Mentioned
20.  Do'a Jausyan Kabir, Non Mentioned
21.  Keutamaan Shalat Malam Dan Do'anya, Non Mentioned
22.  Do'a Nutbah, Non Mentioned
23.  Do'a Abu Hamzah Atsimali, Non Mentioned
24.  Do'a Hari Arafah (Imam Husain), Non Mentioned
25.  Do'a Hari Arafah (Imam Sajjad), Non Mentioned
26.  Do'a Tawassul, Non Mentioned
27.  Do'a Untuk Ayah dan Ibu, Non Mentioned
28.  Do'a Untuk Anak, Non Mentioned
29.  Do'a Khatam Qur'an, Non Mentioned
30.  Doa Sebelum dan Sesudah Baca Qur'an, Non Mentioned
31.  Amalan Bulan Sya'ban dan Munajat Sya'baniyah, Non Mentioned

 

 





Salah Satu Prinsip Manhaj Salaf

11 01 2011

PRINSIP Manhaj Salaf Dalam Ibadah

Disusun oleh : David Tugas Setyawan

  1. Pendahuluan

Ahlussunnah wal Jama’ah sepakat bahwa manusia diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk beribadah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya serta meneladani sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka setiap muslim dan muslimah harus mengetahui hakekat ibadah yang sebenarnya agar amalan yang dikerjakannya diberikan ganjaran kebaikan oleh Allah Azza wa Jalla.[1]Allah berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57) إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58).الذاريات

Allah memberitahukan  bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata. Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya;karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barang siapa yang menolak beribadah  kepada Allah, ia adalah sombong. Barang siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyariatkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ ( pelaku bid’ah ). Dan barang siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyariatkan-Nya maka ia adalah mukmin muwahhid ( yang mengesakan Allah ).

  1. Masalah
    1. Kebanyakan masyarakat umum tidak memahami makna ibadah.
    2. Kaidah yang salah dalam memahami ibadah.
    3. Pengamalan praktek ibadah yang tidak sesuai dengan petunjuk Rosulullah dan para sahabat.
    4. Banyak sekali ibadah-ibadah yang tidak ada tuntunannya dari islam tersebar di tengah – tengah masyarakat.
    5. Makna ibadah Menurut Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah
      1. Pengertian Ibadah

v Ibadah secara etimologi :

Ibadah berasal dari kata  عبَد – يعبُدُ عِبَادةً عُبُودِيَّةًartinya menyembah, beribadah. Asal dari ibadah adalah ketundukan, kerendahan diri dan ketaatan[2].

v Ibadah menurut Ibnu Taimiyah Rohimahulloh[3] :

Di dalam al Ubudiyah Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa Ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal – amal batin dan lahir. Sholat, zakat, puasa, haji, berkata jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, silaturrohim, menepati janji, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad melawan orang kafir dan orang munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin,  dan musafir,  berdoa, dzikir, mencintai Allah dan Rosul-Nya, Khosyah, inabah, ikhlas,  sabar terhadap ketentuan-Nya, bersyukur atas nikmat-Nya, ridho  kepada takdir-Nya, tawakkal, harap dan takut dengan siksa-Nya serta yang semisal dengan itu semua yang berupa ibadah kepada Allah.

Karena ibadah adalah tujuan yang dicintai dan diridhoi Allah. Dan itulah sebab mengapa Allah menciptakan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون. الذاريات : 56

Ibadah hanya kepada Allah adalah tujuan Allah mengutus para Rosul. Sebagaimana Allah mengutus Nuh ‘Alaihis Salam, Allah berfirman :

اعبدوا اللهَ مَا لَكُمْ مِن إلهٍ غيره.الأعراف : 59

  1. Pilar-pilar Ubudiyah Yang Benar

Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar yaitu: hub (cinta ), khauf (takut ) roja’ ( harapan ). Rasa cinta harus  bersama dengan rasa rendah diri, sedangkan khouf harus dengan roja’, dalam setiap kita beribadah harus terkumpul unsur-unsur  ini.

Sebagian salaf berkata “Barang siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja maka ia adalah zindiq[4], barangsiapa yang  beribadah kepada-Nya hanya dengan roja’ maka ia adalah murji’[5], dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khouf, maka ia adalah  harury[6] dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khouf, dan roja’ maka ia adalah mukmin muwahhid.”[7]

  1. Syarat di terimanya ibadah

Syarat diterimanya ibadah ada 2,yaitu:

  1. Ikhlas,Ikhlas merupakan ruh dan inti agama.

Dalil dari Al Qur an:

إنا أنزلنا إليك الكتاب بالحق فاعبد الله مخلصاً له الدين، ألا لله الدين الخالص. الزمر: 2-3

Artinya:”Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Kitab(Al-Qur an) kepadamu(Muhammad) dengan(membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Ingatlah hanya milik Allah agama yang murni(dari syirik).(QS. az-Zumar : 2-3)

Ibnu Katsir berkata:” Allah tidak menerima amal dari seorang hamba kecuali ia memurnikan amal tersebut hanya untuk Allah semata.

  1. 2.     Mengikuti Sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa sallam

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ.الملك :2

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya”                  (QS. Al Mulk:2)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh:”Yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya:”Wahai Abu ‘Ali, apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar itu ?”Beliau menjawab:”Sesungguhnya amal apabila dilakukan dengan ikhlas namun tidak benar, maka tidak akan diterima. Dan apabila dilakukan dengan benar namun tidak ikhlas, maka tidak akan diterima hingga ia dilakukan dengan ikhlas dan benar. Yang dilakukan dengan ikhlas ialah hanya ditujukan untuk Allah Ta’ala, sedangkan yang benar ialah sesuai dengan sunnah.”[8]

  1. Kaidah-kaidah Memahami Ibadah.
    1. Pada Asalnya Hukum Ibadah Adalah Terlarang.

Sebagian orang seringkali mencampur adukkan antara hal-hal yang termasuk ibadah dengan yang bukan ibadah, kaidah yang mereka gunakan untuk membenarkan bid’ah mereka ialah sebuah kaidah yang berbunyi

الأصلُ فِي الأَشْيَاءِ الإِبَاحَةُ

“Pada asalnya hukum sesuatu itu adalah boleh “.

Ini adalah kaidah ilmiah yang benar, akan tetapi tidak dapat di pergunakan dalam perkara ibadah. Kaidah ini dapat dipergunakan pada segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah yang memberikan manfaat bagi orang lain. Dan memang, pada asalnya hukum sesuatu itu adalah halal dan boleh.

Ibnu Qoyyim mengatakan : “Dapat dimaklumi bahwa sesungguhnya tidak ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan Rosul-Nya. Tidak ada dosa kecuali apa yang ditetapkan oleh Allah dan Rosul-Nya sebagai perbuatan dosa bagi pelakunya. Sebagaimana tidak ada kewajiban kecuali yang diwajibkan oleh-Nya. Dan tiada yang haram kecuali yang di haramkan oleh-Nya., Tidak ada agama kecuali apa yang disyariatkan Allah. Pada asalnya, hukum sesuatu dalam hal ibadah adalah batil sampai adanya dalil yang memerintahkanya.[9]

  1. لو كان خيرا لسبقونا إليه )  ) Kalau Seandainya Amalan Itu Baik Tentulah Para Sahabat Telah Mendahului Mengamalkannya

Imam Ibnu Katsir Rohimahulloh berkata ketika menafsirkan ayat 38 surat an-Najm :”Dari ayat yang mulia ini imam as-Syafi’I Rohimahulloh danpara pengikutnya menyimpulkan, bahwa pahala membaca Al- Qur an tidak sampai kepada orang yang mati; sebab amal ibadah itu bukanlah dari hasil perbuatannya.

Maka Rosululloh Shollallahu ‘Alaihiwa Sallam tidak menganjurkan dan menyuruh umatnya, untuk mengamalkannya, dan tidak memerintahkannya baik secara perkataan yang jelas atau pun isyarat. Serta tidak dinukil hal tersebut dari salah seorang sahabat, kalau seandainya perbuatan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya, sedangkan bentuk ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, hanya bisa diketahui berdasarkan nas- nas yang ada. Juga tidak sedikit pun menggunakan qiyas-qiyas dan pikiran-pikian manusia semata.”[10]

Yang dimaksud dengan kaidah di atas ialah[11]:

  1. Apa yang telah disepakati(di-ijma’-kan) oleh mereka. Sedangkan ijma’ para sahabat menjadi dasar hukum Islam yang ketiga setelah Al Qur an dan Sunnah.
  2. Manhaj atau cara beragamanya yang benar di dalam berpegang dengan Al Qur an dan Sunnah. Kita pun wajib mengikuti manhaj dan pemahaman mereka di dalam berpegang dan kembali kepada Al Qur an dan as Sunnah.
  3. Mereka Mendahulukan wahyu Al Qur an dan wahyu as Sunnah daripada akal fikiran mereka.
  4. Mereka sangat menjauhi dan membenci serta memerangi bid’ah.
  5. Ibadah Adalah Tauqifiyyah

Syaikh as-Sudais pernah menyatakan dalam sebuah ceramahnya bahwa beribadah dalam agama islam adalah tauqifiyyah, wajib bagi seorang muslim dalam beribadah untuk melandasinya dari dua sumbernya, yaitu : Al-Qur an dan sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hendaklah ia tidak menambah-nambah (sesuatu amalan) dalam syari’at Allah apa-apa yang tidak diperintahkan Allah. Dan hendaklah ia tidak membuat sesuatu amalan yang baru dalam agama ini. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

{ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْأِسْلامَ دِيناً } [المائدة:3]

Maka agama islam sudah paripurna dan sempurna, sehingga kita hanya tinggal beramal dengan apa-apa yang ada dalam agama kita. Dan kita harus berhati-hati untuk tidak menambah-nambah di dalamnya. Disebabkan karena lemahnya aqidah dan minimnya wala’ serta mutaba’ah kepada Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, juga taqlid kepada musuh-musuh islam dan tasyabbuh dengan mereka, sehingga terjadilah sikap melampaui batas dalam kaum muslimin, dari batas-batas yang sudah digariskan.Yakni, batas-batas yang diwajibkan kita berhenti(untuk tidakmelanggarnya). Sebagai suatu ketaatan kepada sebuah hadist Rosulullulloh Shollahu ‘Alaihi wa Sallam yang agung dan termasuk dari Kaidah-kaidah agama, beliau bersabda:

{ من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد }

Oleh sebab itu semua amal ibadah yang bukan merupakan bagian dari sunnah Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para kholifah ar-Rosyidin, maka amalan seseorang itu tertolak siapapun dia.[12]

Syeikh Bin Baz Rohimahulloh Berkata bahwa ibadah itu tauqifiyyah, jadi ibadah tidak disyari’atkan kecuali mempunyai landasan yang datang dari syari’at.[13]

  1. Bersikap Pertengahan Dalam Beribadah

Imam an-Nawawi menulis dalam kitabnya Riyadhus Sholihin bab tentang bersikap pertengahan dalam beribadah. Beliau banyak menukil beberapa ayat-ayat Al Qur an dan hadist-hadist Nabawiyah dalam bab tersebut. Di antara hadist tersebut yaitu, hadist yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik beliau berkata:

جَاءَ ثَلاَثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوتِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – يَسْأَلُونَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمَّا أُخْبِرُوا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوهَا فَقَالُوا وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ . قَالَ أَحَدُهُمْ أَمَّا أَنَا فَإِنِّى أُصَلِّى اللَّيْلَ أَبَدًا . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ . وَقَالَ آخَرُ أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا . فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنِّى لأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ ، لَكِنِّى أَصُومُ وَأُفْطِرُ ، وَأُصَلِّى وَأَرْقُدُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِى فَلَيْسَ مِنِّى » .[14]

Hadist di atas merupakan suatu dalil bahwa bagi seorang muslim, untuk bersikap pertengahan(iqtishod) dalam urusan ibadah, bahkan ia harus bersikap pertengahan dalam semua perkara;sebab bila ia hanya bersantai-santai dalam suatu perkara, niscaya ia akan melewatkan banyak kebaikan. Sedangkan bila ia terlalu bersikap ekstrim, suatu waktu ia akan menjadi lemah semangat, malas  lalu berhenti, jadi hendaklah bagi seseorang dalam semua urusannya untuk bersikap pertengahan(muqtashid).[15]

Dari Aisyah berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ …أَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Bahwa Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Sesungguhnya amal yang palin dicintai di sisi Allah adalah amal yang dilaksanakan secar terus-menerus walaupun sedikit.”[16]

  1. Contoh-contoh Ibadah Yang Tidak Ada Tuntunannya dalam Sunnah Rosululloh

Pada bab ini kami sebutkan sebagian kecil contoh-contoh ibadah yang masih banyak diamalkan oleh kebanyakan kaum muslimin di Indonesia. Mereka beranggapan bahawa amal-amal ibadah tersebut adalah suatu ibadah yang termasuk dalam tuntunan syari’at Islam, tetapi bila kita gali dan teliti lebih jauh ternyata apa yang mereka amalakan telah menyelisihi jalan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya yang lurus. Sengaja bantahan/koreksi terhadap amalan-amalan menyimpang tersebut, tidak kami ungkap secara luas karena keterbatasan ilmu dan tempat pemaparan dalam makalah kami ini.

  1. i.      Dzikir Berjama’ah Setelah Sholat Wajib Dengan Suara Keras

Kebanyakan kaum muslimin di negeri kita masih banyak yang melakukan praktek ibadah tersebut, dengan alasan bahwa semacam itu adalah baik dan juga diperbolehkan oleh imam asy-Syafi’i.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : اعْتَكَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السُّتُورَ وَقَالَ : أَلاَ إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلاَ يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ، وَلاَ يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةَ.

Artinya: Dari Abu Said al Khudriy, ia berkata,”Rosululloh pernah i’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar(sebagian sahabat) mengeraskan bacaan, maka beliau membuka tabir lalu bersabda,” sedang bermunajah kepada Robbnya, oleh karena itu janganlah sebagian kamu mengganggu sebagian lain, dan janganlah kamu mengeraskan bacaannya kepada sebagian yang lain.”[17]

Imam asy-Syafi’i memang memperbolehkan seorang imam mengeraskan bacaan dzikirnya, tetapi dengan tujuan untuk mengajari para makmum yang dibelakangnya. Apabila makmum sudah bisa berdzikir sendiri maka imam kembali menyembunyikan dzikirnya kembali seperti semula.[18]

  1. ii.      Sholawat Bid’ah

Tersebar dikhayalak ramai berbagai macam jenis lafadz sholawat kepada Nabi Muhammad, baik sholawat itu kita dengar dari pengeras suara masjid-masjid di sekitar kita, atau dari buku-buku yang tercetak di tengah-tengah masyarakat umum. Dia antara sholawat-sholawat yang terkenal itu ialah sholawat badar dan nariyah. Bahkan seperti sholawat badar dari tahun ke tahun semakin dimodifikasi, di antaranya dengan dimasukkan unsur-unsur musik modern untuk mengiringinya.

Bunyi sholawat badar dan nariyah tersebut yaitu[19] :

صلاة الله سلام الله على طه رسول الله  صلاة الله سلام الله على يس حبيب الله     توسلنا ببسم الله وبا لهادي رسول الله  وكل مجاهدٍ لله بأهل البدر يا الله

اللهم صل صلاةً كاملةً وسلم سلاماً تامّا على سيدنا محمد الذي تَنْحَلُّ بِهِ العُقَدُ وَتَنْفَرِجُ به الكُرَب وَتَنْحَلُّ بِهِ الرَّغَائِبُ وتُقْضَى بِهِ الْحوائِجُ و يُسْتَسْقَى الغَمَامُ بوجهه الكريم عدد كل لحمةٍ ونفس بعدد كلّ معلومٍ لك.

Kedua sholawat di atas tidak saja salah karena tidak ada sumbernya dari sunnah Rosul yang mulia, tapi juga mengandung unsur kesyirikan. Karena bertawasul kepada orang-orang yang telah mati.

  1. iii.   Tahlilan

Tahlilan merupakan salah satu amalan yang paling sering diamalkan oleh mayoritas umat muslim di Indonesia. Dalil yang dipakai pun hampir sama dengan amalan-amalan bid’ah yang lain. Yaitu, karena ia suatu amal kebaikan dan merupakan ciri dari pengikut madzhab Syafi’I menurut anggapan mereka.

عن جرير بن عبد الله البجلي قال : كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعه الطعام بعد دفنه من النياحة

Dari Jarir bin Abdillah al Bajali berkata:”Kami(para sahabat Nabi) bahwa berkumpul-kumpul di (rumah) keluarga mayit dan membuat makanan setelah si mayit di kubur merupakan niyahah(meratapi mayat).[20]

Imam an-Nawawi seorang ulama besar madzhab syafi’I berkata:”Adapun hidangan yang dibuat keluarga mayit dan berkumpulnya manusia untuk hidangan itu, maka hal seperti itu tidaklah dinukil sedikit pun keterangannya(dalil), tidak disunahkan dan itu adalah bid’ah.[21]

  1. Yasinan

Ini adalah salah satu amalan yang disukai oleh sebagian kaum muslimin di Indonesia. Setiap malam jum’at bisanya mereka akan berkumpul di masjid/rumah untuk membaca surat yasin yang sering dibaca bersama tahlil. Padahal hadist-hadist yang berbicara tentang yasin sebagian besarnya adalah lemah bahkan palsu/maudhu’. Dan apakah para Salafus as-Sholih pernah mengamalakannya dalam perjalanan dakwah mereka ?

Misal 2 hadist berikut ini:

من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله غفر له

“Barangsiapa yang membaca surat yasin pada malam hari, maka dia akan diampuni dosanya di pagi harinya.”

Ibnul Jauzi mengomentari bahwa hadist ini batil tidak ada asalnya.[22]

اقرأوا (يس) على موتاكم

“Bacalah surat yasin kepada orang yang mati di antara kalian.”

Hadist ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan derajatnya adalah dho’if.[23]

  1. v.      Qunut Subuh Terus Menerus

Berbeda dengan amalan-amalan ibadah lain yang tidak ada tuntunannya dari sunnah Rosululloh. Qunut subuh merupakan suatu amalan yang mempunyai dalil dalam islam, terutama bagi ulama madzhab syafi’i. Seperti yang disebutkan imam an-Nawawi dalam Syarah al-Muhadzdzab fil Fiqh as-syafi’i bab pembahasan qunut pada sholat subuh.[24] Maka kami di sini hanya membahas secara sekilas tentang hal ini.

Qunut memang pernah dikerjakan Nabi Muhammad, misal seperti pada hadist-hadist berikut:

عن أنس بن سيرين عن أنس بن مالك : ان النبي صلى الله عليه و سلم قنت شهرا بعد الركوع[25]

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ حَدَّثَهُ أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَنَتَ شَهْرًا فِي صَلاَةِ الصُّبْحِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَبَنِي لَحْيَان.[26]

Selain hadist di atas ada juga hadist qunut subuh, tetapi perowinya ada masalah dalam pembicaraan para ulama.

روى الطبراني ، عن الدبري ، عن عبد الرزاق ، عن أبي جعفر الرازي ، عن عاصم ، عن أنس ، قال : قنت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – في الصبح يدعو على احياء من احياء العرب ، وكان قنوته -قبل الركوع .[27]

Dari at-Thabraniy, dari Abdur Rozaq, dari Abu Ja’far ar Rozi, dari ‘Ashim, dari Anas, berkata :”Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam qunut di waktu subuh, mendoakan(melaknat) kampung dari perkampungan orang Arab, dan qunut tersebut sebelum rukuk.”

Hadist lainnya :

أبو جعفر هذا ، عن الربيع بن أنس ، عن أنس ، قال : ما زال النبي – صلى الله عليه وسلم – يقنت حتى فارق الدنيا .

Dari Abu Ja’far ar Rozi, dari ar Robi’ bin Anas, dari Anas berkata :” Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam terus menerus qunut sampai beliau meninggal dunia.”

Berkata para ulama ahlul hadist tentang Abu Ja’far ar Rozi :

  • Ø Berkata Yahya :”Ia termasuk orang yang tsiqoh(dipercaya), orang yang jujur dan benar, tetapi hafalannya buruk.”
  • Ø Berkata Ibnul Madini :”Ia orang yang hadistnya tercampur”
  • Ø Berkata Imam Ahmad dan an-Nasa I :”Ia bukanlah orang yang kuat dalam hadist.”
  • Ø Berkata Abu Zur’ah :”ar Rozi banyak salah.”
  • Ø Berkata al Fallas :”Hadistnya lemah dan ia buruk hafalannya, namun ia termasuk orang yang sidiq.”
  • Ø Berkata Ibnu Hibban :”Riwayat dari ar Rozi, menyelisihi dari riwayat yang masyhur.”
  • Ø Berkata Abu Bakar al Atsrom :”Hadist itu(hadist kedua di atas) adalah hadist yang lemah.”

Untuk menyelesaikan persoalan qunut subuh terus-menerus para ulama telah membawakan hadist-hadist  yang menyangkal qunut subuh terus-menerus. Di antara hadist itu yaitu:

عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْجَعِيِّ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ ، قَالَ : قُلْتُ لأَبِي : يَا أَبَتِ , إِنَّكَ قَدْ صَلَّيْتَ خَلْفَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ ,

وَأَبِي بَكْرٍ , وَعُمَرَ , وَعُثْمَانَ , وَعَلِيٍّ هَاهُنَا بِالْكُوفَةِ ، نَحْوًا مِنْ خَمْسِ سِنِينَ ، فَكَانُوا يَقْنُتُونَ فِي الْفَجْرِ ؟ فَقَالَ : أَيْ بُنَيَّ مُحْدَثٌ.

Dari Abu Malik al-Asyja’i bin Thoriq berkata:”Wahai ayahku, sesungguhnya engkau pernah sholat di belakang Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali di sini di Kufah, selama 50 tahun, apakah mereka semua berdoa qunut pada waktu subuh ?” ayahnya menjawab:”Hai anakku itu adalah suatu amalan yang muhdats.(yang diada-adakan).”[28]

Lajnah Da imah telah mengeluarkan fatwanya mengenai persoalan qunut subuh ini. Fatwa itu berbunyi:”Tidak ada riwayat yang shohih dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau mengkhususkan dan terus-menerus doa qunut pada waktu sholat subuh, tetapi riwayat yang shohih adalah beliau doa qunut ketika nazilah(sesuatu menimpa kaum muslimin). Beliau qunut pada saat sholat subuh dan sholat 5 waktu lainnya…. Dan para khulafaur Rosyidin pun juga melakukan hal yang sama. Maka hendaklah engkau mencukupkan doa qunut pada saat nazilah saja sebagaimana yang telah dicontohkan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Malik al-Asja’i.[29]

  1. Bid’ah Perayaan Hari besar Islam

À   Maulid Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam

Mayoritas Kaum muslimin pada tanggal 12 robi’ul awwal biasanya akan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad. Meraka akan mengadakan berbagai acara untuk menyambut hari besar tersebut. Namun apakah amalan yang mereka laukan itu ada tuntunannya dalam Islam ? Lajnah Daimah Saudi Arabia[30] telah mengeluarkan fatwanya(no. 6257), bahwa merayakan hari besar yakni maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan suatu bid’ah yang diada-adakan. Nabi tidaklah mensyari’atkannya baik dengan perkataan ataupun perbuatan beliau. Dan para sahabat rodhiyallohu ‘anhum tidak ada yang pernah merayakan hari tersebut, padahal mereka adalah orang yang paling mengetahui kedudukan beliau. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

« من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد »

Artinya :”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan, tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalannya tersebut tertolak.”[31]

Banyak sekali alasan-alasan yang menjadi pembenar orang yang merayakan maulid Nabi, di antara alasan yang mereka kemukakan bahwa orang pertama yang melakukan dan menyebarkan perayaan maulid Nabi adalah Shalahuddin al Ayyubi, seorang raja ahlus sunnah yang arif dan terkenal yang berhasil menguasai Baitul Maqdis dari tangan kaum salibis, pada waktu perang salib.

Tetapi data-data di lapangan ternyata menunjukkan bahwa orang yang melakukan dan menyebarkan maulid Nabi adalah para penguasa kerajaan ‘Ubaidiyah(yang dikenal dengan kerajaan Fathimiyah) yang beragama Syi’ah Rofidhoh Bathiniyyah Isma’iliyyah, yang telah dihukumi kafir murtad dari Islam oleh sejumlah ulama seperti, Ibnul Jauzi, Ibnu Taimiyah, Adz-Dzahabi dan ulama lainnya.[32]

Sebagian dalil-dalil lain yang mereka jadikan alasan untuk melandasi amalan-amalan bid’ah mereka misalnya[33], apa yang mereka lakukan itu merupakan wujud kecintaan mereka kepada Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, acara maulid dapat mengangkat nama Nabi Muhammad dan bahkan mereka menggunakan hadist Nabi serta ayat-ayat Al Qur an sebagai dasar amalan itu misal, QS. Yunus:58. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada kitab al Bida’ al Hauliyah(Ritual Bid’ah Dalam Setahun) tulisan Abdullah bin Abdullah Aziz at-Tuwaijiri dan buku Bincang-Bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan tulisan Abu Ihsan al-Atsari.

  1. Kesimpulan
  2. Hikmah penciptaan jin dan manusia adalah, agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah semata.
  3. Kebanyakan masyarakat umum tidak memahami makna ibadah dengan benar. Mereka beranggapan bahwa  bentuk ibadah ialah seperti sholat, puasa, zakat, haji, berdzikir, membaca Al- Qur an dan bentuk ibadah lainnya yang lingkupnya sempit.
  4. Ibadah adalah suatu kata yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah dari ucapan – ucapan, amal – amal batin dan lahir.
  5. Ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar yaitu,: hub (cinta ), khauf (takut ) roja’ ( harapan ).
  6. Syarat diterimanya ibadah ada 2, yaitu : Ikhlas hanya kepada Allah semata dan sesuai dengan sunnah Rosullulloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  7. Ada 4 kaidah ilmiyah dalam kita menyikapi ibadah, yaitu :

a)   Pada asalnya hukum ibadah adalah terlarang.

b)   Kalau seandainya amalan itu baik tentulah para sahabat telah mendahului mengamalkannya.

c)    Ibadah adalah tauqifiyyah

d)   Bersikap pertengahan dalam beribadah

  1. Islam adalah agama yang sempurna tidak perlu ada tambahan atau pengurangan.
  2. Penyebab munculnya bid’ah di antaranya adalah[34], kebodohan terhadap syari’at, berbaik sangka terhadap akal, dan mengikuti hawa nafsu, dan munculnya hadist dho’if dan maudhu’.
  3. Ketika membantah ahlul bid’ah seharusnya kita menghiasi bantahan tersebut dengan ilmu dan dalil-dalil[35]
  1. Daftar Pustaka

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Al Masaa-il, Jakarta; Darus Sunnah, Cet. V, Jilid 3.

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V.

Abdat, Abdul Hakim bin Amir, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V

al Halabi, Ali bin Hasan, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz-Dzahabi, 2009, Cet II.

Ali, Mahrus, Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik, Surabaya;La Tasyuk Press, 2007, Cet. I.

Ihsan, Abu, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII.

Jawas, Yazid bin Abdul Qodir, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’I, Cet. VII

Saini, Ibnu, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I.

at-Tuwaijiri, Abdullah bin Abdul Aziz, Ritual Bid’ah Dalam Setahun, Terj. Munirul Abidin, Jakarta;Darul Falah, 2009, Cet. VI.

Zaen, Abdullah, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta.

Maktabah Syamilah


[1] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Jakarta;Pustaka Imam Syafi’i, Cet. VII, hal 185.

[2] Lisanul Arab, juz 3, hal. 273, Maktabah Syamilah.

[3] Ibnu Taimiyah, al Ubudiyah, hal. 44, Maktabah Syamilah

[4] Orang yang munafiq, sesat dan mulhid

[5] Orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagiana dari iman, iman hanya dalam hati.

[6] Orang dari golongan khowarij yang pertama kali muncul di harro’, dekat Kufah, yang berkeyakinan orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.

[7] Uqdah, Muktasor Ma’arijul Qobul, hal.64, Maktabah Syamillah

[9]Ali bin Hasan al Halabi, Mengupas Tuntas Akar Bid’ah, terj. Abu Hilya, Bekasi:Pustaka Imam Adz-Dzahabi, 2009, Cet II,  hal. 60-61.

[10] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur anul ‘Adzim, hal. 465, Maktabah Syamilah

[11]Abdul Hakim bin Amir Abdat, Lau Kaana Khairan Lasabaquunaa Ilaihi, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2010, Cet. V, hal. 79-98

[12]Durus Syaikh Abdur Roman as-Sudais, Maktabah Syamilah

[13]Majmu’ Fatawa al-Allamah Abdul Aziz bin Baz, Maktabah Syamilah

[14] HR. Bukhori, no. 5063, Maktabah Syamilah

[15] Utsaimin, Riyadhus Sholihin,Beirut Libanon;Dar bin ‘Asshoshoh, 2006/1427, Cet. I, Jilid 1, hal. 30

[16] HR. Bukhori, no. 5983, Maktabah Syamilah

[17] HR. Abu Daud, no. 1334, Maktabah Syamilah

[18] Imam asy-Syafi’i, al Umm, hal. 127, Maktabah Syamilah

[19]Mahrus Ali, Mantan Kyai NU Menggugat Sholawat & Dzikir Syirik, Surabaya;La Tasyuk Press, 2007, Cet. I, hal. 43-44 dan hal. 165-166

[20] HR. Ahmad, no. 6905, Maktabah Syamilah

[21] Imam an-Nawawi, al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab, hal. 320, Maktabah Syamilah

[22] Ibnul Jauzi, al-Maudhu’aat, hal. 247, Maktabah Syamilah

[23] Nashiruddin al-Albani, Dho’if Abu Daud, hal. 474, Maktabah Syamilah

[24] Imam an-Nawawi, al Muhadzdzab fil Fiqhi Imam Syafi’i, Maktabah Syamilah

[25] HR. Ahmad, no. 12934, Maktabah Syamilah

[26] HR. Bukhori, no. 4090, Maktabah Syamilah

[27] Nashir Ahmad as Suhaji, al Hadist wal Atsar allatii Takallama ‘Alaiha al Hafidz Ibnu Rojab, hal. 425, Maktabah Syamilah

[28] HR. at-Tirmidzi, no. 402 , HR. Ibnu Majah, no. 1241, HR. Ahmad, no. 15879

[29] Fatawa Lajnah Da imah, no. 2452, Maktabah Syamilah

[30] Fatawa Lajnah Da imah Juz 3, hal. 35, Maktabah Syamilah

[31] HR. Muslim, no. 1718, Maktabah Syamilah

[32] Ibnu Saini, Benarkah Shalahuddin al-Ayyubi Merayakan Maulid Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Jakarta;Maktabah Mu’awiyah, 2009, Cet. I, hal. 25-53

[33] Abu Ihsan, Bincang-bincang Seputar Tahlilan Yasinan & Maulidan, Solo;at-Tibyan, 2010, Cet. XII, Hal. 103-112, lihat pula Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiri, Ritual Bid’ah Dalam Setahun, Terj. Munirul Abidin, Jakarta;Darul Falah, 2009, Cet. VI, hal. 172

[34] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Risalah Bid’ah, Jakarta:Pustaka Mu’awiyah bin Abi Sufyan, 2008, Cet. V, hal. 81-82 dan hal. 70.

[35] Abdullah Zaen, “14 Contoh Praktek Hikmah Berdakwah”, Makalah, Yogyakarta.