Setia Dengan Pertimbangan Matang

Saling Ketergantungan Antara Masyarakat dan Pemimpin

Disusun oleh : David Tugas Setyawan

  1. Masalah
  2. Rakyat kurang percaya dengan ketegasan pemimpin dalam hal perbatasan territorial Negara.
  3. Pemimpin dinilai kurang berhasil dalam menangani masalah pemberantasan korupsi di tingkat pegawai/pejabat pemerintahan.
  4. Pemerintah dinilai kurang serius dalam menangani masalah TKI di luar negeri
  5. Rakyat kurang menghormati kewibawaan pemimpin.
  6. Pengertian Pemimpin[1]

Kata pemimpin berasal dari bahasa inggris “leader” dan kepemimpinan “leadership”. Sebenarnya kepemimpinan merupakan hasil interaksi sosial, ada beberapa orang di antara anggota kelompok yang berperan aktif dan responsif[2] dari anggota lainnya, sehingga yang berperan aktif ini akan lebih menonjol. Bagi kelompok salah salah seorang dari anggota yang aktif ini dianggap atau diangkat  menjadi pemimpin, baik formal maupun informal.

Secara sosial, kepemimpinan adalah bentuk hubungan antar individu untuk mencapai konformitas[3] terhadap tindakan individu. Kepemimpinan adalah hubungan interpersonal berdasarkan keinginan. Secara politis, kepemimpinan adalah aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputusan.

  1. Kepemimpinan Menurut Ilmu Pemerintahan[4]

Dalam pembahasan ilmu pemerintahan, kepemimpinan adalah hubungan antara yang memimpin dengan yang dipimpin, dimana pemimpin lebih banyak mempengaruhi daripada dipengaruhi karena sebagai suatu hubungan kekuasaan.

Definisi kepemimpinan khusus untuk Indonesia, didefinisikan sebagai seorang yang merupakan agen primer(pertama/utama), yang terampil dan berpengetahuan, dalam menentukan struktur dan menggerakkan anggotanya, serta mampu menciptakan suasana kehidupan kelompok yang harmonis, sehingga setiap anggota kelompok bergairah dalam melakukan aktivitas untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan terlebih dahulu.

  1. Tipe Kepemimpinan[5]

Secara umum tipe kepemimpinan dapat digolongkan menjadi 3 tipe, yaitu :

  1. Tipe Otoriter

Tipe kepemimpinan yang berousat pada pekerjaan tanpa menghiraukan kepentingan kelompok sama sekali. Keputusan senantiasa berada di tangan pemimpin, anggota kelompok cenderung dijadikan alat untuk mengeksploitir[6] tujuan kelompok semata, sehingga tipe ini mempunyai kekuasaan absolute.

  1. Tipe Laizess Faire

Tipe ini memberikan kebebasan yang terlalu luas bagi anggota kelompok, sehingga kelompok seolah-olah tidak mempunyai seorang pemimpin, sehingga anggota kelompok cenderung memperlihatkan perilaku agresif yang tinggi.

  1. Tipe Demokratis

Tipe ini merupakan pola kepemimpinan yang sama mementingkan tercapainya tujuan kelompok seoptimal  mungkin, dengan mengikutsertakan seluruh partisipasi anggota, daya dan segenap kemampuan tanggungjawab bersama. Itulah sebabnya ciri utama gaya kepemimpinan ini adalah pendistribusian wewenang dan tanggungjawab pemimpin pada sejumlah anggota, tanpa mengurangi partisipasi dan tanggungjawab terhadap kelompok secara keseluruhan.

Dari ketiga tipe-tipe kepemimpinan di atas tentu yang diharapkan rakyat adalah tipe demokratis dalam definisi seperti di atas. Tetapi apabila yang dimaksud dengan model sistem pemerintahan demokratis sekarang yang diterapkan di beberapa negara, tentu sistem itu tidak sesuai dengan islam. Karena demokrasi suara yang terbanyaklah yang menjadi kebenaran dan suara yang sedikit menjadi sesuatu yang salah sedangkan dalam syuro tidak demikian. Allah berfirman :

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ. الأنعم : 116

  1. Tugas Negara dan Penguasa Dalam Perspektif Islam[7]

Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, baik pribadi maupun masyarakat, lahir maupun batin, dan bahkan untuk kepentingan dunia dan akhirat. Maka sisitem politik islam, khususnya tentang kepemimpinan, merupakan amanat dari Allah untuk melaksanakan aturan, undang – undang dan syariat islam.

Jadi kepemimpinan dalam islam merupakan bentuk aktivitas politik, yang bertujuan untuk menegakkan aturan Allah di muka bumi. Oleh karena itu, pemimpin yang dipilih semata – mata hanya bertugas untuk menegakkan syariat dan menerapkan hukum Allah, sehingga Negara dan rakyat meraih kedamaian, penguasa dan rakyat memperoleh hak – hak secara adil, serta kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kondisi yang tenteram dan makmur.

Ibnu Taimiyah menegaskan  : Tujuan pokok kepemimpinan, ialah memperbaiki agama umat. Sebab, jika jauh dari dinul islam, maka bangsa akan hancur, nasib rakyat akan terlantar dan nikmat-nikmat dunia yang mereka miliki akan sia-sia. Pemimpin juga bertugas memperbaiki segi duniawi yang sangat erat hubungannya dengan agama meliputi 2 macam :

Pertama, membagikan harta kekayaan secara merata dan adil kepada yang berhak. Kedua, menghukum orang-orang yang melanggar ketentuan undang-undang tanpa diskriminasi.

  1. Perilaku Kepemimpinan[8]

Perilaku kepemimpinan menyangkut 2 hal utama, yakni berorientasi[9] pada tugas yang menetapkan sasaran, merencanakan dan mencapai sasaran, dan berorientasi pada orang, yang memotivasi dan membina hubungan yang manusiawi.

Seorang pemimpin yang berorientasi tugas akan memiliki pola perilaku berikut :

1)      Merumuskan secara jelas peranannya sendiri dan peran staf-stafnya.

2)      Menetapkan tujuan-tujuan yang sukar tetapi dapat dicapai, dan memberitahukan kepada mitranya apa yang diharapkan dari mereka.

3)      Melaksanakan peranan kepemimpinan secara aktif dalam merencanakan, mengarahkan, membimbing dan mengendalikan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada tujuan.

 

Pemimpin yang berorientasi pada orang akan memiliki pola perilaku berikut :

1)      Menunjukkan perhatian pada orang sebagai manusia, bukan sebagai alat produksi saja. Menunjukkan rasa hormat pada kebutuhan, tujuan, keinginan, perasaan dan ide-ide rakyat.

2)      Membangun komunikasi timbal balik yang positif.

3)      Menciptakan suasana kerjasama.

  1. Hubungan Antara Pemimpin Dengan Rakyat

Hubungan pemerintah dengan rakyat sangat diperhatikan dalam islam. Di dalamnya terdapat kemaslahatan besar bagi manusia, bagi kehidupan dunia dan akhirat. Hendaknya seorang penguasa(pemerintah) memperhatikan dengan baik keadaan dan kondisi rakyatnya. Berusaha mengerahkan segala kemampuannya untuk mewujudkan kemaslahatan rakyat, baik maslahat dunia atau agama, serta memberikan rahmat dan kecintaan kepada mereka.Hubungan ini hendaklah diperkokoh dengan upaya penguasa atau pemerintah berinteraksi dengan rakyat, serta mengunjungi mereka untuk menggali informasi tentang kebutuhan dan keadaan mereka, sebagaimana yang telah dilakukan Khalifah Umar bin Khottob ketika beliau tidak tidur sebelum mengelilingi kota untuk mencari orang-orang yang membutuhkan bantuan dan perhatiannya.[10]

Menurut Bartle[11] (2007) terdapat 16 (enam belas) elemen yang harus dikedepankan dan menjadi tujuan dari kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan diantara elemen-elemen itu adalah kepemimpinan(Leadership), sebab Seorang pemimpin dalam suatu masyarakat memiliki kekuatan, pengaruh, dan kemampuan untuk menggerakkan anggota-angota masyarakat. Lebih lanjut lagi dia menambahkan pemimpin harus memiliki keahlian, kemauan, kejujuran dan beberapa karisma. Pemimpin harus dapat mendengarkan dan mengakomodasi keinginan masyarakat secara keseluruhan. Semakin efektif kepemimpinan seseorang maka semakin kuat masyarakatnya.

Elemen lain yang tak kalah pentingnya yaitu kepercayaan (Trust): Tingkat kepercayaan dari masing-masing anggota masyarakat tehadap sesamanya, khususnya pemimpin dan pelayan-pelayan masyarakat (public servants). Tingkat kepercayaan ini akan merefleksikan[12] tingkat integritas (kejujuran, ketergantungan, keterbukaan, transparansi, kepercayaan dan penghargaan) yang ada dalam suatu masyarakat.

Antara pemimpin dengan rakyat masing-masing memiliki kewajiban dan hak yang harus dipenuhi agar terjalin suasana yang harmonis anatara dua pihak tersebut. Berikut disebutkan secara ringkas kewajiban dan hak dari kedua elemen tadi.[13]

 

a.  Kewajiban pemerintah kepada rakyat

  1. Menjaga pertahanan dan keamanan Negara dan rakyat, sehingga kaum muslimin mendapatkan rasa aman atas agama, jiwa, harta dan kehormatannya.
  2. Penegakan syariat dan hukum – hukum pidana serta pelaksanaan hukum-hukum lainnya.
  3. Mengawasi pelaksanaan seluruh kegiatan Negara dan mencari informasi mengenai keadaan rakyatnya.
  4. Menjadi contoh teladan yang baik bagi rakyatnya.

b.  Hak rakyat dari pemerintah

  1. Memperoleh rasa aman atas agama, jiwa, harta dan kehormatannya
  2. Memperoleh keadilan dalam bidang hukum dan peradilan
  3. Nasibnya diperhatikan
    1. Hak pemerintah dan kewajiban rakyat
    2. Ikhlas, nasihat dan mendoakannya

Nasihat kepada pemimpin dan penguasa, merupakan suatu kewajiban. Dikarenakan mereka pasti berbuat kekurangan, tidak ma’sum dari ketergelinciran dan kesalahan.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ إِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ ». قَالُوا لِمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِلَّهِ وَكِتَابِهِ وَرَسُولِهِ وَأَئِمَّةِ الْمُؤْمِنِينَ وَعَامَّتِهِمْ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».[14]

Ibnu Hajar menjelaskan makna nasehat kepada para penguasa dengan menyatakan:”Membantu tugas kewajiban yang dibebankannya. Menegurnya ketika lalai. Menyatukan kekuatan dan hati rakyat di bawah (kepemimpinannya). Dan yang lebih besar lagi, yaitu mencegahnya dari berbuat zalim denagn cara yang baik.[15]

  1. Menghormati dan memuliakannya, serta tidak menghinakannya

Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:”Barangsiapa memuliakan sultan(penguasa) Allah di dunia, maka Allah akan memuliakannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menghinakan sultan Allah di dunia, maka Allah akan menginginkannya pada hari kiamat.”[16]

Imam Thawus seorang tabi’in berkata,”Empat orang yang dihormati menurut sunnah Rosul, yaitu:ulama, orang yang berusia lanjut, sultan(penguasa) dan orang tua.”[17]

  1. Mematuhi dan mentaati perkara yang bukan maksiat

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ ».[18]

  1. Membela dan menolongnya

Diantara hak penguasa, yaitu dibela dan dibantu dalam melaksanakan tugas kewajiban mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. المائدة:2

Menolong dan membela pemerintah/pemimpin dapat diwujudkan dalam beberapa hal berikut ini:

v Wajib bagi kaum muslimin untuk saling tolong-menolong/bekerjasama dengan pemerintah dalam seluruh perkara yang dapat mewujudkan kemajuan dan kebaikan serta perkembangan dalam segala bidang.

v Rakyat wajib membela pemerintah dalam kebenaran, meskipun mereka tidak menunaikan hak-hak rakyatnya.

Dalam sebuah hadist dinyatakan :

قال سأل سلمة بن يزيد الجعفي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يارسول الله أرأيت إن قامت علينا أمراء يسألون حقهم ويمنعونا حقنا فما تأمرنا فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه ثم سأله فأعرض عنه فقال : ” اسمعوا وأطيعوا فأنما عليكم ما حملتم وعليهم ما حملوا ” .

Salamah bin Yazid al Ju’fi bertanya kepada Rosululloh,”Bagaimana pendapatmu jika para pemimpin yang memerintah kami meminta hak mereka dan tidak menunaikan hak kami ?”Apa yang engkau perintahkan kepada kami ?” Lalu Rosululloh berpaling darinya, kemudian Salamah bertanya lagi(untuk) kedua kali atau ketiga kalinya. Lalu Rosululloh bersabda,”Patuhi dan taatilah mereka. Karena kalian akan menanggung tanggungjawab kalian dan mereka akan menanggung tanggungjaab mereka.[19]

  1. Masalah-masalah Yang Dihadapi Pemimpin Sekarang

Tentu banyak sekali permasalahan yang dihadapi pemimpin sekarang, oleh karena itu di sini kami ambil beberpa permasalahan sebagai contoh dalam pembahasan ini. Di antara permasalahan tersebut, yaitu :

 

1)   Permasalahan TKI-TKW[20]

Ir. Alimuddin.L. MT.MM (Anggota Lajnah Siyasiyah-DPP HTI) menulis dalam sebuah situs tentang polemik ini. Ia berkata,” Gambaran potret buram kegagalan negara mengurusi rakyat, TKW mendapat  korban tiga kali. Pertama, mendapat tindak kekerasan. Kedua, tiada kebebasan untuk melakukan perlawanan. Ketiga, tak adanya atau minimnya jaminan perlindungan, baik dari negara tujuan maupun pemerintah Indonesia.Kekerasan demi kekerasan terhadap para buruh tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri sepertinya menjadi cerita panjang yang tak pernah usai.”

Kemudian ia menyalah kan kegagalan pemerintah dam menangani masalah ekonomi di dalam negeri yang mengakibatkan para warganya pergi bekerja di luar negeri.

2)   Lambannya penanganan masalah korupsi

Wildan Sena Utama seorang mahasiswa fakultas sejarah UGM menulis tentang masalah korupsi Gayus Tambunan.…Tidak ada langkah-langkah yang tegas untuk menegakkan supremasi hukum di Indonesia.
Hukum dianggap aksesori belaka, sebagai pelengkap tatanan bernegara. Sebenarnya negara ini bukan berlandaskan atas hukum, tapi hukum rimba di mana yang paling kuat adalah yang mengatur segalanya. Gayus tidak mempunyai jabatan, tapi dia mempunyai kekuatan uang. Uang adalah fondasi kekuatan super Gayus. Para penjaga rutan dengan mudah tunduk dengan materi Gayus yang tak berbatas. Mentalitas keropos para penegak hukum sudah merupakan cerita lama di jagat hukum Indonesia.Loyalitas dan integritas mereka dapat dengan mudah diukur dengan materi….[21]

3)      Masalah Pemenuhan Sandang, Pangan dan Papan

Kita menyaksikan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat sekarang semakin hari semakin meningkat, padahal lapangan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah penduduk.  Namun nasib mereka ini tampaknya kurang direspon oleh para pemimpin.

  1. Kepemimpinan Zaman Rosululloh
    1. Keadilan dan Perhatian Rosululloh Kepada Rakyat

Banyak sekali sisi-sisi kepemimpinan Rosululloh yang harus diteladani oleh setiap muslim, karena beliau adalah satu-satunya uswatun hasanah bagi kita. Di antaranya adalah sisi keadilan beliau yang tidak pilih kasih termasuk kepada keluarganya.Aisyah Rodhiyallohu ‘Anha berkata :

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا يَعْنِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أُسَامَةُ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ فَقَالَ إِنَّمَا هَلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Artinya : Bahwasanya suku Quraisy sedang gelisah memikirkan perkara seorang wanita dari Makhzumiyah yang mencuri. Mereka berkata,”Siapa yang berani berbicara kepada Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam(untuk meminta syafa’at).” Mereka berkata lagi,”Usamah bin Zaid orang kesayangn beliau.” Lalu Usamah pun berunding dengan Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi pun menjawab,”Wahai Usamah apakah engkau meminta syafa’at tentang masalah hudud yang itu termasuk ketentuan Allah ?” Beliau pun kemudian berkhotbah,”Sesungguhnya yang membinasakan kaum-kaum sebelum kalian adalah apabila salah seorang yang mulia dari mereka mencuri kaum itu tidak menjatuhkan hukuman kepadanya, tetapi apabila orang yang mencuri itu termasuk golongan orang yang lemah, mereka menghukmnya. Demi Allah seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri niscaya akan aku potong tangannya.”[22]

Walaupun  Rosul sebagai seorang pemimpin yang sangat ditaati semua orang, beliau juga seorang yang sangat memperhatikan nasib orang lain. Hal itu ditunjukkan ketika beliau membrikan perhatian yang besar kepada ahli suffah[23] yang tinggal di masjid Nabawi. Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu menjaga, mengawasi dan memperhatikan ahli suffah. Beliau juga mengunjungi, memeriksa keadaan mereka dan menjenguk yang sakit di antara mereka. Bila mendapat sedekah, beliau kirimkan kepada ahli suffah. Beliau tidak pernah lalai sedikitpun terhadap kondisi mereka.[24]

  1. Ketaatan dan Kesetiaan Para Sahabat Kepada Rosul

Pada perang Thaif tahun 8 H kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Banyak sekali ghonimah yang mereka dapatkan di antaranya 100 ekor unta. Ghonimah tersebut dibagikan kepada kebanyakan orang-orang Quraisy. Namun rosululloh tidak memberikan sedikit pun tidak membagi ghonimah itu kepada orang anshor. Sehingga menimbulkan rasa tidak puas pada diri mereka. Lalu Rosul pun menjelaskan kepada orang anshor, sebab yang melatar belakangi beliau bertindak seperti itu.  Tak lama kaum anshor akhirnya menerima penjelasan Nabi dengan rela dan lapang dada.[25]

Sikap rela kaum anshor terhadap pembagian Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu karena mereka telah menyaksikan sendiri kejujuran dan keadilan beliau dalam memimpin mereka di Madinah. Maka tidaklah aneh, mereka yakin dan percaya bahwa apaa yang dilakukan Nabi tadi adalah benar tak ada sedikit pun kecurangan dalam pembagian ghonimah tadi.

  1. Teori Pertukaran[26] dan ketergantungan kekuasaan[27]

Teori pertukaran berkembang pada abad ke 18, pada masa itu dikuasai pemikiran filsafat utilitarianisme[28], yang mengukur baik buruknya suatu tindakan dengan melihat pada penderitaan dan kesenangan(pain and pleasure) yang dihasilkan oleh tindakan tersebut. Suatu tindakan dianggap adil, baik atau bermoral manakala tindakan tersebut mengakibatkan hal yang menyenangkan; bila suatu tindakan menyebabkan penderitaan maka tindakan tersebut dianggap buruk, tidak adil, dan tidak bermoral.

Ketergantungankekuasaan(power-dependance).

Kekuasaan sesorang atas orang lain dalam hubungan pertukaran adalah kebalikan fungsi ketergantungan terhadap orang lain. Kekuasaan yang tak seimbang dan ketergantungan menyebabkan ketidakseimbangan dalam hubungan, tetapi melalui perjalanan waktu ketimpangan ini akan bergerak menuju hubungan kekuasaan-ketergantungan yang makin seimbang.

Seorang pemimpin yang ingin menjalin hubungan yang harmonis dengan rakyatnya, tentu ia harus meneladani kepemimpinan Rosululloh Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan apabila kita melihat kepada teori-teori sosiologi yang berkaitan dengan masalah ini, maka teori pertukaran/ketergantungan-kekuasaan, bisa menjadi salah satu solusinya. Seorang pemimpin yang memperlakukan masyarakatnya dengan baik dan adil, rakyat pun akan meresponnya dengan baik pula. Kepercayaan masyarakat kepadanya tidak hilang, kewibawaan pemimpin di mata mereka terjaga, dan Ketaatan akan tumbuh dari hati hati mereka. Karena bagaimana seorang pemimpin itu memperlakukan rakyatnya, seperti itu pula lah rakyat akan memperlakukan pemimpin itu.

Masyarakat sebagai rakyat yang berada di bawah memang sangat tergantung kepada pemimpin yang mengatur mereka. Keinginan-keinginan masyarakat banyak, susah untuk diwujudkan apabila sang pemimpin kurang merespon aspirasi-aspirasi mereka. Demikian pula sebaliknya, pemimpin yang ingin menerapkan kebijakan-kebijakan yang mengatur roda kehidupan masyarakatnya, tidak akan meraih kesuksesan yang optimal tanpa kerjasama dari masyarakat tersebut.

  1. Bekerja Dengan Pemimpin Masyarakat

Salah satu perkara yang penting dalam hubungan antara masyarakat dan pemimpin adalah tentang kerjasama antara dua pihak tersebut. Allah Ta’ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ. المائدة:2

Salah satu target pengembangan masyarakat adalah mengembangkan dan memajukan program milik masyarakat itu sendiri. Menurut Surjadi, pengalaman pengembangan masyarakat di seluruh dunia menunjukkan bahwa bekerja sama dengan para pemimpin masyarakat adalah metode yang tidak bisa dianggap sepele. Baik atau jelek, konservatif[29] atau progresif[30], pemimpin-pemimpin inilah yang banyak mempengaruhi masyarakat, baik yang formal maupun non-formal, fungsinya justru dipegang oleh para pemimpin ini. Maka jelas, betapa pemimpin adalah bagian sangat penting dalam setiap proses pengembangan masyarakat.[31]

  1. Kesimpulan
    1. Kepemimpinan adalah bentuk hubungan antar individu untuk mencapai konformitas terhadap tindakan individu.
    2. Secara umum tipe kepemimpinan dapat digolongkan menjadi 3 tipe.
    3. Kepemimpinan dalam islam merupakan bentuk aktivitas politik, yang bertujuan untuk menegakkan aturan Allah di muka bumi.
    4. Islam sudah mengatur hak dan kewajiban antara pemimpin dan rakyat dengan sempurna.
    5. Pemimpin pada masa sekarang menghadapi berbagai macam permasalahan yang kompleks, dan permasalahan itu memerlukan solusi yang tepat, ketaatan dan tingkat kepercayaan masyarakat meningkat.
    6. Model kepemimpinan Rosululloh Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan contoh yang terbaik bagi pemimpin-pemimpin sepanjang zaman di dunia, baik dalam skala besar atau kecil, dalam bidang formal atau non-formal.
    7. Saling bergotong royong yang diwujudkan dalam kerja sama antara pemimpin dan masyarakat dalam proses pengembangan masyarakat mutlak diperlukan.

 

 

  1. Daftar Pustaka

Abidin, Zainal, “Manhaj Ahli Sunnah Terhadap penguasa”, Majalah As- Sunnah, edisi 12/VII/1421 H/2004 M.

Mahendrawati, Nanich dan Agus Ahmad Syafei, Pengembangan Masyarakat Islam, Bandung;Remaja Rosdakarya, 2001, Cet. I.

Razak, Yusron (ed.), Sosiologi sebuah pengantar, Tangerang:Mitra Sejahtera, 2008, Cet. I.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta;PrenadaMedia Group, 2004, Cet. I.

Syamhudi, Kholid, “Rakyat-Penguasa Hak dan Kewajiban”, Majalah As- Sunnah,  edisi 12/VII/1421 H/2004 M.

Umuri, Akram Dhiya’, Shahih Sirah Nabawiyah, terj. Farid Qurusy, Jakarta Timur;Pustaka as Sunnah,2010, Cet.I.

 


[1] Yusron Razak(ed.), Sosiologi sebuah pengantar, Tangerang:Mitra Sejahtera, 2008, Cet. I,  hal. 165

[2] cepat (suka) merespons; bersifat menanggapi; tergugah hati; bersifat memberi tanggapan (tidak masa bodoh)

[3] 1 persesuaian; kecocokan; 2 Hukum kesesuaian sikap dan perilaku dng nilai dan kaidah yg berlaku

[4] Yusron Razak(ed.), Sosiologi sebuah pengantar, hal. 166

 

[5] Yusron Razak(ed.), Sosiologi sebuah pengantar, hal. 166

 

 

[6] pemanfaatan untuk keuntungan sendiri, pemerasan

[7] Zainal Abidin, “Manhaj Ahli Sunnah Terhadap penguasa”, Majalah As- Sunnah, edisi 12/VII/1421 H/2004 M, hal.  22

[8] Nanich Mahendrawati dan Agus Ahmad Syafei, Pengembangan Masyarakat Islam, Bandung;Remaja Rosdakarya, 2001, Cet. I, hal.6

[9] mempunyai kecenderungan pandangan atau menitikberatkan pandangan

[10] Kholid Syamhudi, “Rakyat-Penguasa Hak dan Kewajiban”, Majalah As- Sunnah, , edisi 12/VII/1421 H/2004 M, hal. 6-7

[12] mencerminkan

[13] Kholid Syamhudi, “Rakyat-Penguasa Hak dan Kewajiban”, Majalah As- Sunnah , hal 15-17

[14] HR. Abu Dawud, no. 4946, Maktabah Syamilah

[15] Kholid Syamhudi, “Rakyat-Penguasa Hak dan Kewajiban”, Majalah As- Sunnah, hal.  17.

 

[16] HR. Ahmad, no. 20433, Maktabah Syamilah

[17] Kholid Syamhudi,” Rakyat-Penguasa Hak dan Kewajiban”, Majalah As- Sunnah, hal.  18.

[18] HR. Abu Dawud, no. 2628, Maktabah Syamilah

[19] HR. al Bazzar, no. 4472, Maktabah Syamilah

[22] HR. Muslim, no. 4505, Maktabah Syamilah

[23] Kaum dhu’afa muhajirin yang tidak punya tempat tinggal, di antaranya yaitu, Abu Huroiroh.

[24] Akram Dhiya’ al Umuri, Shahih Sirah Nabawiyah, terj. Farid Qurusy, Jakarta Timur; Pustaka as Sunnah, 2010, Cet.I, hal. 269-270

[25] Akram Dhiya’ al Umuri, Shahih Sirah Nabawiyah, terj. Farid Qurusy, Jakarta Timur; Pustaka as Sunnah, 2010, Cet.I, hal. 539-542

[26] Yusron Razak(ed.), Sosiologi sebuah pengantar, Tangerang:Mitra Sejahtera, 2008, Cet. I, hal. 47

[27] George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Jakarta; PrenadaMedia Group, 2004, Cet. I, ,hal 378

[28] doktrin yang berguna adalah baik, terutama seperti diuraikan oleh Jeremy Bentham dan James Mill, tujuannya adalah dikatakan kebahagiaan terbesar untuk jumlah terbesar

[29] kolot, bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi yg berlaku

[30] ke arah kemajuan, berhaluan ke arah perbaikan keadaan sekarang (tt politk)

[31] Nanich Mahendrawati dan Agus Ahmad Syafei, Pengembangan Masyarakat Islam, Bandung;Remaja Rosdakarya, 2001, Cet. I, hal.101-102

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: